Review Novel Resign karya Almira Bastari

Judul               : Resign

Penulis            : Almira Bastari

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Cetakan Keempat, Februari 2018

Halaman         : 288 halaman; 20 cm

ISBN                : 9786020380711, 9786020380728 (Digital)

Genre               : Metropop

 

Pertama kali melihat buku ini di bagian buku laris di lapak bukukita.com saya sudah berjanji untuk menjadikannya bagian dari salah satu koleksi pribadi untuk memenuhi rak buku saya. Dan olala…..saat mulai membaca  di paragraph pertama, tulisan ini telah menyedot perhatian saya  hingga dan langsung ingin saya selesaikan dalam sekali duduk. Buku ini pertama kali saya baca dalam rentang waktu kurang lebih 3,5 jam – 4 jam, tentu saja ada interupsi kecil-kecil dari anak-anak atau dari tubuh saya sendiri. Malangnya lagi, buku ini seperti memotret kisah saya dan teman-teman di kantor khususnya team Schneider, asli 75%- 80% kejadian di novel ini mirip sekali. Terus selebihnya kemana? Karena novel ini sejatinya novel roman, jadi di kantor tempat saya kerja justru tak ada sama sekali kisah roman-romannya dengan Si Boss. Ya iyalah, secara boss kami saja sudah menikah dan istrinya duduk di sebelah kubikelnya setiap hari. Juga project kerja yang kita pegang tentu saja bukan bagian dari sebuah perusahaan konsultan tetapi perusahaan yang bergerak dibidang industri manufacture. Namun sepertinya jenis pekerjaannya hampir sama, seorang analis.

Membaca buku ini saya juga kemudian teringat dengan bukunya mbak Titi Sanaria, yang berjudul Dirt on My Boots, konteks ceritanya hampir mirip. Kisah dengan latar kantor dan konflik-konflik yang berurusan dengan bos hingga menyebabkan ingin resign. Hanya saja buku mbak Titi Sanaria bergenre city lite, isinya terasa lebih berani karena kontennya sebagian besar diperuntukkan bagi pembaca berusia 18+ atau lebih baik yang sudah memiliki pasangan sah. Konten untuk 18+ ini bukan berarti novel Dirt On My Boots menampulkan adegan-adegan seronok atau vulgar, namun hal-hal yang terasa untuk “18+” itu hanya digambarkan secara guyonan sesama teman kantor. Sedang pada novel Resign, saya tidak membaca sedikitpun adegan – adegan yang perlu disensor. Novel Resign bersih untuk ukuran genre Metropop, hanya sekali di sebutkan sentuhan di bahu yang secara implisit tidak disengaja, atau tatapan mata, tidak lebih dari itu.

Seburuk-buruknya bos , suatu saat ada baiknya juga, walau setitik “– Cungpret yang tetap (Bab Kebikan bos!)

Memang bekerja dengan orang lain dan berstatus sebagai bawahan, kita tidak pernah mengetahui nasib kita akan seperti apa saat pertama kali masuk ke ruangan kerja. Mendapat atasan yang baik dengan gaji standard, atau bos yang “kejam” dengan gaji yang memuaskan, atau lebih memilukan lagi gaji dibawah standard dengan bos kejam. Meski benar jika kita semua memiliki  sifat baik dan sifat buruk, hanya saja manakah sifat yang lebih banyak kita tonjolkan? Hal-hal yang kita tonjolkan dan nampak di permukaan, itulah yang akan ditangkap manusia dan direkam dalam memori, apakah kita akan dimasukkan ke golongan orang baik ataupun orang jahat.

Saya masih ingat sebuah pepatah atau entah ucapan siapa bahwa sebenarnya bos itu digaji untuk memaki-maki atau memarahi kita. Benar nggak sih? Jadi klo ada boss yang bilang begini,”saya nggak pernah menyuruh lembur. Kalau kamu sampai lembur, justru saya yang harus bertanya, dari pagi ngapain aja.” benar sih itu klo kita kerjanya main-main saja. Tapi klo memang pekerjaanya selalu punya deadline yang ketat dan kita udah jungkir balik mengerjakannya, rasanya pengin lempar sepatu nggak sih sama si bos?…hahahaha.

Namun benarkah saat kita mendapat bos yang perlakuannya semena-mena terhadap bawahan, maka kita berharap dia segera resign dan berganti bos baru? Terkadang pikiran itu muncul ketika puncak depresi memenuhi kepala kita. Kita terkadang berpikiran sempit, jarang kita memikirkan bahwa ketika bos itu pergi justru kita akan mendapatkan bos baru yang jauh lebih kejam. Namun, tentu saja jika kita cermati lagi, jika pada kenyataanya justru mendapatkan bos yang lebih kejam,  itu suatu pertanda bahwa kita harus memantapkan hati mengambil keputusan yang paling benar yaitu resign.

“Bos juga manusia, tapi manusia yang duitnya lebih banyak ketimbang kaum cungpret.” -Cungpret sinis (Bab Sudah Pasti Barang Tentu}

Nah, novel resign ini begitulah, menceritakan konflik yang terjadi antara geng Cungpret (Rara, Carlo, Karen, Andre dan Sandra} di bawah bos yang kejam bernama Tigran. Kehidupan kantor yang tidak jauh-jauh dengan adanya skandal, gossip, pencapaian atau justru pelecehan dari atasan atas kinerja bawahannya. Tigran, boss Cungpret, yang diharapkan dipecat atau mengundurkan diri dari perusahaan tempat mereka bekerja. Nah, apakah mereka benar-benar bahagia jika  Tigran kemudian memutuskan untuk resign?

Novel ini dikisahkan dengan gaya bahasa ringan tetapi sangat memikat, dari awal membaca sudah ditonjolkan konflik-konflik yang tidak berkesudahan yang membuat kita ikut merasa kesal, sedih, bahkan ketawa, gokil abis. Novel ini serasa novel roman komedi.  Mbak Almira sangat pandai membangun karakter. Terutama karakter si bos Tigran yang bisa berubah-ubah, terkadang garang, baik hati, polos, garing atau mungkin romantis. Alurnya juga tidak membosankan dan mata secara otomatis akan mengikuti baris demi baris kalimat yang disajikan di sana hingga ending. Dan setelah sampai pada halaman terakhir, kita akan berkomentar,”wah udah selesai, pengin baca lagi.

Namun, ada satu hal yang sedikit membuat saya serasa ingin menambahkan satu bab untuk menggambarkan bagaimanakah kejamnya si boss baru di bandingkan boss Tigran. Mungkin jika bagian ini disisipkan menjadi bab tersendiri sebelum bab cooling down akan terasa sempurna banget. Tetapi sejauh ini saya pun sudah cukup puas dan saya akan berikan rating 4.5/5 untuk novel ini.

Apakah teman-teman penasaran? Buku ini bagus untuk dibaca, dipelajari pola cerita, gaya bahasa sehingga mudah memikat dan menjadi best seller. Dan ingat pesan mbak Almira di akhir kata ucapan terimakasihnya, I hope you will find joy in doing your work. Kalau nggak happy, mungkin bisa resign? Selamat membaca.  {end}

16 thoughts on “Review Novel Resign karya Almira Bastari

    1. iya outri, bagus menurut saya
      cerita dalam novel itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari
      namun, bagus tidkanya sebuah cerita tergantung selera juga

Leave a Reply

Your email address will not be published.