April, 2018

now browsing by month

 

Review Novel Amore : Love; Interrupted

Judul            : Love, Interrupted

Penulis           : Maya Lestari GF

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka

Cetakan        : I, 2014

Jumlah Hal  : 272 Hal

ISBN             : 978 – 602 – 03 – 0423 – 6

Genre           : Amore, Romance

Pada awalnya membaca novel ini saya tidak berekspetasi apa-apa melihat di sampulnya tercetak dengan besar kata AMORE, meskipun saya mengenal nama maya Lestari Gf bukanlah penulis baru. Maya Lestari GF adalah penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Sejak tahun 1999, karya-karyanya, baik berupa cerpen maupun Artikel, telah dipublikasikan di berbagai media massa. Namun ini novel karya Maya Lestari GF yang say abaca, hingga membuat saya terus hunting buku-buku karya beliau lainnya.

Membaca novel karya Maya Lestari GF ini saya benar-benar dibuat terpukau. Mbak maya menawarkan sesuatu yang berbeda, Sesuatu hal yang bisa diambil untuk dibawa pulang sebagai pelajaran, bukan hanya kisah cinta yang diceritakan secara lebay seperti novel Amore pada umumnya yang saya baca.

Dari segi ide, saya mengakui bahwa ini mirip drama-drama Korea, salah satunya Full House, meski di drama ini mereka tidak dijodohkan. Nah di Love, Interrupted ini cerita bermula dari inisiatif orangtua Axel yang menjodohkannya dengan Aisha, gadis yatim piatu yang tidak dicintai Axel. Kemudian mereka membuat suatu kesepakatan sebelum pernikahan itu dilaksanakan, karena Axel memiliki seorang kekasih yang telah di pacarinya selama 6 tahun, Amelia.

Aisha yang memang pada dasarnya mencintai Axel menerima perjanjian itu, meski pada kenyataanya hatinya sungguh terluka. Melihat lelaki yang sudah sah menjadi suaminya, mengatakan dengan terang-terangan jika dia ingin melaksanakan pernikahan ini tidak seperti semestinya karena dia mencintai wanita lain.

Apakah lalu Aisha harus berdiam diri menunggu 1 tahun hingga kemudian Axel mencampakkannya? Tentu tidak. Disinilah plot disajikan dengan baik. Dan dibagian ini pulalah banyak pelajaran penting untuk para wanita.

Menikah itu butuh skill. Amelia tidak memilikinya. Tapi Aisha memiliki skill ini. (Love, Interrupted hal 267)

Ini pernyataan yang menyatakan bahwa untuk mencapai suatu pernikahan yang kuat dibutuhkan skill untuk merawatnya. Apakah semua instant begitu saja? Tentu tidak. Di dalam novel ini juga diceritakan bagaimana Aisha berjuang keras menyusun hidupnya, menulis target-target yang ingin dicapainya hingga dia mencapai skill ini yang membuat Axel, suaminya, bisa mencintainya tanpa paksa.

Love, Interrupted Hal 78

Wajar bukan jika para wanita berjuang untuk membahagiakan suaminya hingga sang suami mencintainya tanpa berpaling lagi kepada wanita lain?

Aisha melakukannya, karena dia menyadari jika dia hanya meratapi nasibnya itu tidak akan berguna. Dia bertekad merebut hati suaminya dari Amelia. Rencana disusun. Semuanya berjalan dengan sempurna. Aisha yang pandai memasak hingga sahabat-sahabat dan keluarga Axel sangat menyukai masakannya. Aisha pandai meronce dari manik manik akirlik.  Aisha yang seorang penulis, photographer dan pemain piano yang berbakat. Aisha yang mengerti setiap kebutuhan Axel. Sampai pada suatu malam Axel melukis cinta ditubuh Aisha, yang itu berarti telah melanggar kesepakatan bersama pada poin satu. Namun tak ada yang mau membicarakanya terlebih Aisha mengetahui jika itu kemungkinan hanyalah kekhilafan Axel.

Selain plot yang sangat apik, karakter yang digambarkan penulis juga sangat hidup. Saya bisa menggambarkan sosok Aisha, Axel, Sandra dan beberapa tokoh utamanya dengan baik. Settingnya mengambil daerah Sumatra Barat, seperti pada tiga novel mbak Maya lainnya yang sudah saya baca. Sepertinya selain ingin mengenalkan Sumatra Barat, mbak Maya ingin mengajarkan pada kita untuk menulis setting dari daerah terdekat kita di mana kita berada sehari-hari.

Nah konfliknya bagaimana? Endingnya bagaimana? Selain konflik batin Aisha yang begitu terluka melihat kenyataan bahwa Axel tidak menaruh hati padanya disampaikan hampir disetiap bab. Aisha yang jatuh bangun menambal hatinya agar tidak benar-benar terluka menghadapi kenyataan bahwa Axel tidak menginginkannya.  Konflik yang benar-benar membuat pembaca akan terrbawa secara emosi justru ditaruh di dua bab terakhir. Di sinilah pembaca seolah ditunjukkan bahwa seorang lelaki itu mempunyai ego tersendiri. Sebuah ego yang harus dipahami para wanita pendamping hidupnya. Konflik yang benar-benar membuat saya kesal karena Axel berdalih melupakan semua kesepakatan yang telah dibuatnya, seolah dia tidak ingin terlalu disalahkan atas semua yang terjadi.

