Armedian Quote

Berikut ungkapan-ungkapan istimewa dan Q&A yang di sampaikan Daruz agar terus bersemangat menulis:

Aku usahakan untuk menulis apa pun tiap hari 200 kata (minimal). Untuk pembiasaan menulis saja. Kalau aku bingung mau nulis apa, maka aku nulis alasan kenapa aku bingung. Atau paling tidak, menulis tentang kebingungan itu.

Kan proses menulis ada dua tahapan. Pertama pembiasaan. Kedua peningkatan. Kalau terbiasa menulis saja belum, masa mau langsung ke tahap peningkatan?

Maksudku gini. Banyak orang kesulitan menulis hanya karena berpikir kalau ini udah ditulis orang lain. Bahasa ini udah digunakan orang lain. Atau, berpikiran kalau aku ingin menulis sesuatu yang bagus, yang belum pernah ada di dunia.

 

Q: Kak tanya, saya punya sesulitan kalau buat cerpen itu seringkali bnyak deskripsi daripada isi cerita. gimana cara buat cerpen yang baik, isi ceritanya dapet tanpa kepanjangan deskripsinya dan membuat pembaca mudah memahami apa yang ingin disampaikan

A: Oh ya. Ini biasanya memang penyakit yg menjangkiti para pemula. Seperti aku juga. Biasanya, orang seperti kita ini kalo nulis cerpen ingin seeeeemuuaaanya diceritakan. Contohlah, untuk menulis Budi telat berangkat ke sekolah. Tapi yang kita tulis adalah, Budi bangun tidur, cuci muka, gosok gigi, sarapan, mandi, dll. Untuk menanggulangi itu, kita perlu sadar dulu kalo cerpen itu cerita pendek. Alur waktu harus diringkas. Aku belum menemukan trik lain selain membaca cerpen orang lain yang kuanggap maestro

**

Q : Apa yang bisa sangat Mas Daruz harapkan dari tulisan-tulisan?

A : Bisa menyelamatkan hidupku sampai tua. Heuheu. Sedih lho kalau nanti tua dan sudah tidak sanggup bekerja dan harus kesepian karena ditinggal merantau anak-anaknya dan kita tidak bisa apa-apa. Bahkan tak bisa menulis.

**

Q : Apa jadinya ketika tulisan-tulisan itu tidak dapat memenuhi harapan penulisnya?

A : Ya sudah. Dibiarkan saja. Lha wong nyatanya bahasa itu rapuh kok. Kata-kata tidak mampu menanggung semua beban atau harapan penulisnya. Palingan hanya sedikit bisa menampungnya.

**

Q : Bagaimana cara/teknik Daruz mengeksplore point of view versi Daruz sendiri? Karena keren caranya memandang sesuatu, lalu dijadikan sesuatu

A : Ya itu awalnya persoalan kesulitan melanjutkan cerita aja. Sebagai contoh, aku kesulitan melanjutkan cerita dengan sudut pandang Si Pemetik Anggur. Maka, di sub kedua, atau setelah jeda, aku menggunakan sudut pandang Si Anggur itu. Tp lama-lama aku suka caraku yang seperti ini.

**

Eko Triono Quote

Q :  Tadi belum perkenalan mengenai kegiatan saat ini. Dari Mba Hiday aku mendengar bahwa Kakak seorang editor, redaktur, dan kontributor. Ini di mana sajakah?  Lalu bagaimana prosesnya bisa sampai ke sana?

A : Kalau editor masih freelance. Kalau proofread, atau pemeriksa aksara, aku di penerbit Basabasi Yogyakarta (bagian dari Diva Press). Redaktur di Nyonthong.com (media online berbayar, cerpen dan puisi). Sekarang web ini untuk sementara berhenti dulu. Sekarang ngurusin web tubanjogja.org.

Prosesnya, aku nerbitin buku di Basabasi, awalnya. Kemudian kenal bosnya. Kemudian diajak kerja di situ. Sebelum ini sih aku sudah kenal bosnya di kampus fiksi. Dia rektor di kampus itu.

**

Q : Dari dua kardus buku yang diberikan. Buku mana yang benar-benar menyadarkan bahwa, saat itu “gue mau nulis”? Alasannya apa? Sebutin satu buku aja, Kak.

A: Buku Laskar Pelangi. Udah itu aja sih waktu itu. Pengen jadi Lintang-nya. Wkwk

**

Q : Dari buku-buku yang disebutkan tadi. Buku-buku ekstrimis kanan dan kiri. Mana yang menjadi warna tulisan saat ini?  Kenapa merasa lebih nyaman untuk menulis genre tersebut?

