Review Novel 19+ karya Boim Lebon : Saya Terima Rotinya, eh Nikahnya

Judul Novel   : 19+

Penulis           : Boim Lebon

Penerbit         : Pastel Books

Cetakan         : Pertama, June 2015

Genre             : Roman komedi

ISBN              : 978-602-7870-98-7

 

Siapa yang tidak kenal dengan Boim Lebon? Boim Lebon adalah seorang penulis komedi, bahasa tulisannya selalu ringan, mudah dicerna dan yang paling penting pesan yang ingin disampaikan dalam setiap tulisannya itu ngena banget tetapi tidak ada kesan menggurui.

Buku 19+ saya temukan tidak sengajan di Ipusnas. Kalau membaca judulnya, wah kita pasti berpikiran sedikit aneh ya? Usia 19+ memang usia yang paling mengasyikkan karena biasanya pada usia tersebut kita sedang semangat-semangatnya mengejar cita-cita, bermimpi yang indah tentang pasangan hidup atau pernikahan.

Begitu juga dalam novel 19+ ini, baim dengan bahasa tutur yang ringan, bahasa yang bagi saya seolah-olah terasa jika Baim sedang bercerita di depan saya secara langsung. Komedi yang disispkan dalam setiap cerita juga terasa pas, tidak lebay dan manusiawi.

Di novel 19+ ini sendiri menceritakan seorang gadis bernama Fida, mahasiswa Fakultas Komunikasi di universitas Batavia. Usianya 19 tahun. Dia seorang gadis cantik yang tidak malu untuk menjadi pedagang roti, roti istiqomah. Tak jarang karena kecantikannya dan dia sering berada di jalanan, banyak lelaki yang tertarik untuk mengenalnya, bahkan pada suatu hari seorang cowok yang turun dari mini cooper memborong kuenya dan mengajaknya berpacaran. Fida yang mempunyai tekad untuk menikah tanpa pacaran, tentu saja menolak mentah-mentah ajakan cowok iseng tersebut.

Alasan Fida untuk berjualan roti istiqomah yang dititipkannya di warung-warung yang dia lewati sepanjang perjalanan ke kampus Batavia adalah tentu saja untuk membantu keuangan bapaknya yang hanya seorang pensiunan PNS. Ibu Fida sendiri sudah meninggal saat dia masih kecil.

Keinginan Fida untuk menikah di usia 19 tahun tentu saja diamini oleh ayahnya yang juga membantu mencarikan jodoh terbaik untuk Fida. Hingga pada suatu hari karena sebuah kecelakaan, Fida harus menolong seorang nenek yang akan pergi ke rumah cucunya dan itu mengantarkan Fida harus bertemu dengan Sairaji yang kemudian menjadi teman baiknya. Fida merasa kalau mereka saling menyukai hingga akhirnya Fida mengetahui kebenarannya. Apakah itu? Apakah Fida akhirnya menikah di usia 19 tahun dengan Sairaji? Ataukah Fida bisa membuat impiannya itu menjadi kenyataan?

Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang ke tiga. Ada rasa nano-nano saat membacanya. Ketawa, sedih, gemes. Namun membaca novel yang tidak terlalu tebal ini saya bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan Boim Lebon salah satunya adalah mengajari kita untuk tidak gengsi, karena itu adalah pekerjaan halal. Mengajari para lajang untuk tidak berpacaran, menjalin silaturahim, memakmurkan masjid, mengaji, mencari ilmu dan masih ada banyak amanah lagi yang bisa diambil dari novel ini, dah bagusnya novel ini disajikan dengan bahasa yang santai. Novel ini semacam kritik sosial yang ingin disampaikan Boim lewat kata-kata.

Point 4/5 saya sematkan untuk novel ini. Bagi yang penasaran ingin tahu akhir kisa Fida boleh cari di ipusnas. Selamat membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.