 

Lalu apakah Aisha mampu menaklukan hati Axel? Pada novel-novel karya Maya lestari GF, saya selalu disuguhi bahwa sesuatu yang telah kamu usahakan sungguh-sungguh maka kamu akan menuai yang baik. bahwa seterpuruk apapun dirikita saat ini, kita harus memeprjuangkannya dan akan ada hasil yang akan emngikutinya meskipun terlihat mustahil. Novel-novel Maya selalu mengajak kita optimis meraih impian kita inginkan. Novel yang recommended banget untuk dibaca hingga kita bisa mengambil pesan yang ingin penulis sampaikan. (end)

 

 

 

 

Lelaki Itu

Mati aku, batin Liwa. Tangan kanannya menepuk jidat. Dia segera berbalik arah, berniat kembali ke gerbang univeritas. Namun Liwa tersadar, 10 menit telah berlalu. Tak mungkin lelaki itu masih menunggunya di sana.

Jemari-jemari liwa bergerak pelan memijit-mijit keningnya yang terasa pening. Sungguh memalukan, rutuk Liwa dalam hati. Dia mencoba mengingat-ingat ciri-ciri lelaki itu, mengendarai motor vario CBS warna merah.  Helm berwarna merah hati dengan merk 3 suku kata menutup kepalanya. Wajahnya masih terlihat muda, berkulit hitam manis, hidungnya mancung. Senyumnya ramah saat bertanya untuk memastikan kembali tempat yang dituju. Liwa tak sempat mengamati postur tubuh yang dibalut Jaket berwarna hitam pada bagian dasar, di bagian punggung yang berwarna hijau bertuliskan nama sebuah ojek online yang terkenal di negeri ini.

Kuliah telah usai. Sepatu fantofel warna merah maroon yang terlihat manis di kaki Liwa terayun melangkah keluar gerbang. Ujung kerudung bermotif bunga-bunga dengan warna dasar baby pink melambai-lambai tertiup angin.  Kerudung itu terlihat serasi dengan gamis berwana dusty pink polos yang dikenakannya.

Liwa menyandarkan tubuh 165 cmnya di depan tembok gerbang universitas. Bangunan gedung di belakangnya tampak menjulang. Bangunan tempat Liwa menimba ilmu selama dua tahun lebih.  Jemari Liwa menekan satu fitur di halaman gawai. Hari ini dia harus rela untuk memakai moda transportasi umum. Ayah Liwa yang biasa mengantarkannya sedang ada urusan ke luar kota. Hanya perlu satu detik, pesananya mendapat respon. Dan dalam hitungan sekian menit sebuah motor yang dikenalnya mendekat. Tiba-tiba wajah Liwa memias. Liwa ingat betul wajah yang sekarang duduk manis di atas motor vario warna merah, meski tidak mengenakan jaket kebesaran. Lelaki yang sama yang mengantarkannya tadi pagi. Apakah lelaki itu juga kuliah di sini.?Wajah Liwa benar-benar memerah menahan rasa malu. Pikirannya melayang saat tadi pagi dengan spontan meraih tangan lelaki itu, menciumnya dan berlari meninggalkannya sambil berpesan untuk hati-hati. Tadi pagi, Liwa mengingat lelaki itu sebagai ayahnya. (end)

Dipertigaan Jalan pada Suatu Pagi

Pertigaan jalan menuju kecamatan pagi ini macet. Orang-orang berkerumun. Sebagian mulut orang-orang yang berada di sana berbisik-bisik satu sama lain. Ada juga yang terang-terangan mengumpat. Hari masih terbilang pagi, matahari belum begitu meninggi. Lalulintas yang lalu lalang di pertigaan jalan itu sedang ramai-ramainya. Ibu-ibu yang memboncengkan anaknya menuju sekolah, bapak-bapak yang terlihat necis, sepertinya akan berangkat kerja. Namun, pagi itu mereka berhenti menonton keributan yang terjadi.

Di salah satu sudut pertigaan itu berdiri sebuah warung dengaan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap seng. Bangunannya cukup luas  dan pengunjungnya juga selalu ramai. Beberapa menu camilan terhidang di atas meja kayu yang dialasi plastik bercorak warna biru. Dua buah bangku kayu memanjang. Ada dua toples kerupuk yang masing-masing menggantung di tiang penopang warung.  Bapak-bapak biasanya banyak yang duduk di sana setiap pagi untuk sekedar ngopi atau sarapan. Dan pagi ini, gelas-gelas yang masih menguarkan asap panas, piring-piring berisi nasi uduk ataupun lontong terlihat ditinggalkan begitu saja oleh penikmatnya. Warung sepi. pemilik dan pengunjung warung semuanya berhamburan ke jalan.

“Dasar wanita gila,” umpat salah seorang lelaki berkumis, dengan tubuh buntal berpakaian batik.

