Sumber: www.pexels.com

Kita adalah diri kita sendiri karena yang mengetahui persisnya isi hati dan apa yang terjadi dengan diri kita adalah kita sendiri.

Sudah lebih dari 3 bulan yang lalu saya resmi mengundurkan diri dari perusahaan tempat bekerja selama ini. Kini totalitas saya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Namun, semuanya tidak mudah dijalani. Banyak suara-suara yang mengatakan bahwa pilihan hidup yang saya buat adalah suatu kesalahan.

“Sekarang nggak kerja lagi ya, Mbak? Wah, sayang banget. Bukannya sudah permanent?”  kalimat-kalimat itu yang sering menyapa saya kini. Kemudian saya bertanya dalam hati kecil, apakah menyesal keputusan resign ini? Berulang kali memikirkan hal itu, dan saya bersyukur bahwa rasa penyesalan tidak ditemukan di hati.

Pilihan menjadi ibu rumah tangga atau menjadi pekerja kantoran, semua punya konsekwensinya sendiri. Menjadi ibu rumah tangga tentu saja tidak akan mendapat gaji bulanan dan bonus-bonus lainnya seperti pekerja kantoran. Namun menjadi pekerja kantoran, kita dituntut untuk fokus 8 jam lebih di sana, berkutat dengan segala macam kerjaan, belum lagi jika tidak mendapatkan boss yang bisa mendukung kinerja kita. Akan semakin membuat beban hidup meningkat.

Saya kemudian teringat khutbah idul fitri beberapa waktu yang lalu, ustad mengatakan bahwa kita harus  mendapatkan kehidupan yang tenang dan berkah. Karena nominal harta yang kita terima belum tentu menjamin ketenangan batin. Kemudian saya merenungi apa yang saya jalani selama ini, dan sepertinya ketenangan itu sedikit banyak menjauh, karena terkadang pekerjaan kantor terpikirkan di rumah, menjadikan tidak fokus di dua-duanya, dunia kerja dan dunia rumahtangga.

Lalu apakah saya galau dengan sapaan orang-orang yang seolah menyalahkan keputusan yang saya ambil, karena banyak di luar sana yang mencari pekerjaan dengan posisi yang saya pegang saat itu? Tidak. Sungguh saya tidak galau dengan itu. Saya menangkalnya dengan rencana-rencana hidup saya yang memang belum tentu semua orang akan mengerti. Namun, satu hal yang saya pegang yang penting suami mendukung keputusan saya dan siap dengan segala konsekwensinya.

Sumber : www.pexels.com

Berikut hal-hal yang bisa membuat saya lepas dari galau atas keputusan resign:

  1. Menentukan dan memetakan arah

Jadi kita harus tahu apa yang dilakukan setelah resign ini. Kita mau melakukan apa. Membuat peta yang ingin dicapai. Zaman digital seperti sekarang tentu tidak akan kesusahan melakukan aktifitas yang bisa menghasilkan uang dari rumah.

  1. Mengembangkan Hobi

Mengisi waktu yang lebih banyak di depan kita, gunakan untuk mengembangkan hobi. Kelak apa yang kita tekuni dengan serius akan membuahkan ahsil.

  1. Menulis

Waktu saya tentu lebih banyak saat ini dibandingkan saat saya masih kerja dulu. Jadi saya usahakan untuk menulis terus setiap hari, mengikuti komunitas-komunitas yang memberikan rangsangan pacu andrenalin.

  1. Membaca

Meningkatkan fungsi otak dengan terus membaca. Membaca Novel atau buku-buku lain yang bermanfaat atau membaca blog teman di komunitas.

  1. Berjualan Online

Ini satu hal yang sedang saya rintis. Belajar dari senior bahwa berjualan ini niatkan untuk membantu kebutuhan orang lain. Saat ini tentu banyak pengusaha yang membuka kesempatan untuk menjadi reseller, distributor atau agen. Terus bergerak mencari ilmu agar usaha ini tetap berjalan dan di ridhoi Allah.

  1. Biarkan anjing menggonggong

Biarkan saja orang berbicara tentang kita, selama kita tidak mengganggu urusan mereka. Ambil ibrah jika yang disampaikan adalah kebaikan. Abaikan jika yang disampaikan membuat lemah hati kita. Kitalah yang tahu diri kita sendiri. Jangan pernah mau dikontrol orang lain.

  1. Terus Mendekatkan diri pada Tuhan YME

Dialah Allah yang memiliki jiwa dan hati kita. Mendekat pada-Nya, pasrahkan pada-Nya apa yang kita usahakan. Bicarakan pada-nya keinginan-keinginan kita. Terus memujilah Dia, karena Dial ah yang pantas dipuji.

Nah, itu 7 hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi galau. Namun, bisa jadi obat anti galau Anda berbeda dengan apa yang saya uraikan di atas. Tetap berjalan maju, jangan biarkan kata-kata negatif masuk ke telinga dan mempengaruhi hati kita. Semangat!

 

“Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community”
#Day10


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: