Fiksi

now browsing by category

 

Fallen

“My biggest mistake wasn’t falling for you, it was thinking that you had fallen for me too.”

-Quoteswave.com-

“Nin, tolong buka pintunya. Maafkan aku, Nin.” Suaranya semakin membuat dadaku sesak. Aku hanya bergeming, airmata yang mengalir tak lagi bisa dibendung. Mengapa mendengar suaranya saja terasa semakin meyayat?

“Nin, please. Kita perlu bicara.” Suaranya terdengar serak. Aku tahu sejujurnya dia adalah sosok yang lembut. Namun, aku sadar semakin aku mengetahui banyak tentangnya semakin banyak juga yang tidak kutahu tentangnya. Kini hanya sengal nafasku yang masih tersisa. Aku masih tetap bergeming, lamunan kosong yang membuatku mati rasa. Aku tahu seharusnya tak kulakukan ini, membiarkaan dia di luar sana. Bukankah Allah mengajarkan kita untuk pemaaf. Tetapi melihat kejadian di café itu? Saat tangannya menggenggam erat tangan perempuan yang entah siapa aku tak mengenalnya, apakah aku harus pura-pura baik-baik saja? Adakah hati wanita yang sebaik itu?

 

Aku terbangun ketika rasa dingin yang semakin menusuk tulang. Kuedarkan pandangan. Sofa minimalis berwarna abu-abu berjajar rapi di depanku. Dan aku? Oh ya Allah, aku tertidur di balik pintu. Kutatap Seiko di pergelangan tangan. Jarum pendek menunjuk angka dua. Kuusap wajahku yang terasa begitu lengket, kemudian beranjak ke kamar mandi. Membersihkan diri dan membenamkan hati dalam tahajud panjang, meminta kebaikan dari-Nya agar hatiku sedikit lebih tenang.

 

Bayang lelaki itu tetap masih ada, terbayang saat suara indahnya melantunkan ayat suci menunggu adzan subuh berkumandang. Aku hanya menatap wajah tampannya. Puncak hidungnya yang tinggi, kulit putih bersih, peci yang menutup rambut lurus hitamnya, senyumnya yang selalu meluluhkan segala keraguan dan tutur katanya yang lembut. Setiap selesai dia bertilawah mata binarnya akan menatapku kemudian mengecup pelipiss. Dia terasa sungguh sempurna, batinku setiap kali berada di sampingnya.

 

Aku dan dia bertemu tanpa sengaja dalam sebuah acara seminar young entrepreneur yang diadakan kampus Universitas Candra Buana. Saat itu aku menjadi pembawa acara dan dia adalah salah satu pemateri di sana. Perkenalan yang singkat. Ketika 3 hari kemudian dia mengirimiku sebuah pesan untuk bersedia bertaaruf dengannya, maka tiga bulan setelahnya kita menikah. Dan saat ini pernikahan kita belum lama, baru delapan bulan berlalu. Aku masih menikmati setiap getaran yang datang di hati saat bersamanya, ketika gempa maha dahsyat itu harus kualami. Aku kembali menangis dalam sujud subuhku. Aku baru menyadari jika aku benar-benar tidak mengenalnya, apalagi masa lalunya. Beri petunjuk jalan yang terbaik, ya Allah.

***

Pagi masih muram ketika kubuka pinta depan, bunga-bunga yang kutanam dalam pot-pot besar juga beberapa tanaman hias yang mengelilingi tepi halaman depan biasa kusiram setiap pagi.

“Nina.” Suara yang kukenal tiba-tiba berdiri di hadapanku. Aku terjengat, hampir saja terjatuh kebelakang andai separuh daun pintu yang tidak terbuka menahan tubuhku. Wajahnya terlihat sayu, rambutnya yang tidak tertutup peci putih terlihat berantakan, matanya memancarkan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.

Aku terdiam memandangnya. Dia melangkah mendekat, meraih tanganku, menciuminya, kemudian memelukku. Berulangkai dia membisikkan kata maaf ditelingaku. Aku kaku, benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Kesadaranku muncul ketika hatiku terasa sakit seolah ada pisau yang menggoresnya perlahan. Mataku berembun dan dia masih belum melepas pelukannya yang tak kubalas.

