Spread the love

Innalillahi wainna ilaihi roojiun. Beberapa hari yang lalu ucapan bela sungkawa memenuhi  beranda di salah satu grup WA pada sebuah komunitas kepenulisan yang saya ikuti. Saya pribadi tidak kenal langsung dengan almarhumah, namun memang blognya sering wira-wiri di beranda. Saya sesekali membacanya, karena isi dari blognya cukup menarik.

Tak dinyana,  dua tulisan terakhirnya di bulan Desember adalah sebuah peringatan sekaligus. Salah satu judulnya seperti sebuah pertanda, “Ketika Nikmat Itu Berhenti”, yang menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengalami gejala penyakitnya yang oleh dokter sebelumnya di vonis sebagai penyakit Bell’s Pasley atau stroke ringan.

Kalimat berjudul Ketika Nikmat Itu Berhenti,  sungguh membuat mata saya terbuka lebar. Bukankah kematian adalah salah satu hal yang membuat nikmat itu berhenti? Jawabannya memang bisa iya bisa tidak, tergantung dari sudut pandang yang menjawabnya. Terlepas dari penyakit yang diderita mbak Syva, yang bahkan saat pertama kali mendapatkan gejala penyakitnya tersebut, air minum sama sekali tidak bisa masuk ke dalam kerongkongannya. Masya Allah. Kematian bisa menjadikan manusia terhilang rasanya menikmati segala keindahan dunia. Tetapi bagi bebebarapa manusia, kematian juga adalah sebuah kenikmatan karena bisa bertemu dengan Rabb-Nya, Tentu saja ini bagi yang sudah memiliki  tingkat keimannn yang tinggi. Contoh nama termasyur yang menyambut kematiannya dengan kebahagiaan (tarian) karena akan bertemu dengan yang di cintanya adalah Jalaludin Ar rumi.

Kembali ke mbak Syva yang akhirnya berpulang kepada pemiliknya.  Tentu saja kabar ini tetap membuat hati berduka pasalnya beliau masih meninggalkan dua anak yang bisa dibilang masih kecil. Dalam tulisan yang sama, Ketika Nikmat Itu Berhenti, di akhir tuliskan diselipkan dua foto anaknya yang masih kecil sedang bermain, juga ungkapan rasa cinta kepada anak-anaknya bahwa mereka adalah nikmat dari Allah yang tak terhingga dan tak terbatas.

Ketika Mbak Syva meninggalkan dunia ini meninggalkan tulisan-tulisan yang terkesan sederhana tetapi penuh makna dan sangat mudah dinikmati, lalu jika kita mati apa yang kita tinggalkan?

Apa yang Ditinggalkan Setelah Kematian Datang?

Saya mengenal mbak Syva secara tidak langsung lewat komunitas blogger 1M1C, sebuah komunitas yang menganjurkan kepada para anggotanya untuk menulis meskipun hanya sekali dalam seminggu.

Di sini, mbak Syva meninggalkan tulisan-tulisan yang dia posting di dalam blognya yang beralamat di www.keluargaghifary.wordpress.com. Menulis memang warisan para ulama, mengabadikan ilmu lewat tulisan dan akhirnya menjadi buku yang bisa dipelajari oleh generasi-generasi berikutnya.

Dalam ajaran islam sendiri, jika kita meninggal hanya 3 hal yang masih mengalirkan pahala kepada kita, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Seandainya kita suka menulis karena mungkin kita lemah dalam berkata-kata, marilah kita mulai menuliskan hal-hal yang bermanfaat. Tulisan-tulisan yang menebar kebaikan dan ilmu, nisacaya kita hanya berharap apa yang kita sampaikan di dalam tulisan tersebut merupakan sebuah amal jariyah yang akan meringankan langkah kita menuju jannah-Nya.

Tulisan suami mbak Syva yang membuat saya meneteskan airmata.

Menulislah! kelak engkau akan dikenang dari sana.

Tulisan ini hanyalah sebuah renungan sekaligus mengingatkan saya bahwa kematian bisa menjemput kapan saja. Peace to heaven mbak Syva.


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: