Food and Travel

now browsing by category

 

Catatan Perjalanan 5 : Malaysia -Madinah

Perjalanan kurang lebih 10 jam dari Malayasia ke Madinah dimulai. Pesawat Saudi Arabian yang memuat kurang lebih 800 penumpang itu terbang dengan sempurna, begitu percaya diri.  Beberapa saat yang lalu sebelum pesawat benar-benar mengudara, prosedure penerbangan dilakukan seperti biasa. Namun kali ini terasa beda, biasanya awak pramugari yang akan memeragakan penggunaan alat keselamatan penerbangan a.k.a pelampung udara, namun di sini layar kaca 10 inchi di depan tempat duduk kita dengan otomatis akan menayangkan itu semua.

Untuk pertamakalinya menaiki pesawat besar sekelas Saudi Arabian, yang mampu menampung 800-an penumpang, saya merasa jika pesawat tidak bergerak karena tidak merasakan goncangan sedikitpun, kaca  jendela yang bisa di setel keburamannya sesuai dengan kebutuhan kita. Tak sepicingpun saya pejamkan mata. Saya edarkan pandangan menatap ke daratan, terlihat hanya hamparan biru atau hamparan gumpalan putih awan yang menyerupai kapas. Issue bahwa saya akan kedinginan di atas ketinggian 40000 kaki ini, tidak sedikitpun dirasakan. Saya mengerti bahwa kenikmatan itu sudah Allah jamin sejak awal mula perjalanan.

Pukul 11.00 waktu Arab Saudi, Pesawat mendarat di Bandara King Mohammad Bin Abdul Aziz. Ribuan penumpang turun, antri di bagian imigrasi. Terlihat petugas dengan muka kaku tanpa senyum memeriksa satu persatu penumpang, mencocokkannya dengan passport dan Visa umroh. Di counter tempat saya mengantri sepertinya mesin pendeteksi sidik jari rusak, sudah berlembar-lembar tissue yang dibuang untuk mengelap jemari agar terlepas dari minyak, itu dugaan petugas yang terus menerus menyodorkan tissue saat mesin pendeteksi gagal mendeteksi sidik jari saya. Ini juga terjadi di antrian saya sebelumnya, perlu waktu lama untuk satu orang menyelesaikan urusan administrasi agar lolos dari imigrasi. Namun di sini kita tidak bisa pindah seenak udelnya terkecuali petugas yang memintanya karena setiap loket sudah ada antrian yang menunggu.

Setelah semua rombongan berhasil lolos imigrasi, kami segera menuju ruang pengambilan bagasi. Bandara King Mohammad Bin Abd Aziz tidak terlalu luas seperti Bandara KLIA yang perlu waktu dua jam lebih untukk berjalan dari ujung ke ujung, naik turun tangga, hingga akhirnya selesai dari ruang pemeriksaan imigrasi. Setelah melewati bagian imigrasi, kita hanya perlu langsung turun ke lantai dasar tempat pengambilan bagasi.

Di luar bandara, bus besar telah menanti kedatangan kami. Rombongan kami yang berjenis kelamin laki-laki bergotong royong mengangkat tas memasukannya ke dalam bagasi bus.

Bus yang menjemput kami jenisnya seperti bus eksekutif antar kota – jika di Indonesia-. Tak perlu waktu lama, akhirnya kami meninggalkan bandara King Muhammad bin Abdul Aziz. Ruko-ruko sepanjang jalan bandara ke hotel masih terlihat buka, kuedarkan pandangan. Dan hampri 99% pedagang toko yang kulihat adalah berjenis kelamin laki-laki. Jalanan di kota madinah juga tidak padat, tidak ada sepeda motor terlihat. Mobil-mobil yang masih melintasi jalanpun adalah mobil-mobil berkelas.

