Yang Terlewatkan

Kulihat kamu tersenyum bersamanya. Sinar wajahmu terlihat bahagia. Ketika dia membisikkan sesuatu di telingamu, kamu tergelak dan kemudian berlalu meninggalkan kafe kecil; kafe tempat biasa kita bertemu setelah minggu-minggu yang sesak dengan jadwal kita yang tak menentu. Di kafe itu biasanya kita memesan dua minuman…

Telur Ceplok di Matamu

Telur mata sapi dengan bulatan warna kuning utuh terhidang di depanmu. Kamu terdiam dan hanya memandangnya enggan. Tanganmu tak bergerak, kemudian nafasmu melenguh perlahan. Kini tangan kananmu perlahan menyendok secenthong nasi, dua sendok sayur bayam. Tak disentuhnya telur ceplok yang terhidang. Perempuan di seberang meja…

Berhenti Berharap

“Selesaikanlah dulu urusan pribadimu sebelum menikah, hingga kelak pasangan hidupmu dan anak-anakmulah yang akan menjadi urusan utamamu”   Kau hanya mematung mendengarkanku mengucapkan itu dengan penuh emosi. Wajah dinginmu bercampur dengan kesedihan yang kini terlihat di sana. Aku tak peduli lagi. Aku tak peduli lagi…

Sebuah Pertemuan Penting

“Kita bukan siapa-siapa lagi.” Batinku meratap perih. Ah, sedari dulu kita memang bukan siapa-siapa. Kita bahkan tidak pernah bertatap muka. Aku hanya bisa mengenalmu dari foto-foto yang kauupload di facebook, instagram. Atau cerita-cerita tentangmu dari teman-teman komunitas yang satu kota denganmu. Namun, Si Andro mampu…

1 2 3