August, 2018

now browsing by month

 

Review Novel 19+ karya Boim Lebon : Saya Terima Rotinya, eh Nikahnya

Judul Novel   : 19+

Penulis           : Boim Lebon

Penerbit         : Pastel Books

Cetakan         : Pertama, June 2015

Genre             : Roman komedi

ISBN              : 978-602-7870-98-7

 

Siapa yang tidak kenal dengan Boim Lebon? Boim Lebon adalah seorang penulis komedi, bahasa tulisannya selalu ringan, mudah dicerna dan yang paling penting pesan yang ingin disampaikan dalam setiap tulisannya itu ngena banget tetapi tidak ada kesan menggurui.

Buku 19+ saya temukan tidak sengajan di Ipusnas. Kalau membaca judulnya, wah kita pasti berpikiran sedikit aneh ya? Usia 19+ memang usia yang paling mengasyikkan karena biasanya pada usia tersebut kita sedang semangat-semangatnya mengejar cita-cita, bermimpi yang indah tentang pasangan hidup atau pernikahan.

Begitu juga dalam novel 19+ ini, baim dengan bahasa tutur yang ringan, bahasa yang bagi saya seolah-olah terasa jika Baim sedang bercerita di depan saya secara langsung. Komedi yang disispkan dalam setiap cerita juga terasa pas, tidak lebay dan manusiawi.

Di novel 19+ ini sendiri menceritakan seorang gadis bernama Fida, mahasiswa Fakultas Komunikasi di universitas Batavia. Usianya 19 tahun. Dia seorang gadis cantik yang tidak malu untuk menjadi pedagang roti, roti istiqomah. Tak jarang karena kecantikannya dan dia sering berada di jalanan, banyak lelaki yang tertarik untuk mengenalnya, bahkan pada suatu hari seorang cowok yang turun dari mini cooper memborong kuenya dan mengajaknya berpacaran. Fida yang mempunyai tekad untuk menikah tanpa pacaran, tentu saja menolak mentah-mentah ajakan cowok iseng tersebut.

Alasan Fida untuk berjualan roti istiqomah yang dititipkannya di warung-warung yang dia lewati sepanjang perjalanan ke kampus Batavia adalah tentu saja untuk membantu keuangan bapaknya yang hanya seorang pensiunan PNS. Ibu Fida sendiri sudah meninggal saat dia masih kecil.

Keinginan Fida untuk menikah di usia 19 tahun tentu saja diamini oleh ayahnya yang juga membantu mencarikan jodoh terbaik untuk Fida. Hingga pada suatu hari karena sebuah kecelakaan, Fida harus menolong seorang nenek yang akan pergi ke rumah cucunya dan itu mengantarkan Fida harus bertemu dengan Sairaji yang kemudian menjadi teman baiknya. Fida merasa kalau mereka saling menyukai hingga akhirnya Fida mengetahui kebenarannya. Apakah itu? Apakah Fida akhirnya menikah di usia 19 tahun dengan Sairaji? Ataukah Fida bisa membuat impiannya itu menjadi kenyataan?

Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang ke tiga. Ada rasa nano-nano saat membacanya. Ketawa, sedih, gemes. Namun membaca novel yang tidak terlalu tebal ini saya bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan Boim Lebon salah satunya adalah mengajari kita untuk tidak gengsi, karena itu adalah pekerjaan halal. Mengajari para lajang untuk tidak berpacaran, menjalin silaturahim, memakmurkan masjid, mengaji, mencari ilmu dan masih ada banyak amanah lagi yang bisa diambil dari novel ini, dah bagusnya novel ini disajikan dengan bahasa yang santai. Novel ini semacam kritik sosial yang ingin disampaikan Boim lewat kata-kata.

Point 4/5 saya sematkan untuk novel ini. Bagi yang penasaran ingin tahu akhir kisa Fida boleh cari di ipusnas. Selamat membaca.

Review Novel Wulanfadi : R

Judul               : R (Raja, Ratu dan Rahasia)

Penulis            : WulanFadi

Penerbit         : Best Media

Tahun Terbit   : Cetakan Pertama, April 2016

ISBN                : 978-602-6940-26-1

Genre            : Teenlit

 

Dua judul novel Wulanfadi yang saya ketahui,  judulnya memang unik, “A” dan “R”. A sendiri saya tonton filmnya, sedang novel R baru saya baca beberapa waktu yang lalu, Novel yang saya temukan di salah satu deret koleksi di rak perpustakaan mini milik kakak.

A dan R, saya rasa memiliki banyak kesamaan dari ide, alur dan ending. Novel tentang remaja SMA yang sedang jatuh cinta. Settingnya tentu saja tak jauh-jauh dari rumah, sekolah atau mall. Di film A yang saya tonton, ending cerita sudah ketebak, terus konflik-konflik yang ditawarkan seperti cerita cerita FTV pada umumnya.

