Freechild, Antara Konsekuensi & Idealisme. Mendengar kata freechild saya langsung teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat saya masih bekerja di sebuah PMA. Saat saya melangkahkan kaki keluar, terlihat sedikit kericuhan terjadi di kantor Security. Seorang anak perempuan kecil berusia sekitar 10 tahun terlihat menggendong seorang bayi yang sedang menangis. Wajah anak perempuan itu terlihat pucat, seperti menahan ketakutan dan tekanan yang harus dia tanggung untuk anak se-usianya.

Kata anak tersebut, dia mencari ibunya yang kebetulan masuk shift siang. Dia bercerita jika dia dan adiknya yang dalam gendongan tersebut ditinggalkan di salah satu tempat permainan di mall yang berada tidak jauh dari pabrik tempatku bekerja. Mendengarnya, saya sungguh miris dan setitik gerimis membasahi pipi ini.

Dalam hati saya bertanya, bagaimana bisa anak sekecil itu harus menanggung beban seberat itu. Ada apa dengan kedua orangtuanya? Kenapa tega meninggalkan mereka berdua di tempat permainan (Zona 2000) tersebut?

Menghubungkan cerita saya di atas, dengan keputusan freechild mungkin ada korelasinya. Sebab memiliki anak bukan hanya sekedar ingin menunjukkan kepada keluarga besar, teman, atau pun lingkungan bahwa mereka sehat, bisa memberikan keturunan, tetapi sebenarnya ada tanggung jawab besar di dalamnya.

Apakah Freechild Itu?

Freechild adalah sebuah keputusan bagi pasangan yang telah menikah untuk tidak memiliki anak. Hal ini berarti dalam komitmen awal, kedua pasangan tidak merencanakan untuk memiliki anak. Tetapi tidak mustahil jika sudah berjalannya waktu, keputusan ini bisa berubah.

Mungkin jika tinggal di luar negeri yang budayanya berbeda dengan Indonesia, kondisi ini akan lebih mudah. Tetapi jika tinggal di Indonesia, 3 bulan setelah pernikahan saja akan banyak yang menanyakan apakah sudah isi atau belum. Rasanya jika tidak menebalkan telinga, lama kelamaan kondisi psikis juga akan terganggu.

Bahkan kita lihat, banyak pasangan yang rela menghabiskan uang jutaan rupiah demi usahanya mendapatkan keturunan. Namun tak dapat dipungkiri, kita juga sering mendengar berita pembuangan bayi, penelantaran anak, eksploitasi anak, atau pun anak-anak yang dari keluarga yang kurang harmonis dan lain sebagainya. Semuanya tak lepas dari kesiapan pasangan menjadi orangtua.

Freechild
Freechild or not?

Freechild VS Tanggung Jawab Sebagai Orangtua

Jika siap memiliki berarti akan beriringan dengan tanggungjawab besar untuk mendidiknya, memenuhi kebutuhannya dan juga memenuhi kebutuhan batinnya atau kasih sayang. Dan menjadi orangtua itu tidak mudah. Tidak ada pendidikan atau sekolah khusus orangtua. Jikalau pun ada, pada kenyataannya menerapkan ilmu yang kita tahu dalam proses pendidikan anak itu tidak mudah.

Anak adalah manusia, yang tetap memiliki karakter dan keinginan sendiri. Bahkan, anak-anak yang dilahirkan dari rahim yang sama saja tetap memiliki karakter yang berbeda. Maka ketika orangtua akan mendidik anak, yang pertama harus dilakukannya adalah mengenal karakter anak. Sehingga hasil didikannya lebih mengena dan insyaAllah berhasil.

Belum lagi pendidikan saat balita yang orang sering menyebutnya fase golden age, dimana fase ini biasanya orangtua dalam masa kerepotan atau kelelahan yang berlebihan. Terlebih lagi jika ibu mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri, mengurus lebih dari satu anak, suami lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja. Maka sudahlah, proses pendidikan anak kemungkinan besar tidak akan berjalan dengan maksimal.

Freechild
Bahagiakah dengan Freechild?

Posisi Anak dalam Kacamata Islam

Jika menjadi seorang muslim pastilah sudah hafal hadist yang berbunyi,”Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka putuslah segala amalnya kecuali 3 perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang berguna dan anak yang saleh yang mendoakan orangtuanya.

Jadi dalam hadist ini, anak itu seperti aset, bahkan bukan aset di dunia ini saja, aset untuk akhirat. Yang akan mendoakan orangtuanya saat mereka sudah tiada nanti.

Namun menjadikan anak yang saleh, yang paham agama dan mengerti keutamaan mendoakan orangtuanya juga adalah hasil dari didikan orangtua. Maka kembali lagi kesiapan orangtua, mampu atau siapkah membimbing anaknya menuju level ini?

Konsekuensi dari Keputusan Freechild

Setiap keputusan pasti ada konsekuensi-nya. Saya sendiri tidak pernah memiliki pikiran sedikit pun untuk freechild. Maka dari rahim saya telah lahir 3 orang anak. Saya sendiri mengalami bahwa tidak mudah memang mendidik mereka. Dalam artian saya merasa banyak melewatkan waktu berharga dengan mereka. Ingin rasanya mengulang kembali saat mereka kecil dan mengarahkan mereka lebih baik lagi.

Seperti yang pernah saya singgung di atas, bahwa budaya kita adalah budaya timur. Sudah tahu sendiri dong bagaimana “kepo”nya kita terhadap pasangan yang baru menikah atau bahkan yang sudah lama menikah. “Kapan nih punya momongan?” kalau sudah punya momongan ditanya, “Kapan nih punya adik?” begitu terus. Bahkan kalau anak kita banyak, atau berjumlah lebih daripada umumnya, akan ditanya,”Wah subur ya, punya adik terus?”

Salah satu konsekuensi ketika memutuskan freechild, berarti keturunan kita berhenti di sini. Bisa jadi tak ada gambaran saat tua berkumpul dengan anak cucu yang membuat bahagia. Lalu konsekuensi yang amat sangat mempengaruhi sisi psikologis kita adalah omongan orang. Tapi mau freechild atau tidak, orang lain hanya bisa berpendapat dan kita lah yang menjalaninya.

Freechild
Pasangan Bahagia

Penutup

Setiap orang dalam mengambil keputusan pastinya sudah mempertimbangkan efek positif dan negatifnya. Pastinya pun mereka sudah mempersiapkan mental sekuat baja karena pastinya ada yang pro dan kontra dengan keputusan ini.

Bagi saya sendiri, memilih freechild sah-sah saja, asalkan mereka bahagia. Karena kunci dalam melakukan segala sesuatu adalah bahagia. Seperti pasangan yang tidak memilih freechild , mereka juga harus bahagia ketika menjalani peran sebagai orangtua, bahagia ketika riweh dengan segala kerewelan anak. Sebab pada kondisi ini kita sebagai orangtua dituntut untuk tetap bisa mengendalikan emosi. JIka tidak akan berbahaya bagi keselamatan fisik maupun mental anak.

Nah, teman-teman, bagaimana dengan kalian? Apakah setuju dengan keputusan freechild ini? Jawab di kolom komentar ya.