Sekitar 30 menit kemudian, bus sampai di depan hotel. Kami segera berkemas, membersihkan diri dan menuju Nasjid Nabawi untuk sholat berjamaah. Kebetulan hotel tempat kami menginap berada di sudut gate 25. Tak perlu waktu lama untuk sampai di Masjid Nabawi, keluar dari hotel, terlihat sudah gate 25. Semuanya terasa mimpi, bahwa malam itu kaki saya mengginjakkan kaki di tanah impian para muslim. (bersambung)

Catatan Perjalanan 4 : Malaysia – Madinah

Rasa lelah tak terasa karena terganti oleh rasa bahagia yang menyelimuti jiwa ketika menyadari bahwa kami sedang menunggu penerbangan ke Tanah Suci. Untuk saya pribadi yang saat itu adalah  pertama kali, seolah hal itu adalah sebuah keajaiban.

Pukul 05.00 wib tepat saat pesawat AirAsia lepas landas dari Bandara International Terminal 3 Soekarno Hatta. Ketika jarak belum begitu jauh terbentang, kuabadikan Jakarta yang terlihat seperti bintang-bintang dari balik jendela. Kemudian ketika pesawat telah aman terbang di angkasa, dengan lirih kuikrarkan takbir dari bangku pesawat, menunaikan shalat shubuh. Tak berapa lama kemudian Pramugari dan Pramugara pesawat mendorong kereta, membagikan minuman dan makanan sesuai dengan pesanan yang telah tertera di tiket. Oleh pihak travel, kami serombongan dipesankan nasi padang untuk sarapan. Tentu saja kelezatannya berbeda dengan Nasi Padang yang berada di daratan. Namun, kami tak akan membuang percuma, terlebih perut kami memang sudah saatnya diisi mengingat  makan terakhir kami jam 20.00 wib semalam.

Mendarat di KLIA1

Kutatap jendela. Sinar matahari yang berwarna jingga menyembul dari balik awan. Satu dua bintang masih menghiasi langit. Indah….sungguh indah ciptaan-Nya. Sepanjang perjalanan hanya kutatap awan yang terlihat keemasan, hingga satu jam kemudian petugas memberiathukan jika pesawat akan mendarat di Bandara KLIA 1. Kabut sedikit membungkus pepohonan di sekitar Bandara, ketika pesawat telah berhasil mendarat di sana.

Mataku mengedar sekitar kawasan Bandara saat pesawat masih berjalan menuju Apron. Yang terlihat hanyalah kebun luas yang ditumbuhi pohon kelapa sawit. Rasanya sunyi, sepi jauh dari keramaian. Ketika menjejakkan kaki melewati garbaraga dan masuk ke terminal KLIA 1 kesan pertama yang saya dapatkan adalah bahwa terminal ini adalah bangunan tua, meski begitu bangunannya terlihat sangat kokoh dan tentunya sangat bersih.

Kemudian kami berjalan panjang, beberapa kali naik tutun tangga yang sangat tinggi untuk menuju imigrasi dan kemudian mengambil bagasi. Sangat melelahkan, namun karena kebahagiaan dan euphoria di hati masih terasa, maka kelelahan itu sama sekali tidak terasa. Dianjurkan memakai sepatu jogging ketika suatu hari nanti Anda  transit di KLIA 1 menuju Negara lainnya. Perlu  waktu sekitar dua jam lebih hingga akhirnya kita selesai melewati Imigrasi dan mengambil bagasi untuk melanjutkan penerbangan di Bandara KLIA2.

Bersama Ibu di KLIA2

Waktu hampir jam 11.00 siang waktu Kualalumpur saat kami menenteng bagasi dan memasukannya ke dalam bus transit yang akan membawa kami ke Bandara KLIA2. Pihak travel membawa kami untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pindah ke sana.

Beberapa saat kemudian Bus merah melaju menuju Bandara KLIA2, sepanjang jalan hanya pohon sawit yang terlihat. Perlu waktu sekitar 20 menit ke sana. Sayang sekali, saya tidak bisa mendokumentasikan sendiri dengan ponsel saya semua kegiatan di Kuala Lumpur, karena baterai gawai saya waktu itu sedang habis dan tidak sempat untuk menchargenya.

Bersama Ibu di KLIA2

Bangunan KLIA2 lebih modern dibandingkan bangunan Bandara KLIA 1, lebih mirip dengan bangunan Terminal 3 International Bandar Soeta. Bahkan untuk menuju gate-gate tertentu kita menaiki Aerotrain. Menunggu Gate Saudi Arabian, masing-masing kami mempersiapkan wudlu, agar setelah gate dibuka kami bisa menjalankan shalat Dhuhur dan Ashar yang di jamak.