Judul R sendiri adalah akronim dari Raja, Ratu dan Rahasia. Berkisah tentang Ratu yang dtinggal pergi selama-lamanya oleh kedua orangtuanya dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ratu berkenalan dengan Raja karena kakaknya Ratu, Reon, menitipkan Ratu ke Raja setelah pulang sekolah karena dia harus bekerja dan terkadang harus lembur hingga larut malam. Raja sendiri adalah anak sahabat orangtua Ratu dan Reon.

Pada awalnya hubungan Ratu dan Raja terlihat kaku, namun ternyata masing-masing saling jatuh cinta. Raja sendiri adalah cucu pemilik SMU Adhi Wijaya di mana Ratu dan Raja bersekolah. Sedang ibi Raja adalah ketua yayasan SMU Adhi Wijaya. Di sekolah Adhi Wijaya ada sebuah Perkumpulan Rahasia. Reon sendiri dulu pernah menjadi ketuanya. Ratu yang saat itu sudah berstatus resmi menjadi pacar Raja, secara diam-diam menjadi anggota Perkumpulan Rahasia  tersebut. Sedangkan Raja terlihat antipati dan membenci Perkumpulan Rahasia karena pernah perkumpulan itu pernah mencoreng nama baik SMU Adhi Wijaya. Sebagai cucu pemilik SMU tersebut Raja merasa harus ikut mempertahankan nama baik  SMU AdhiWijaya.

Suatu hari hubungan Raja dan Ratu menjadi renggang karena Ratu yang merahasiakan keanggotaanya di Perkumpulan Rahasia. Hingga kemudian Ratu berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyimpan hal-hal penting termasuk kepada ibu Raja.

Novel ini secar umum sangat menghibur. Dan saya acungkan jempol karena Wulanfadi mampu merangkai kata dengan sangat mengalir  dan tidak membosankan.

Namun ada beberapa hal yang ingin saya garis bawahi di sini, seperti kematian Reon. Di novel ini tidak digambarkan bagaimana keadaan Reon. Tidak ada Clue dari awal yang akan menjadi benang merah kematian Reon. Di novel ini, Reon hanya digambarkan mengantar jemput Ratu tanpa digambarkan bagaimana keadaan Reon secara fisik. Jadi ketika di bab kematian Reon, hati saya bertanya, mengapa seperti ini?

Selain itu, di bab paling akhir, di Venecia. Mengapa dia awal tidak disebutkan atau ada benang merah, impian Raja dan Ratu untuk mengunungi Venecia pada suatu hari nanti? Jika semua adegan dibuat secara tiba-tiba seperti ini meskipun settingnya terdengar mewah, namun bagi saya justru  membuat nilai tulisan itu sendiri berkurang.

Kemudian jika WulanFadi lebih bisa mengeksplor , mendeskrespsikan bagaimana perasaanya Ratu dan Raja saat mereka belum jadian dan saat mereka harus berpisah jarak, mungkin novel ini akan lebih mak nyus.

Anyway, soal genre bacaan dan gaya bahasa adalah soal selera. Secara umum novel ini dapat dinikmati dengan baik dan bisa dijadikan salah satu referensi bacaan menghibur di sela kesibukan Anda. Selamat membaca.

Selamat Jalan Reza

Baca kisah Reza sebelumnya di sini : http://wiwid-nurwidayati.blogspot.com/2018/02/tentang-reza.html

Berita itu akhirnya sampai di telinga suami. Malam hari tadi beliau pulang dari kerja dengan wajah mendung yang gelap. Aku yang masih asyik di depan leptop hanya menatapnya, ketika tak seberapa lama kemudian dia mendekat dan memberitahu kabar itu. Reza pergi untuk selama-lamanya.

Reza adalah keponakanku, dia anak pertama kakak ipar. Usianya 24 tahun kini. Namun, tubuhnya hanya bisa berbaring di ranjang, tak bisa menggerakkan apa-apa kecuali kepala yang hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri, atau suaranya yang terdengar seperti teriakan.

Beberapa hari yang lalu suami sempat menengok ke Rumah Sakit Daerah Tanjung Pinang , saat kakak mengabarkan jika Reza masuk rumah sakit karena sudah tidak bisa menelan makanan seperti biasanya. Sebenarnya bukan berita yang mengejutkan, namun tetap saja kami merasa kehilangan. Pertama kali dulu kakak menyadari kelainan penyakit yang diderita Reza, dokter mengatakan jika Reza tidak akan berumur panjang, mungkin hanya sampai 25 tahun.

Dan Hari ini, Sabtu, 18 Agustus 2018 Reza meninggalkan kami selama-lamanya. Meski firasat ini telah terasa saat pertama kali kakak mengabari kami jika Reza tidak bisa lagi menelan makan seperti biasanya, tetap saja kami kehilangan. Rasa sedih menggelayut, mengingat binar matanya yang selalu terlihat bahagia saat kami datang ke rumahnya.

Dan nanti, ketika hari raya tiba saat kami berkumpul di rumah kakak, tidak ada lagi sambutan dari Reza dengan jeritan-jeritannya. Sepi.

Selamat jalan Reza, tempat terbaik bagimu kudoakan. Yang pasti, kau akan lebih bahagia di sana.