Bekerja di Rumah atau Kantor : Dilema Para Wanita Berkeluarga. Saat kita (saya) masih muda, masih sekolah, banyak sekali cita-cita yang ingin dicapai. Ingin menjadi dokter, guru atau dosen, cita-cita itu yang saat itu terlintas. Bahkan gambaran mengabdi untuk suami, seperti “hanya” menjadi ibu rumah tangga, hal sama sekali tidak terlintas.

Tahun 1997, saat saya merantau untuk pertamakalinya ke Batam lalu memiliki penghasilan sendiri, bayangan untuk menjadi ibu rumah tangga mengurus anak-anak dan suami di rumah pun masih tak terbayang. Padahal saat itu sudah banyak senior yang bekerja di perusahaan mengundurkan diri karena menikah terus hamil. Jahatnya lagi, saya masih menanyakan alasan mereka keluar dari pekerjaan yang sudah digelutinya bertahun-tahun.

Namun seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia dan luasnya lingkup pergaulan saya, pertanyaan baru mulai muncul dan ditanyakan kepada saya. “Nanti kalau sudah menikah, masih mau bekerja atau tidak?” Saya saat itu hanya terdiam. Apalagi saya menyukai pekerjaan yang digeluti waktu itu. Da terbersit impian saat itu, saya mendapatkan suami dari level atasan atau yang memiliki jabatan jauh di atas saya. (Hahahahaha…pikiran yang idealis banget). Sebab zaman saya di tahun awal 2000-an, sebuah jabatan di PMA itu terlihat sangat mentereng, apalagi selisih gajinya memang jauh berbeda (wkwkwwk).

Namun pada kenyataanya saya disunting oleh suami saat perusahaan menutup cabangnya di Batam, dan akan pindah ke Vietnam. Awal tahun 2000, banyak sekali perusahaan yang berekspansi ke Vietnam. Di sana biaya labornya lebih murah. Akhirnya perusahaan menawarkan “paket resign” kepada karyawannya. Walhasil saya jobless saat menapaki rumah tangga baru.

Bagaimana Rasanya Jobless?

Selama ini orang memandang miring profesi ibu rumah tangga yang katanya hanya terlihat menengadahkan tangan kepada suaminya, padahal andai mereka benar-benar nyemplung langsung sebagai Ibu rumah tangga bisa jadi mereka lebih menyukai bekerja kantoran/pabrik.

Mengapa?

Ya, karena pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu terlihat monoton. Apalagi kalau tidak memiliki keahlian apapun yang bisa membunuh waktu atau tidak bisa produktif saat memiliki waktu senggang. Coba bayangkan, rutinitas menanti suami pulang kerja -apalagi jika masih berstatus belum memiliki anak- dari bangun tidur terus memasak, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Pekerjaan tersebut mungkin selesai jam 10.00 wib. Setelahnya kita bisa leyeh-leyeh, tidur, merawat diri sendiri, nonton televisi atau bincang-bincang dengan tetangga. Ritmenya begituuuu terus setiap hari, bahkan ketika memiliki anakpun ritme kehidupan akan sama. Membosankan, bukan? Apalagi jika diitambah penghasilan suami yang minim, hingga tidak mampu membawa jalan-jalan di akhir pekan atau rekreasi menghilangkan penat, tentu terasa sangat membosankan dan bikin stress.

Keahlian yang Menghasilkan Uang

Memang alangkah baiknya perempuan memiliki keahlian tertentu hingga bisa menghasilkan uang. Lebih bagus lagi jika keahlian itu bisa dikerjakan dari rumah jikalaupun tidak pekerjaan tersebut fleksibel. Namun perlu diingat, kita harus menempatkan diri dengan baik bahwa tugas utama kita adalah sebagi seorang istri dan ibu. Jangan sampai mereka terlantar karena kesibukan kita tersebut.

Memiliki keahlian sendiri dan menghasilkan uang juga merupakan bekal kita untuk ke akhirat nanti, karena kita mampu bershodaqoh dari usaha kita sendiri, bisa membantu suami dalam memenuhi kebutuhan nafkah, selain itu juga bisa sebagai bekal andai kelak pasangan hidup kita sakit keras dan atau meninggal, sehingga tidak mampu lagi memberi nafkah.

Beberapa keahlian yang bisa dikerjakan dari rumah
1. Penjahit
2. Blogger/influencer/penulis
3. Membuka warung
4. Membuka Les Membaca (calistung atau baca tulis Quran dlsbnya)
5. Bisnis Online
6. Membuat Keterampilan tangan seperti Tas Rajut, Bunga Akirlik, atau katering

Bekerja di rumah atau?
canva.com

Alangkah lebih baiknya lagi jika keahlian itu dirintis saat masih muda, bahkan saat hilal jodoh belum kelihatan. Agar nanti ketika sudah berumahtangga kita bisa mendelegasikan ke orang lain. Kita hanya perlu mengawasi mereka. Dengan begitu, waktu keluarga inti akan tetap masih banyak dan tentunya tidak terlantar.

