Maukah Kau Mendengar?

“Keputusasaanku adalah ketika kau menjauh, dan rasanya begitu sulit untuk kurengkuh”

Kau hanya bisa kupandang dari kejauhan. Andai kau ingin menyalahkanku akan kuterima. Tetapi kini kau semakin menjauh dan rasanya sulit untuk direngkuh. Aku juga melihat kilat di matamu ketika tak sengaja berpapasan. Kilat yang sebenarnya membuatku bahagia tetapi tak pernah sekalipun kau memberikanku kesempatan untuk berkata-kata, menjelaskan apa yang kau katakan lewat kilat matamu itu.

Kulihat di sana, di bangku panjang taman sekolah di bawah pohon akasia, tawamu terlihat sangat lepas dan bahagia di antara Cloe dan Mirza. Cloe terkenal sebagai ahli programmer, dan Mirza terkenal sebagi layouter. Apakah kau punya rencana baru? Aku selalu penasaran dengan segala rencanamu. Jika dulu kau akan menceritakannya padaku, tapi kini? Satu…dua…tiga, ah sebenarnya baru seminggu kau mendiamkanku. Tapi rasanya seperti sudah berapa tahun tak bertemu.

“Aku sungguh kecewa ketika akhirnya suaramu kau berikan kepada Rein, No,” cecarmu siang itu setelah pemilihan Pemred Majalah Smart, majalah Sekolah Putra Bangsa.  Satu suaraku yang sangat menentukan siapakah yang akan menduduki bangku panas pemred Smart akhirnya kuberikan kepada Rein, anggota baru di redaksi Smart. Kulihat wajahmu mengeras sekaligus luka dan kecewa bercampur di sana, kilat mata yang berapi-api. Jabatan Pemred memang salah satu jabatan yang menjanjikan di Sekolah ini. Siapa yang menjabatnya akan mendapatkan rekomendasi dari pihak sekolah yang bisa digunakan untuk mendapatkan beasiswa.

“Bukan begitu, Nay. Kau harus mendengar alasanku dulu.” Jawabku waktu itu tapi kau tetap tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan alasan.

“Kau jatuh cinta sama Rein, bukan? Kau subjektive, No.” Cecarmu membuat lidahku jadi kelu. Aku tahu kau tidak akan bisa berfikir dengan benar ketika ada di puncak kemarahan. Andai kau tahu, Naya.

“Aku kecewa padamu, Reno. Kukira persahabatan yang terjalin sejak kita masih kecil akan membuatmu mendukung untuk meraih semua impianku. Tapi ternyata, kau lebih memilih mendukungnya, Rein yang kau kenal baru satu tahun.” Kemudian kau melenggang pergi dan aku hanya bergeming menatapmu. Kedua bahumu tersengal-sengal, aku tahu pasti jika kau menangis.

Aku dan kau bersahabat sejak masih belum bersekolah. Orangtua kita juga bersahabat, merekalah yang mengajari kita untuk menjalin persahabatan satu sama lain. Tak heran orangtua kitapun bersengkokol untuk menyekolahkan kita selalu ditempat yang sama. Kebetulan Sekolah Putra Bangsa memiliki semua jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga tingkat SMU.

Bel tanda istirahat berakhir terdengar nyaring. Kau bersama Cleo dan Mirza beranjak. Rambut sebahumu terlihat berkibar tertiup angin. Bibir mungilmu masih terlihat berkata dengan antuisas. Kau terlihat serasi di antara Cleo dan Mirza, tinggi tubuhmu menjulang tak begitu berbeda dengan tinggi mereka berdua. Di salah satu sudut sekolah yang memisahkan arah kelasmu dengan Cloe dan Mirza, kau berhenti sejenak, kemudian berkata dengan antusias, dan melambaikan tangan sebelum berpisah. Sepertinya kalian saling membuat janji temu. Kemudian kau setengah berlari menuju kelas kita  yang berada di ujung koridor ini. Kedua  tangan masuk ke dalam saku sweater abu-abu yang kau kenakan. Aku menyusul di belakang dan memanggil namamu.

Kau berhenti dan membalikkan badan. Seketika  senyum dan binary di wajahmu lenyap, berganti dengan seraut wajah penuh kemarahan bercampur luka dan kekecewaan. Kita hanya saling bertatap dalam diam.  Aku ingin minta maaf dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi diantara kita. Namun, detik berlalu dan kita maih sama-sama mematung dengan bias mata yang sulit diartikan. Nay, maukah kau mendengar penjelasanku dan mengerti apa yang kurasakan tentangmu?

8 thoughts on “Maukah Kau Mendengar?

Leave a Reply

Your email address will not be published.