Gate Aerotrain

Sekitar pukul 14.00 waktu Kuala Lumpur, gate di buka dan kami segera masuk dan menunaikan shalat di ruang tunggu. Ada sesuatu yang merayap, entah, suatu rasa yang sulit untuk dilukiskan. Setelah berdzikir dan mendengarkan kultum dari ustadz pembimbing, satu persatu penumpang sesuai dengan Zona tempat duduk dipanggil. Kebanyakan rombongan saya mendapat Zona C. kutatap pesawat Saudi Arabian yang berjajar rapi di Apron, rasanya menakjubkan.

Pukul 15.00 wib Pesawat Saudi Arabian siap lepas landas. Saya kebetulan mendapatkan tempat duduk di tepi dekat jendela. Posisi duduk yang selalu saya suka ketika sedang mengudara. Sayap Saudi Arabian yang begitu kokoh dan lebar, mengepak membawa kami menuju Kota Suci Madinah.

Perjalanan yang tak akan pernah saya lupa. (bersambung)

Menikmati Lezatnya Oleh-Oleh dari Jogja, Bakpia 5555 Mbak Fikki

Bakpia, salah satu makanan yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Makanan yang berbentuk bulat ini dulu awalnya adalah makanan khas dari Yogyakarta yang terkenal dengan nama Bakpia Pathok biasanya berisi kacang hijau yang sudah dilembutkan. Namun, seiring berkembangnya zaman kini Bakpia sudah bervariasi, termasuk juga banyak industri rumahan yang memproduksi  Bakpia. Salah satunya adalah Bakpia bermerek 5555.

Kebetulan, rumah produksi Bakpia 5555 ini tidak jauh dari kediaman saya di sudut kampung di Sleman. Jika pada tahun 2000 dulu saya harus ke pusat kota jika ingin membeli bakpia untuk oleh-oleh, maka kali ini saya bisa mendapatkan Bakpia dengan mudah, masih fresh dari oven dan terjangkau harganya dengan kemasan yang menarik.

Meskipun Bakpia 5555 termasuk industry rumahan yang tergolong baru, namun rasanya begitu pas, tidak terlalu manis, dan juga lembut. Selain itu ada beberapa varian rasa yang bisa dipilih sesuai dengan selera kita. Ada 4 varian rasa yang disediakan yaitu, kacang hijau, kumbu hitam, tela (ubi) ungu, tela (ubi) madu. Saya sendiri paling suka dengan varian isi tela (ubi) ungu. Rasanya betul-betul pas. Ukuran bakpianya juga terasa pas disajikan sebagai camilan.

Bapia 5555 milik mbak Fiki ini dibungkus dengan kemasan menarik. Ada pilihan kotak, antara lain kotak berisi 10 biji bakpia dengan harga Rp 8.500,-, atau kotak isi 30 biji bakpia  dengan harga Rp 24.000,-, atau 60 biji bakpia dengan harga Rp 50.000, saya sendiri suka membeli kotak dengan isi 10 biji agar mudah membagi-bagikan ke tetangga atau handai taulan.

Dengan logo Bakpia Fresh from Oven, bakpia 5555 bisa bertahan 3-4 hari di dalam suhu ruang, dan dapat bertahan lebih dari seminggu jika disimpan di dalam freezer. Jika Anda ingin berkunjung langsung ke tempat pembuatan bakpia 5555 ini dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana proses produksinya Anda bisa berkunjung ke alamat : Kejambon Kidul, kelurahan Sindumartani, kecamatan Ngemplak Sleman, Yogyakarta (timur Pasar Jambon, Ngemplak, Sleman). Selain bakpia, Anda juga bisa menemukan berbagai macam jenis oleh-oleh yang lain sebagai alternative.

Pas di lidah, Pas di kantong, Pas untuk oleh-oleh, begitu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kelezatan Bakpia 5555. Anda penasaran untuk mencicipi kelezatannya, silahkan berkunjung ke Makmur sesuai alamat yang saya tuliskan di atas. Selamat berburu kelezatan bakpia 5555.