Jadi apakah beneran jobless, jika tidak bekerja kantoran? Tentu tidak, apalagi zaman digital yang memeudahkan siapa saja untuk berkomunikasi tanpa batas dan cepat. Semua bilsa dilakukan dari rumah dan hanya dari ujung jari.

Alasan Bekerja di Rumah Vs Kantor

Tentu setiap perempuan memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memutuskan bekerja di rumah atau bekerja kantoran. Rata-rata, 90%, yang bekerja di rumah, biaasanya mereka malas menjadi bawahan yang biasanya identik dengan tekanan atasan. Ada juga yang beralasan jika memang ingin membangun usahanya sendiri, lebih fleksibel mengatur waktu.

Untuk ibu-ibu yang memutuskan bekerja kantoran, biasanya alasan paling utama adalah agar bisa ikut membantu meringankan suami dalam menafkahi keluarganya. Selain itu alasan kedua yang sering saya dengar adalah mereka ingin mempunyai karir yang bagus di balik kursi panas sesuai dengan keahliannya, atau ingin menerapkan ilmu yang dia miliki.

Nah, intinya setiap orang yang bekerja memiliki alasan sendiri, dan kewajiban kita untuk melihat alasan mereka dari sudut pandang mereka atau sudut pandang yang lain. Apapun pilihan ibu-ibu, yang terpenting mendapat ridhlo suami dan mengijinkannya bergerak baik hanya di dalam ataupun di luat rumah. (end)


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

11 Comments

Fenni Bungsu · 15 February 2020 at 15:23

Kerja dari rumah sekarang udah asyik banget ya kak, jadi untuk ibu rumah tangga bisa sekalian menjaga anak di rumah

    Wiwid Nurwidayati · 15 February 2020 at 18:24

    Bener banget, mbak

Dyah KS · 16 February 2020 at 22:18

Stlh kerja 8 tahun akhirnya wirausaha. Sdh 11 tahun jd tukang rias yang suka jalan2. Tagline make up artist who loves traveling heuu. Enjoy mba:)

    Wiwid Nurwidayati · 16 February 2020 at 22:38

    Keren banget, mbak. Saya belum bisa jadi apapun

Siska Dwyta · 17 February 2020 at 06:25

Hehe iya Mbak, dari kecil saya nggak ada kepikiran sama sekali mau bercita2 jadi IRT eh tapi sekalinya sudah menyandang gelar S1 , malah tiba2 muncul keinginan jadi IRT begitu saja. Dan akhirnya di sinilah saya sekarang, jadi ibu rumah tangga yang syukurnya masih bisa mengisi kejenuhan di rumah dengan aktivitas ngeblog.

Btw keduanya memang menimbulkan dilema ya Mbak tapi yang paling penting kita bisa menikmati apapun yang menjadi pekerjaan kita sekarang. Baik sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik atau ibu yang bekerja di ranah publik.

    Wiwid Nurwidayati · 17 February 2020 at 16:04

    Iya, apapun pilihannya tetaplah menjadi yang terbaik.

Dian Restu Agustina · 17 February 2020 at 07:03

Apapun pilihan perempuan mesti kita hormati, mau bekerja di luar rumah atau dari rumahnya adalah pilihannya sendiri . Yang pasti dengan segala pertimbangan terbaik

Saya resign saat menikah, umur 26 tahun. Usia 40 mulai ngeblog dan Alhamdulillah 3 tahun ini bisa beradya dari hobi ini

Semangat ya Mbak:)

    Wiwid Nurwidayati · 17 February 2020 at 16:03

    MasyaAllah, keren banget mbaknya. Hal apapun yang kita tekuni insyaAllah akan mendatangkan hasil yang tak pernah kita sangka ya, mbak.

Grandys · 20 February 2020 at 08:18

wah mbaa bacanya ini so related banget hihi, karena aku juga resign setelah menikah malah, tapi sebelumnya udah ngejalanin LDM dulu 4 bulanan. Trus saat ini sedang menikmati keadaan stay at home tapi tetap produktif, karena aku itu type yg suka ndekem di kamar dan ga merasa bosan, asalkan fasilitas seperti ruang kerja yang nyaman serta tempat tidur yg penting hihi

    Wiwid Nurwidayati · 21 February 2020 at 19:10

    Senang ya mbak bisa stay at home tapi tetap bisa produktif. Sempurna rasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.