Perempuan dalam Cerita

“Sudahlah, nggak perlu menangis. Itu hanya rekayasa sutradara,” suara lelaki itu sedikit kesal melihat Nuri melelehkan airmata melihat sebuah tayangan di televisi. Nuri lalu mengusap airmatanya yang sempat jatuh membasahi pipi. Kemudian tersenyum malu pada lelaki yang duduk di sebelahnya dan beranjak menuju dapur. Tangannya perlahan  menuang air putih dari teko, meneguk perlahan. Nuri menarik nafas dalam-dalam. Acara bedah rumah yang ditayangkan televisi selalu mengoyak hatinya, membayangkan jika kehidupan yang paling memprihatinkan itu terjadi padanya. Tidur beralas tikar di lantai tanah, beratap langit-langit genteng yang berlubang di sana-sini, kedinginan dan basah ketika hujan. Makan seadanya. Oh Tuhan, betapa Nuri merasa harus lebih banyak bersyukur dengan keadaan dirinya kali ini, meski tidak berlebih, tetapi dia dan anak-anak masih merasa nyaman ketika ingin beristirahat.

Lelaki itu pun masih tak mengerti dengan perempuannya, Nuri.  Matanya menatap televisi yang sedang menayangkan film, namun  pikirannya mengembara. Mungkinkah sebegitu rapuh hati perempuan atau itu pertanda bahwa hati perempuan begitu lembut hingga begitu mudah menangis? Bukan sekali ini saja lelaki itu menemukan Nuri meneteskan airmata. Kadang menonton film, membaca buku atau ketika menahan gejolak amarah yang memuncak, airmatanya akan mengalir. Aneh, sungguh aneh. Namun, lelaki itu sungguh mencintai perempuan itu. Perempuan dengan tinggi sekitar 159 cm, berkulit sawo matang. Jika tersenyum, lesung pipit akan terlihat di pipinya . Nuri yang memiliki banyak kosakata romantis. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya mampu membuat lelaki itu selalu merasa nyaman, merasa dicintai, membuatnya selalu jatuh cinta meski ratusan purnama telah mereka lalui bersama dan tak pernah ingin terpisah jarak.

Lelaki itu beranjak. Ujung ibu jemarinya menekan tombol off pada remote, berjalan menuju dapur. Matanya menatap tangan cekatan Nuri menari-nari di antara piring kotor yang berbusa. Terkadang lelaki itu akan mendengar nyanyian merdu dari bibir perempuan itu ketika sedang melakukan aktifitas di dapur.  Kembali mata lelaki itu menatap seksama punggung Nuri yang terlihat tak pernah rapuh.

“Tunggu ya, Mas. Tinggal sedikit ini.” Nuri berkata sambil menoleh sejenak kepada lelaki itu. Malam telah beranjak. Gelap temaram cahaya menatap rumah yang terkadang terdengar riuh gelak tawa atau tangis anak-anaknya.

***

“Cepat ke ruangan saya,” pesan itu muncul dari salah satu aplikasi chatting perusahaan  di layar laptop Nuri ketika baru saja berhasil dinyalakan. Tiba-tiba tubuhnya menegang. Rona wajahnya terllihat memucat dan resah. Degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pasti ada yang tak beres,  begitu batin Nuri. Kakinya dengan berat melangkah menuju ruangan boss. Hembusan angin dingin menyambut ketika tubuhnya yang berbalut kerudung dan baju lebar memasuki ruangan.

Perempuan itu duduk, menatap sekilas lelaki perlente yang masih menekuri laptop di hadapannya. Dia mencoba rileks, meski tak mudah. Dia tahu bagaimana tipe bossnya, wejangan tanpa henti jika benar dia tertangkap melakukan kesalahan. Ruangan berukuran 2×2 meter itu semakin terasa menyesap darahnya.

“Saya ingin tahu apa alasannya hingga kita tidak bisa membeli ke supplier B. Bukankah sudah hampir seminggu segala dokumennya diurus?” Lelaki perlente di hadapan Nuri menatapnya  tajam, seolah ingin menguliti hingga tulang belulang. Nuri mencoba menjelaskan dengan seksama, tetapi lelaki perlente itu tetap tidak menerima alasan apapun. Nuri selalu tidak suka jika ada orang yang pura-pura tuli mendengarkan alasan mengapa sesuatu itu  terjadi. Bagi Nuri, semua hal yang terjadi selalu ada alasannya. Setelah dua jam berlalu, Nuri keluar dari ruangan penyesap darah dengan wajah kusut masai. Pikirannya porak poranda. Benar-benar kata negatif yang terlontar dari mulut lelaki perlente itu terasa  telah memutuskan ratusan  syaraf-syaraf otaknya.

Nuri kembali ke kubikelnya, menghela nafas dalam-dalam. Kemudian dia tepekur  menatap layar laptop, membaca satu persatu email yang masuk, mengirim balasan jika itu memang ditujukan untuknya. Sesekali helaan nafas beratnya masih terdengar. Nasehat boss yang terdengar begitu panas masih terngiang-ngiang di telinga. Kubikel abu-abu hanya mampu menatapnya bisu.

Bel jam 17.00 wib telah berdentang. Nuri segera berkemas, mengucapkan pamit kepada beberapa temannya yang masih lembur. Kakinya menapak dengan penuh semangat karena lelaki tercinta tidak lama akan menjemput.

“Bu Nuri,” terdengar seseorang memanggil namanya saat kaki hendak melangkah keluar pintu gerbang. Perempuan itu menoleh, seorang petugas keamanan menatap sedikit garang sambil menunjuk bagian kakinya. Mata perempuan itupun mengikuti arah telunjuk petugas keamanan dan tubuhnya serasa lemas. Dia lupa menukar sepatu kerja dengan sepatunya sendiri. Lunglai sudah membayangkan harus kembali ke ruang kerja di lantai 4. Terasa sangat berat. Perlahan kakinya menapaki satu persatu anak tangga yang berjumlah 60 untuk mencapai ruangan. Tubuhnya berpeluh dan nafas yang terdengar ngos-ngosan. Setelah menukar sepatu, kini dia harus kembali menuruni 60 anak tangga. Kaki kembali perlahan melangkah. Betisnya mulai terasa ngilu, meski sudah lebih dari lima tahun dia melewati puluhan anak tangga ini. Tapi tentang lupa ganti sepatu kali ini, sungguh membuatnya lelah beberapa kali lipat dari biasanya.

Diseretnya kaki menuju lelaki yang telah menunggu di tempat parkir. Senyum lelaki itu sedikit menguarkan rasa lelah yang sempat menggayut. Hari yang melelahkan, bisik Nuri pada lelakinya. Kemudian dia naik ke atas boncengan, memeluk erat pinggang lelakinya yang melajukan motor dengan tenang.

Dalam perjalanan pulang di antara padatnya jalanan, Nuri melukis alur dalam kepalanya yang kelak akan dia tuangkan dalam rangkaian kata-kata. Rencananya tulisan itu akan diberi judul “Perempuan dalam Cerita”. (end)

#TantanganDeskripsiAku
#TantanganKelasFiksi
#ODOP5

20 thoughts on “Perempuan dalam Cerita

  1. terimakasih, Mbak leska.
    ketje badai, semoga suatu hari nanti. Kita awali dengan belajar sungguh-sungguh.

  2. Mbak wid… Deskripsimu cantik banget… Keren.. Aku masih harus belajar lebih keras lagi keknya biar bisa keren gitu juga..😍

Leave a Reply

Your email address will not be published.