Cerita Pendek drg White

Cerpen drg White. Rain duduk gelisah, sudah 30 menit duduk di ruang tunggu sebuah klinikgigi tetapi  pemeriksaan belum di mulai.  Jemari tangannya memainkan nomor antrian, angka 9 tertera di sana. Jarum panjang jam dinding di ruang tunggu menunjukkan angka 12, sedangkan jarum pendek menunjuk angka 6. Seharusnya 1 jam yang lalu klinik ini sudah mulai.”Jika jam segini belum dimulai, jam berapakah nanti selesai?” Rain mengeluh di dalam hatinya. Jika saja kalimat yang ke-3 kali tidak didengarnya dari lelaki yang dicintainya, Rain malas untuk duduk antri di sini.

Pukul 18.30 wib, ketika Rain kembali dari salat Magrib di mushola klinik, antrian no 1 baru saja dipanggil. Rain duduk sambil memainkan gawai, membaca novel di salah satu perpustakaan online di sana. Detik berlalu, membaca novel romance di gawainya, Rain seperti diingatkan akan kisah cintanya. 2 lelaki yang pernah di cintainya, semuanya selalu menuntut sempurna.meski kejadian itu sudah terjadi 1 tahun yang lalu, namun tetap membekas diingatannya. Kini dia tidak mau mengalami kegagalan yang sama, meski jalan yang ditempuhnya untuk meraih cinta berbeda.

Seminggu yang lalu Rain menerima taa’ruf dari seseorang. Dia baru menerima biodatanya, namun kemarin malam, lelaki itu mengatakan lewat perantaranya untuk melanjutkan proses ta’aruf. Mereka akan bertemu muka 2 minggu lagi. Rain merasa tak percaya jika prosesnya secepat itu. Dan satu lagi yang membuat percaya dirinya kembali luluh lantak.

“Nona Raina Nurmalasari.” Panggilan dari perawat membuat Rain berhenti dari lamunanya. Dan dia segera beranjak masuk ke dalam ruangan klinik drg White. Seorang lelaki muda tersenyum menatapnya. Dia adalah drg White. Sedikit terkejut Rain menatap wajahnya, sepertinya wajah lelaki itu terasa familiar. Rain mengangguk kikuk.

“Nona Raina Nurmalasari?” tanya drg White. Rain mengangguk.

“Ada keluhan apa, Nona?” tanya drg White ramah.

“Hmm…dok sebenarnya hmmm…keluhannya hanya satu. Adakah  cara memutihkan gigi yang aman, dok?”

Drg white masih terdiam seolah menunggu kelanjutan Rain berkata.

“Coba saya lihat!”. Rain melebarkan bibirnya, hingga gigi bagian depannya terlihat. Wajah drg White sepertinya kurang puas dengan apa yang dia lihat.

“Ayo kita periksa di sana, biar hasilnya lebih akurat.”Ucap drg White sambil menunjuk kursi periksanya yang berwarna putih tulang. Rain mengangguk daan segera memposisikan dirinya sejajar dengan kursi periksa itu. drg White mendekat dengan masker di wajahnya, kedua tangannya juga memakai sarung tangan. Lalu drg White memeriksa gigi Rain dengan cermat. Tak lama, dokter menyuruhnya untuk kembali duduk di kursi konsultasi.

“Sebenarnya gigimu masih terbilang oke. Apakah kamu pernah hidup tidak sehat selama ini seperti, sering minum kopi, atau minum minuman beralkohol? Atau bahkan merokok?”

Rain menggeleng, lalu kemudian bibirnya berkata,”Saya pencandu kopi, Dok. Hmm…maksudnya saya selalu rutin minum kopi pagi dan malam, atau mungkin siang hari saat di kantor. Apa itu pengaruh dokter?”

“Bisa jadi. Mungkin kamu bisa mulai mengurangi konsumsi kopi. Bisa dari 2 kali sehari menjadi 1 kali sehari. Lalu  3 kali dalam seminggu, dan lalu berhenti.”

“Selain itu ada tidak, Dok?”

“Kamu bisa memakai obat alami yang ada di sekitarmu. Seperti jeruk lemon. Peras 1 buah jeruk lemon, campur dengan 1 sendok the baking soda. Lalu gosok menggunakan sikat gigi.”

“Apakah itu bisa memutihkan gigi dengan cepat, Dok.” Rain bertanya dengan tidak sabar, Dia ingin mendengar drg White menjawab bahwa ada jaminan pemulihan yang ditawarkannya bisa berlangsung dengan cepat.

 “Semuanya tergantung konsistensinya, juga pola hidupmu. Kenapa, kamu tidak sabar melihat gigimu putih berkilau?”

“Eh..dok, hmmm..iya.” Rain menjawab dengan gugup.

“Saya tahu, gigi kuning terkadang membuat orang merasa tidak percaya diri. Apa karena kamu akan bertemu seseorang?”

“eh…,” Rain hanya tersipu malu menjawabnya.

“Kali ini saya tidak meresepkan obat untuk ditebus di apotik. Selain resep  yang saya bilang tadi, kamu juga mulai bisa menggunakan pasta gigi yang membantu memutihkan gigi. Banyak sekali sekarang pilihannya, kamu tinggal pilih yang cocok dengan gigimu.”

“Baiklah, Dok. Terimakasih sarannya.”

Rain beranjak setelah meninggalkan senyum untuk drg White. Tetapi sebelum mencapai pintu, Rain mendengar suara drgg White.

“Nona Raina, Sepertinya kita akan bertemu 2 minggu lagi. Dan saya tidak akan mempermasalahkan gigimu.”

Rain terdiam, lalu menoleh kepada drg White meski tidak paham dengan apa yang diucapkannya. Dia hanya bisa mengangguk ramah dengan wajah tidak mengerti, lalu keluar dari ruangan. Setelah membayar biaya konsultasi di meja kasir, Rain berjalan keluar klinik dengan kepala yang masih terisi dengan perkataan drg White sebelum meninggalkan ruangannya. Rain masih belum menemukan jawabanyya hingga angkot yang akan membawa ke rumah kontrakanya berhenti di depannya. (end)

#BloggerPerempuan
#30hariKebaikanBPN
#BPN30DayBlogChallenge
#Day9
#Cerpen


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: