Review Novel Sauh Karya Shabrina Ws

Judul      : Sauh
Penulis   : Shabrina Ws
Penerbit : Elex Medi Komputindo
Cetakan : Cetakan pertama, 2017
ISBN      : 978-602-04-5206

“Tidak akan ada pernikahan pertama di rumah ini, selain pernikahanmu.”

Seperti biasa novel Mbak Shabrina WS selalu mengangkat tema lokalitas. Nafas tulisan mbak Shab juga terasa seperti tulisan mbak Wiwik dan Mbak Afifah. Namun, saya justru sangat menyukai gaya penulisan mereka. Dengan deskripsi tempat yang begitu detil, saya bisa merasakan daerah seperti apa yang dijadikan setting dalam setiap ceritanya.

Dalam Sauh kali ini Mbak Shabrina mengambil tema tentang adat daerah yaitu pelangkah atau mlangkahi. Di dalam adat jawa yang biasanya memiliki kepercayaan bahwa seorang adik tidak boleh melangkahi atau mendahului kakaknya menikah, karena dikhawatirkan kakaknya justru jauh dari jodohnya.

Rosita, seorang wanota karier di dunia perhotelan berusia 28 tahun. Karir yang diperolehnya dari bawah, menjadi seorang steward  di hotel. Orangtuanya mendesaknya untuk segera menikah karena adik Sita sudah berulang kali mengatakan niatnya untuk menikah. Namun, karena masa lalu ayahnya yang membuatnya merasa bersalah,  ayah Rosita tidak mengijinkan ada pernikahan pertama. Sebenarnya ayahnya tidak melarang Rosita untuk menikah dengan siapapun, tetapi Rosita menaruh hati terhadap seorang lelaki, Danu, dan Rosita tidak tahu apa yang dirasakan Danu terhadapnya.  Karena ketidak tahuannya akan perasaan danu tersebut, Rosita tidak berani mengucapkan nama lelaki itu di hadapan ayahnya.

Hingga kemudian Rosita harus dipindahkan ke sebuah cottage di Pacitan dari Hotel kaliandra di Surabaya, tempat dia bekerja selama ini. Namun ternyata di balik kepindahannya ke Pacitan, ada rahasia orangtuanya yang baru diketahui Rosita, perjodohan. Awal mula Rosita marah, tetapi ketika Danu juga menghilang dari kehidupannya, Rosita mencoba perlahan menjalani perjodohannya dengan Firman. Firmanpun sudah mulai menyukai Rosita, hingga rencana lamaran sudah dimusyawarahkan kedua keluarga. Namun, pada suatu siang Danu mendatangi Rosita di Pacitan. Apakah maksud kedatangan Danu tersebut? Apakah dia akan mengungkapkan perasaanya pada Rosita di saat semuanya hampir terasa terlambat?

Novel ini lebih lekat dengan setting Pacitan di mana penulis mampu mendeskripsikan keadaan pantai dan Cottage di mana cerita itu sering terjadi. Menggunakan alur maju, meski sesekali mundur ditandai dengan tulisan yang sudah dimiringkan, Mbak Shabrina mampu menjabarkan plotnya dengan luwes.

Saya mengharap ada kejutan lain diakhir-akhir cerita, karena saya merasa konflik yang diramu di dalam cerita ini kurang kuat. Andai ada satu kejutan konflik yang membuat lebih wow, atau dramatis (mungkin bahasanya seperti itu) maka novel ini akan terasa benar-benar menggugah.

Saya merasa Danu begitu cepat mengambil keputusan yang selama ini ditundanya, sedangsaya selaku pembaca tidak tahu sepenuhnya apa yang dibicarakan antara ayah Rosita dengan Danu. Karakter toloh antara, Rosita, Danu, dan Firman terasa hampir mirip, kurang membekas.

Namun, dari semua tulisan yang saya paparkan di atas, dengan gaya bahasa yang begitu ringan, deskripsi tempat yang detail, ide cerita tentang cinta yang tak pernah habisnya, Dan ide yang unik, novel ini layak dinikmati untuk diambil saripatinya. (tamat)

 

#Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post bersama Estrilook Community #Day5

Leave a Reply

Your email address will not be published.