“Kasihan wanita itu. Pasti frustasi dengan masalahnya,” salah seorang lagi berkata takut-takut.

“Orang mana sih? Sepertinya bukan waga desa sini.” Suara yang lain menyelidik penuh ingin tahu.

“Dasar gila. Kalau mau mati jangan bawa orang lain mati. Kalau mau bunuh diri gantung aja di kelapa sawit sana.” Ujar seorang lelaki berbadan tegap, berkulit gelap. Tangannya berkacak pinggang. Sepertinya dia sopir truk yang kini truknya berdiri angkuh di depan wanita yang dicacinya.

Wanita berkerudung biru, ah lebih tepatnya tidak berkerudung. Wanita itu hanya menyelempangkan shal warna biru begitu saja di kepalanya. Poninya tampak menyembul. Wanita berbaju kemeja kotak-kotak warna biru, dibalut celana jeans warna biru dongker itu hanya tertunduk. Dia terlihat masih muda sekitar 26 tahun. Tingginya sekitar 160 cm, berkulit kuning langsat. Rambut hitam panjangnya tergerai dari balik shal warna biru, melambai di punggungnya. Wanita itu terlihat sempurna secara fisik.

Akhirnya kerumunan bubar. Semua kembali pada keperluannya masing-masing. Pengunjung warung yang tadi meninggalkan santapannya kembali duduk di kursi kayu yang memanjang. Menyesap kopi atau teh dalam diam. Pikiran mereka sepertinya mengembara, menerka-nerka alasan wanita muda itu inin menabrakkan dirinya dengan truk yang sednag melaju.

Tak lama wanita yang mereka pikirkan masuk ke warung, duduk, memesan segelas teh hangat dan semanguk mie rebus. Enam pasang mata memperhatikan wanita itu dengan seksama. Namun, wanita itu asyik dengan dunianya. Sebuah buku tulis terbentang di hadapan, pena berwarna hitam terselip dijemarinya. Wanita itu  sepertinya sednag merenungkan sesuatu, ketika kemudian pesanannya datang. Tangannya perlahan menyendok mie yang masih mengepulkan asap panas.  Bergantian menyesap teh hangat. Setelah semua tandas disantap, tangannya menari diatas buku. Kemudian beranjak, membayar pesanan. Dan meninggalkan warung tepat jam 10.00 Wib. Tak lama kemudian dia menghilang dibawa minibus antar kecamatan.

“Kamu kenal wanita itu, Yu?” tanya salah satu pengunjung yang mengenakan kaos oblong warna putih. Di depannya segelas kopi yang tinggal ampasnya.

“Nggak juga, Kang. Hanya saja sudah lebih dari seminggu dia setiap pagi ke warung ini, duduk terdiam mengamati jalan. Kemudian mencatat sesuatu. Setelahnya memesan teh dan semangkuk mie. Terkadang mie rebus, terkadang mie goreng. Dan tepat jam sepuluh pagi dia akan meninggalkan warungku ini. Selalu seperti itu.”

“Dia sepertinya terlihat tenang, mengapa dia mau bunuh diri ya, Yu?” tanya laki-laki itu lagi.

“Nggak tahu juga, Kang. Eman-eman, cantik-cantik kok stress. Tapi dari wajahnya dia nggak terlihat stress. Coba besok saya tanyain kalau datang lagi.”

Akhirnya mereka sama-sama. Satu persatu pengunjung warung sudah beranjak pergi.

***

Wanita itu datang lagi keesokan harinya ke warung. Kali ini langsung memesan mie goreng dan secangkir kopi. Lain daripada biasanya.

Pemilik warung yang masih muda sekitar 40 tahun itu memandang wanita itu lekat-lekat. Seolah ragu utnuk bertanya. Bibirnya bergerak-gerak.

“Mbaknya orang mana?” akhirnya pertanyaan itu meluncur dari pemilik warung.

“Dari kota. Tapi sementara saya indekost di rumah dekat kecamatan sana.” Wanita itu menjawab dengan ramah, namun terdengar kaku.

“Kemarin kamu hampir membuat celaka semua orang. Apa maksudmu melakukan itu?” Pemilik warung sudah tidak bisa menyembunyikan keherananya atas tindakan yang dinilai bodoh itu. Wanita itu tidak menjawab. Pemilik warung kemudian jengah dan  kembali diam.

***

Lima hari sudah, wanita itu tidak datang ke warung Yu Nah. Namun, para pengunjung warung sesekali masih membicarakannya.

“Jadi sudah kamu tanyakan alasannya mengapa dia melakukan tindakan konyol itu, Yu?” tanya lelaki berkumis tipis dengan kepala botak yang memakai kaos oblong warna putih.

“Sudah Kang.”

“Lalu apa alasannya?”

“Dia bilang, dia seorang penulis dan sedang melakukan riset.”

Lelaki berkumis tipis itu diam tak mengerti. Begitupun dengan pemilik warung, Yu Nah. Akhirnya mereka saling berdiam. Warung pun sunyi. (End)

#KelasFiksiODOP5

#OneDayOnePost