Dipertigaan Jalan pada Suatu Pagi

Pertigaan jalan menuju kecamatan pagi ini macet. Orang-orang berkerumun. Sebagian mulut orang-orang yang berada di sana berbisik-bisik satu sama lain. Ada juga yang terang-terangan mengumpat. Hari masih terbilang pagi, matahari belum begitu meninggi. Lalulintas yang lalu lalang di pertigaan jalan itu sedang ramai-ramainya. Ibu-ibu yang memboncengkan anaknya menuju sekolah, bapak-bapak yang terlihat necis, sepertinya akan berangkat kerja. Namun, pagi itu mereka berhenti menonton keributan yang terjadi.

Di salah satu sudut pertigaan itu berdiri sebuah warung dengaan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap seng. Bangunannya cukup luas  dan pengunjungnya juga selalu ramai. Beberapa menu camilan terhidang di atas meja kayu yang dialasi plastik bercorak warna biru. Dua buah bangku kayu memanjang. Ada dua toples kerupuk yang masing-masing menggantung di tiang penopang warung.  Bapak-bapak biasanya banyak yang duduk di sana setiap pagi untuk sekedar ngopi atau sarapan. Dan pagi ini, gelas-gelas yang masih menguarkan asap panas, piring-piring berisi nasi uduk ataupun lontong terlihat ditinggalkan begitu saja oleh penikmatnya. Warung sepi. pemilik dan pengunjung warung semuanya berhamburan ke jalan.

“Dasar wanita gila,” umpat salah seorang lelaki berkumis, dengan tubuh buntal berpakaian batik.

“Kasihan wanita itu. Pasti frustasi dengan masalahnya,” salah seorang lagi berkata takut-takut.

“Orang mana sih? Sepertinya bukan waga desa sini.” Suara yang lain menyelidik penuh ingin tahu.

“Dasar gila. Kalau mau mati jangan bawa orang lain mati. Kalau mau bunuh diri gantung aja di kelapa sawit sana.” Ujar seorang lelaki berbadan tegap, berkulit gelap. Tangannya berkacak pinggang. Sepertinya dia sopir truk yang kini truknya berdiri angkuh di depan wanita yang dicacinya.

Wanita berkerudung biru, ah lebih tepatnya tidak berkerudung. Wanita itu hanya menyelempangkan shal warna biru begitu saja di kepalanya. Poninya tampak menyembul. Wanita berbaju kemeja kotak-kotak warna biru, dibalut celana jeans warna biru dongker itu hanya tertunduk. Dia terlihat masih muda sekitar 26 tahun. Tingginya sekitar 160 cm, berkulit kuning langsat. Rambut hitam panjangnya tergerai dari balik shal warna biru, melambai di punggungnya. Wanita itu terlihat sempurna secara fisik.

Akhirnya kerumunan bubar. Semua kembali pada keperluannya masing-masing. Pengunjung warung yang tadi meninggalkan santapannya kembali duduk di kursi kayu yang memanjang. Menyesap kopi atau teh dalam diam. Pikiran mereka sepertinya mengembara, menerka-nerka alasan wanita muda itu inin menabrakkan dirinya dengan truk yang sednag melaju.

Tak lama wanita yang mereka pikirkan masuk ke warung, duduk, memesan segelas teh hangat dan semanguk mie rebus. Enam pasang mata memperhatikan wanita itu dengan seksama. Namun, wanita itu asyik dengan dunianya. Sebuah buku tulis terbentang di hadapan, pena berwarna hitam terselip dijemarinya. Wanita itu  sepertinya sednag merenungkan sesuatu, ketika kemudian pesanannya datang. Tangannya perlahan menyendok mie yang masih mengepulkan asap panas.  Bergantian menyesap teh hangat. Setelah semua tandas disantap, tangannya menari diatas buku. Kemudian beranjak, membayar pesanan. Dan meninggalkan warung tepat jam 10.00 Wib. Tak lama kemudian dia menghilang dibawa minibus antar kecamatan.

“Kamu kenal wanita itu, Yu?” tanya salah satu pengunjung yang mengenakan kaos oblong warna putih. Di depannya segelas kopi yang tinggal ampasnya.

“Nggak juga, Kang. Hanya saja sudah lebih dari seminggu dia setiap pagi ke warung ini, duduk terdiam mengamati jalan. Kemudian mencatat sesuatu. Setelahnya memesan teh dan semangkuk mie. Terkadang mie rebus, terkadang mie goreng. Dan tepat jam sepuluh pagi dia akan meninggalkan warungku ini. Selalu seperti itu.”

“Dia sepertinya terlihat tenang, mengapa dia mau bunuh diri ya, Yu?” tanya laki-laki itu lagi.

“Nggak tahu juga, Kang. Eman-eman, cantik-cantik kok stress. Tapi dari wajahnya dia nggak terlihat stress. Coba besok saya tanyain kalau datang lagi.”

Akhirnya mereka sama-sama. Satu persatu pengunjung warung sudah beranjak pergi.

***

Wanita itu datang lagi keesokan harinya ke warung. Kali ini langsung memesan mie goreng dan secangkir kopi. Lain daripada biasanya.

Pemilik warung yang masih muda sekitar 40 tahun itu memandang wanita itu lekat-lekat. Seolah ragu utnuk bertanya. Bibirnya bergerak-gerak.

“Mbaknya orang mana?” akhirnya pertanyaan itu meluncur dari pemilik warung.

“Dari kota. Tapi sementara saya indekost di rumah dekat kecamatan sana.” Wanita itu menjawab dengan ramah, namun terdengar kaku.

“Kemarin kamu hampir membuat celaka semua orang. Apa maksudmu melakukan itu?” Pemilik warung sudah tidak bisa menyembunyikan keherananya atas tindakan yang dinilai bodoh itu. Wanita itu tidak menjawab. Pemilik warung kemudian jengah dan  kembali diam.

***

Lima hari sudah, wanita itu tidak datang ke warung Yu Nah. Namun, para pengunjung warung sesekali masih membicarakannya.

“Jadi sudah kamu tanyakan alasannya mengapa dia melakukan tindakan konyol itu, Yu?” tanya lelaki berkumis tipis dengan kepala botak yang memakai kaos oblong warna putih.

“Sudah Kang.”

“Lalu apa alasannya?”

“Dia bilang, dia seorang penulis dan sedang melakukan riset.”

Lelaki berkumis tipis itu diam tak mengerti. Begitupun dengan pemilik warung, Yu Nah. Akhirnya mereka saling berdiam. Warung pun sunyi. (End)

#KelasFiksiODOP5

#OneDayOnePost

18 thoughts on “Dipertigaan Jalan pada Suatu Pagi

Leave a Reply

Your email address will not be published.