 

Hari itu adalah minggu pagi yang dingin, aku banyak mengurung diri di kamar tamu. Dia sendiri menghabiskan waktu di ruang kerjanya yang sekaligus menjadi kamar utama kami. Desir hati ini masih berisi tentangnya, menatap wajahnya yang tampan, ada rasa kecanduan ingin menatapnya selalu. Tapi kini, setiap menatapnya ada sembilu yang menyayat hati.

 

Pintu kamar tamu terdengar diketuk. Dengan malas menyeret kakiku untuk membuka pintu.

 

“Maafkan aku, Nin. Suami perempuan itu meninggal sepuluh bulan lalu. Hmmm…dan aku akan menyelesaikan masalah ini dengan dia. Sore nanti aku kembali.”

 

Aku bergeming, punggungnya menghilang seiring derit pintu depan yang ditutup perlahan. Perasaan campur aduk bergejolak di dalam dada. Aku keluar kamar ketika jarum pendek menunjukkan angka 4. Saatnya menikmati taman mungil di halaman, mungkin indahnya bunga-bunga yang bermekaran membuat hatiku jauh lebih lapang. Atau menyiram bunga aster kuning dan mawar merah yang sedang bermekaran. Bunga ekor kucing juga tegak memagari taman.

Ketika sedang asyik menyiangi rumput-tumput yang mulai bermunculan diantara bunga-bunga aster, suaranya terdengar memberi salam. Kepalaku menoleh perlahan, di sampingnya perempuan itu berdiri tegak dengan wajah manis yang terlihat gelisah  atau cenderung takut. Aku sempat menangkap saat salah satu tangan mereka saling menggenggam, namun segera dilepaskan. Hatiku bergemuruh, mataku merebak karena amarah. Namun seketika dunia sunyi ketika dia berkata dengan lirih.

“Maafkan aku, Nin. Sebenarnya aku telah menikahinya enam bulan yang lalu. Dia seseorang yang pernah ingin kumiliki sebelum kamu.”

Aku seperti tuli, yang kudengar sepertinya hanya halusinasi. Benar bukan jika itu hanyalah halusinasi?

“Aku mencintainya, Nin.”

Seketika duniaku benar-benar beku dan gelap. Aku tak ingin melihat matahari terbit lagi. (Tamat)

Lelaki Gagah Itu

Aku tahu jika hari ini akan tiba. Ketika seorang lelaki gagah akan berdiri dihadapanku, menyalamiku dengan hangat, mencoba menghilangkan gelisah yang dia tanggung. Seperti ada  berton-ton beban yang ingin segera dia enyahkan dari jiwanya. Ah…aku tahu sebenarnya itu bukan beban, lelaki hanya takut jika apa yang akan ditemuinya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya.

Lelaki gagah itu masih menyalamiku hangat, menganggukan kepalanya, kemudian berkata llirih menyebutkan namanya, “Hamizan Pradipta.” Aku hanya mengangguk, kemudian mempersilahkan lelaki itu duduk. Dia masih menatapku resah, sesekali menunduk atau mengalihkan pandangannya ke sekiling ruang tamu, mungkin mencoba mencoba menghilangkan resah yang dia rasa. Kutelusuri wajahnya. Garis rahangnya yang kokoh, puncak hidungnya yang lumayan tinggi, kulitnya coklat bersih, rambutnya di potong pendek rapi di belah pinggir, bibirnya mungil namun wajah itu terlihat jadi tampan dan sempurna. Aku membayangkan ketika kelak dia menyebut namaku, oh Tuhan, benarkah dia?

Tak lama putriku membawa nampan dengan dua gelas teh hangat, juga sepiring brownies coklat panggang hasil karyanya di dapur.

“Zanna, duduk.” Putriku duduk di sampingku. Wajahnya terlihat merona dan terus menunduk. Lelaki gagah di depanku menatap putriku malu-malu. Ada binar yng begitu menyala di matanya saat menatapnya yang membuat hatiku mulai sedikit percaya.