A : Secara pengaruh besar di tulisan gak ada. Tapip pola pikir, iya. Aku jadi bisa memaklumi pemikiran yang berasal dari poros kanan dan poros kiri.

**

Q :  Oia, aku udah baca cerpennya yang berjudul “Bagaimana Kalau Kita Saling Membunuh Saja” … Ini gila sih, tapi keren. Dapet ini nulis cerita ini dari mana? Dan apa yang dibayangkan ketika menulis ini? Pesan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan?

A : Ini berasal dari bacaan filsafat sih. JJ. Rosseau. Homo homini lupus.

**

Q : Biasa menulis resensi dan esaai di mana, Kak?  Boleh minta link-nya? Siapa tahu bisa berkunjung.

A: Kalau resensi kecil-kecilan ada di Instagram. Ada juga di tubanjogja.org. Aku jarang nulis resensi. Soalnya fokusku gak di situ.

**

Q : Bagaimana cara seorang penulis pemula supaya dia akhirnya bisa memunculkan gaya unik dari tulisannya/ ciri khasnya? Apa yang sebaiknya menjadi pembiasaan di awal untuk memunculkan itu?

A : Penulis pemula tidak mungkin punya gaya unik, atau yang khas dengan dirinya. Kalaupun ingin seperti itu, kebanyakan berakhir di ‘tidak bisa menulis’, karena terlalu banyak mikir. Baca sebanyak-banyaknya, nanti akan ada yg khas dari gaya bahasamu. Kata Luis Borges kan, di dunia ini gak ada yang berangkat dari kekosongan.

**

Q : Jika diberi kesempatan, apa yang pengen kamu ubah dari sistem pendidikan di Indonesia (dari sudut pandang penulis)? Dan mengapa?

A : Mewajibkan siswa baca fiksi. Fiksi memang tidak bisa mengubah tatanan masyarakat secara frontal. Tapi ia bisa mengubah pola pikir secara perlahan

**

Q : Apa harapan dan pesan kamu buat para penulis pemula se-nusantara?

A : Bertindak walaupun sedikit daripada ingin berbuat banyak tapi tenggelam dalam angan-angan yang besar (KH. Zainal Arifin Thoha).

**

Q : Kak daruz, apa yang kak Daruz dapat dari balai bahasa yogyakarta? Materi dari eko triono dan indra T. Terimakasih.

A : Ya, gitu. Pesannya kalau disimpulkan: membacalah seperti kau mengormati ibumu. Menulislah seperti menghormati ayahmu. Artinya, membaca tiga kali. Menulis sekali.

Q : Ada pengaruh kepada tulisan kak daruz tidak?

A : Ada. Eko Triono pernah bilang, bukan tentang siapa yang memulai menulis. Tapi tentang siapa yang akan terus menulis. Kalau pak Indra, mengajari kesabaran bagaimana berproses.

**

Q : Kak Daruz, aku sering dapet curhat dari teman sesama penulis pemula yang suka pesimis dengan tulisan mereka. Padahal menurutku tulisan mereka udah bagus. Ada nggak sih tipsnya agar kita lebih confident dengan tulisan kita sendiri??

A : Aku pun begitu. Setiap yang kutulis awalnya bagus, tiba-tiba kubaca di hari depan, jadi terasa jelek. Apalagi kalo baca tulisan orang lain yang bagus banget. Ya, yang bisa kulakukan adalah menulis terus. Dengan menulis terus, yang kita banggakan bukan tulisan kita. Tapi proses kita dalam menulis.

**

Q : Katanya ada kecenderungan orang yang bisa jadi editor sulit jadi penulis yang baik. Begitu juga sebaliknya. Tapi Kak Daruz bisa jadi keduanya sekaligus.

A : Iya. Ini pertanyaan yg bagus. Semenjak jadi editor, jadi mikir-mikir mau nulis. Jadi ngerasa, lho ini bagusnya gini, ini harusnya gini. Pokoknya mikirnya lama kalo mau nulis. Tapi kemudian, ya kan aku pengen nulis sesukaku. Akhirnya, ya tetep nulis.

**

Q : Kalo puisi gimana? Panutanmu siapa aja?

A : Sejauh ini masih Ahmad Yulden Erwin.

**

Pesan terakhir Kak Daruz sebelum menutup acara

Scribo Ergo Sum

Aku menulis maka aku ada

(KH. Zainal Arifin Thoha)

 

Banyak kalimat-kalimat sederhana namun begitu berisi yang bisa kita dapatkan dari dua jam bersama Mas Daruz tersebut. Semoga kita tetap bisa menulis, bersyukur tulisan itu bisa  bermanfat bagi diri kita apalagi terlebih untuk orang lain. Semangat menulis.


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: