Review Novel Purple Prose Karya Suarcani

Judul      : Purple Prose
Penulis   : Suarcani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Cetakan Pertama, 2018
Halaman: 304 hlmn, 20cm
ISBN       : 9786020614137, 9786020614144 (Digital)
Genre     : Metropop

 

Membaca novel ini benar-benar mengaduk perasaan, manis, pahit, dan luka yang tidak bisa disembuhkan. Ini seperti kita melihat kisah nyata yang dipaparkan dalam pikiran. Suarcani mampu membuat plot yang kuat, karakter tokoh yang kuat membuat begitu terkesan saat membacanya. Saya tidak bisa melepaskan bacaan ini karena begitu penasaran dengan kejadian-kejadian berikutnya. Ada rasa tegang, miris, manis, dan semuanya dibuat penuh logika.

Ini seperti pesan seorang teman yang mengatakan jika kita harus membaca  buku yang berkualitas yaitu buku yang mampu mengajak kita bertamasya melupakan separuh dunia saat membacanya dan kemudian menjadikan kita percaya kalau kita seutuhnya memang manusia.

Dan membaca buku ini, membuat saya menjadi seperti itu. Saat membacanya saya seperti terlempar ke ruang dimensi yang lain, mengeja kata demi kata yang terangkum di sana dan sungguh menikmatinya. Namun saya mampu merasakan gejolak yang terjadi di dalam cerita tersebut dan ide ataupun tema yang dijabarkan di dalam novel tersebut adalah sesuatu yang nyata, berat tapi beneran ada di kehiduppan seperti itu, dan penulisnya mampu menjabarkannya dengan sungguh baik.

Novel ini bersetting di Bali dan Jakarta. Ada masa lalu yang kelam di Bali bagi sosok Galih. Saat itu statusnya adalah mahasiswa. Galih terjerat dengan pergaulan yang tidak baik, narkoba hingga salah satu sahabatnya tewas karena overdosis. Setelah kematian sahabatnya karena overdosis, Galih diambil orangntuanya untuk kembali ke Jakarta dan menjalani rehabilitasi. Namun, ayah Galih harus meninggal dunia karena serangan jantung melihat kondisi Galih.

Karakter Galih sendiri adalah seorang pimpinan yang adil, tegas dan humoris. Dia seorang Supervisor sales disebuah perusahaan provider di Indonesia. Di kantornya dia bertemu dengan gadis yang bernama Roya. Roya adalah gadis yang terlihat selalu melakukan kesalahan, pasrah, tidak mampu membela diri sendiri sehingga menjadi bullying di antara teman-temannya. Namun, mungkin jalan takdir Galih  yang mampu melihat sisi lain Roya hingga harus jatuh cinta padanya yang ternyata berhubungan erat dengan masa lalunya.

Roya memiliki adik, Kanaya yang trauma dengan masa lalu yang menimpanya, hingga membuat Roya hidup dalam rasa bersalah. Masa lalu yang berkaitan erat denga Roya dan Galih. Dan ketika Kanaya bisa bertemu dengan seseorang yang merekat erat dengan  masa lalunya tersebut, Galih, lalu bagaimana kemudian nasib kisah cinta Galih &  Roya?

Siapa sangka masa lalu memang tidak pernah meninggalkan kita. Apalagi masa lalu yang kelam akan selalu menghantui dan bisa jadi Tuhan memberikan ganjaran dari perbuatan masa lalu itu. Bagi yang menyadari bahwa kejadian pahit dikemudian hari adalah ganjaran dari masa lalu dan kemudian menjadikannya itu lebih baik maka dia sebaik-baik manusia.

Seperti novel ini yang mengajarkan kita bahwa masa lalu itu tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu menguntit di belakang  dan kelak akan memberikan ganjaran yang setimpal dari apa yang pernah kita kerjakan di masa itu. Di sinilah novel ini bermain, kesakitan-kesakitan yang mampu menghipnotis pembaca untuk selalu menyadari bahwa kesalahan masa lalu jadikanlah pelajaran dan maafkanlah diri sendiri agar kita tetap bisa terus berjalan.

Purple Prose, mengapa Novel ini di beri judul Purple prose? Seperti yang dituliskan oleh penulis di halaman 162 tentang purple prose. Purple prose atau prosa ungu semacam  kalimat yang berlebih yang sering muncul di dalam buku, biasanya sih novel. Kalimat-kalimat yang boros kata, bertele-tele, rumit, dan seakan menarik perhatian untuk dirinya sendiri. Misalnya kalimat” hatiku sakit. Hatiku luka, seperti tercabik-cabik oleh anjing jalanan. Ribuan pisau seakan mengeroyok dan menusuk-nusuk, membuat sesuatu dalam dadaku ini berdarah-darah. Atau seperti kata-kata macam “Dia mencintai permepuan itu, seperti lebah yang tidak bisa hidup tanpa bunga, seperti sungai yang merana tanpa air.” Yah, kalimat-kalimat yang berlebihan, berbunga-bunga, puitis tingkat dewa

Tulisan dengan kata bertele-tele, rumit dan seakan menarik perhatian untuk dirinya sendiri. Kutipan seperti itu bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman saja untuk menggambarkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Lembar demi lembar tidak mengembangkan plot dan karakter sama sekali.  Deskripsi-deskripsi yang tidak perlu dan menghabiskan halaman demi halaman. Tulisan macam itu namanya purple prose.”

Lalu apa hubungannya dengan kisah Galih dan Roya?

“Itu yang terjadi pada kita, Ya. Kamu sama seperti aku. Sama-sama terjebak dengan kesalahan masa lalu. Jika disamakan dengan buku, berlembar-lembar kisah kita hanya dipenuhi oleh purple prose, oleh penggambaran rasa sakit dan sesal atas peristiwa itu.  Kita terlalu terikat dengan kesalahan masa lalu. Padahal pada lembar-lembar yang terbuang itu kita bisa maju selangkah, atau setidaknya berusaha move on.  Tetapi kenyataanya kita nggak bisa, terus saja mikirin hal itu sampai sakit kepala sendiri.”

Itulah Purple Prose. Dan point 4.5/5 untuk kesakitan-kesakitan dan pelajaran-pelajaran hidup yang dituliskan dengan begitu kuat.

#Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community #Day3

Leave a Reply

Your email address will not be published.