“Ayah…eh…Om…maaf saya ke sini mengganggu dan menyita waktu Om.” Dia berbicara menatapku, sesekali pandangannya dialihkan ke meja yang di atasnya berdiri dua gelas teh hangat dan sepiring brownies coklat. Aku terdiam, sengaja ingin melihat seberapa tangguhnya lelaki gagah ini ingin mengambil sesuatu yang kumiliki. Dia terlihat semakin grogi.

“Ayah…ehm…ohm.” Kulihat peluh mulai mengalir dari dahinya. Tangan kananya menyodorkan sebuah kotak merah beludru berbentuk cinta. Aku masih berdiam diri, mencoba segarang mungkin di hadapan lelaki gagah itu. Aku tahu maksudnya apa, tapi aku ingin bertanya.

“Ini apa?” aku bertanya dengan gaya sok dingin.

Kemudian dia membuka kotak beludru berwarna merah itu, “Saya ingin melamar Zanna, putri Om.” Suaranya terdengar bergetar, peluh sedikit demi sedikit mulai membasahi wajahnya yang tampan.

“Saya nggak menjanjikan apa-apa selain memberikan yang terbaik untuk Zanna. Saya tahu hidup tak selamanya lurus. Namun, saya akan selalu menggenggam tangan Zanna erat agar kami tetap bersama jika badai datang.”

Kupandangi lelaki gagah itu sedikit lebih lama. Mencoba membaca aura yang memancar dari tubuhnya. Aku tahu hari ini akan datang. Ya hari ini akan datang, seorang lelaki terbaik yang berani meminta putriku utnuk diajak pergi mengarungi samudra yang pasti suatu saat akan datang badai,  atau ombak yang tinggi yang siap menelan  bahtera kapal.

Kutatap Zanna yang wajahnya masih merona, kepalanya masih menunduk. Aku tahu lelaki ini akan datang, Hamizan Pradipta, ketika dua hari yang lalu bibir mungilnya terbata-bata mengatakannya di hadapanku. “Hmmm…namanya Hamizan Pradipta, Yah. Dia kakak senior dua tingkat di tempat Zanna kuliah. Hmmm…Dia seorang konsultan IT di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di indonesa, juga di kantornya sendiri, sudah empat tahun dia merintis usaha ini.”

“Kau cinta dia Zanna?” kulihat Zanna mengangguk pasti. “Dia anak yang baik, Yah.”

“Kau sudah istikharah? Sudah mantap?” Zanna kembali mengangguk dan aku tersenyum. Tak ada yang kuragukan dengan  setiap keputusan dan keyakinan yang Zanna pilih. Zanna, usianya 23 tahun kini. Dia putriku satu-satunya, tidak sempurna, tapi aku tahu skillnya untuk menjadi istri dan ibu tidak diragukan lagi, hanya perlu mengasahnya dengan mempraktekkan apa yang dia tahu.

Kembali ke alam sadarku, kutatap lelaki gagah dihadapanku dan putriku secara bergantian. Wajah mereka terlihat tegang.

“Maaf aku tidak bisa menerima lamaranmu.” Ucapku santai. Lelaki gagah itu dan Zanna serentak menatapku, terkejut. Ada kilat kelu yang terpancar dari wajah mereka. Bulir-bulir mata Zanna sepertinya akan jatuh. Lelaki gagah itupun menatapku dengan penuh harap.

“Tentu aku tidak bisa menerima lamaranmu. Hanya Zanna yang bisa menerima lamaranmu. Aku hanya bisa mengamininya.”

Seketika wajah mereka berdua berbinar. Zanna mengangguk pasti. Lelaki gagah itu kemudian meraih tanganku dan berkata lirih,”Terimakasih, Ayah.” (tamat)

 

#terinspirasi oleh lagu Marry Your Daughter Brian Mcknight

Maukah Kau Mendengar?

“Keputusasaanku adalah ketika kau menjauh, dan rasanya begitu sulit untuk kurengkuh”

Kau hanya bisa kupandang dari kejauhan. Andai kau ingin menyalahkanku akan kuterima. Tetapi kini kau semakin menjauh dan rasanya sulit untuk direngkuh. Aku juga melihat kilat di matamu ketika tak sengaja berpapasan. Kilat yang sebenarnya membuatku bahagia tetapi tak pernah sekalipun kau memberikanku kesempatan untuk berkata-kata, menjelaskan apa yang kau katakan lewat kilat matamu itu.

Kulihat di sana, di bangku panjang taman sekolah di bawah pohon akasia, tawamu terlihat sangat lepas dan bahagia di antara Cloe dan Mirza. Cloe terkenal sebagai ahli programmer, dan Mirza terkenal sebagi layouter. Apakah kau punya rencana baru? Aku selalu penasaran dengan segala rencanamu. Jika dulu kau akan menceritakannya padaku, tapi kini? Satu…dua…tiga, ah sebenarnya baru seminggu kau mendiamkanku. Tapi rasanya seperti sudah berapa tahun tak bertemu.

“Aku sungguh kecewa ketika akhirnya suaramu kau berikan kepada Rein, No,” cecarmu siang itu setelah pemilihan Pemred Majalah Smart, majalah Sekolah Putra Bangsa.  Satu suaraku yang sangat menentukan siapakah yang akan menduduki bangku panas pemred Smart akhirnya kuberikan kepada Rein, anggota baru di redaksi Smart. Kulihat wajahmu mengeras sekaligus luka dan kecewa bercampur di sana, kilat mata yang berapi-api. Jabatan Pemred memang salah satu jabatan yang menjanjikan di Sekolah ini. Siapa yang menjabatnya akan mendapatkan rekomendasi dari pihak sekolah yang bisa digunakan untuk mendapatkan beasiswa.

“Bukan begitu, Nay. Kau harus mendengar alasanku dulu.” Jawabku waktu itu tapi kau tetap tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan alasan.

“Kau jatuh cinta sama Rein, bukan? Kau subjektive, No.” Cecarmu membuat lidahku jadi kelu. Aku tahu kau tidak akan bisa berfikir dengan benar ketika ada di puncak kemarahan. Andai kau tahu, Naya.

“Aku kecewa padamu, Reno. Kukira persahabatan yang terjalin sejak kita masih kecil akan membuatmu mendukung untuk meraih semua impianku. Tapi ternyata, kau lebih memilih mendukungnya, Rein yang kau kenal baru satu tahun.” Kemudian kau melenggang pergi dan aku hanya bergeming menatapmu. Kedua bahumu tersengal-sengal, aku tahu pasti jika kau menangis.

Aku dan kau bersahabat sejak masih belum bersekolah. Orangtua kita juga bersahabat, merekalah yang mengajari kita untuk menjalin persahabatan satu sama lain. Tak heran orangtua kitapun bersengkokol untuk menyekolahkan kita selalu ditempat yang sama. Kebetulan Sekolah Putra Bangsa memiliki semua jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga tingkat SMU.

Bel tanda istirahat berakhir terdengar nyaring. Kau bersama Cleo dan Mirza beranjak. Rambut sebahumu terlihat berkibar tertiup angin. Bibir mungilmu masih terlihat berkata dengan antuisas. Kau terlihat serasi di antara Cleo dan Mirza, tinggi tubuhmu menjulang tak begitu berbeda dengan tinggi mereka berdua. Di salah satu sudut sekolah yang memisahkan arah kelasmu dengan Cloe dan Mirza, kau berhenti sejenak, kemudian berkata dengan antusias, dan melambaikan tangan sebelum berpisah. Sepertinya kalian saling membuat janji temu. Kemudian kau setengah berlari menuju kelas kita  yang berada di ujung koridor ini. Kedua  tangan masuk ke dalam saku sweater abu-abu yang kau kenakan. Aku menyusul di belakang dan memanggil namamu.

Kau berhenti dan membalikkan badan. Seketika  senyum dan binary di wajahmu lenyap, berganti dengan seraut wajah penuh kemarahan bercampur luka dan kekecewaan. Kita hanya saling bertatap dalam diam.  Aku ingin minta maaf dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi diantara kita. Namun, detik berlalu dan kita maih sama-sama mematung dengan bias mata yang sulit diartikan. Nay, maukah kau mendengar penjelasanku dan mengerti apa yang kurasakan tentangmu?