Hoax Tentang Kusta? Yuk Kita Ketahui Faktanya. Kusta bukanlah penyakit baru. Penyakit ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Kusta adalah penyakit kulit yang jika cepat penanggulangannya maka akan bisa sembuh seperti sedia kala.

Tetapi, hingga saat ini banyak hoax dan stigma masyarakat yang terus beredar luas. Yang lebih mengherankan lagi, isu hoax yang sering beredar santer di tengah masyarakat bahwa kusta ini adalah penyakit kutukan dari dosa-dosa di masa lampau. Namun semua ini tidak benar. Jika hal ini tidak cepat ditanggulangi atau masyarakat tidak diberi edukasi yang benar maka justru akan membahayakan penderita kusta sendiri.

Nah, sebelum kita mengupas jauh masalah kusta, mari kita cari tahu apakah penyakit kusta itu sendiri

Tentang Kusta

Kusta sudah dikenal sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Pada saat itu penderita kusta telah langsung mendapatkan pengasingan karena masyarakat merasa jijik dan takut, dan penderitanya pun merasa tidak percaya diri dan malu.

Penyakit kusta sering juga disebut penyakit Hansen, sesuai nama yang menemukan penyakit ini. Pada awalnya penderita kusta hanya menganggap biasa saja penyakit ini. Sehingga kemudian orang-orang yang berhubungan langsung atau memiliki kontak secara terus menerus bisa tertular penyakit ini.

Kusta adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae. Bakteri kusta ini mengalami perkembangbiakan selam 2-3 minggu. Bakteri ini mampu bertahan di dalam tubuh manusia selama 9 hari. Lalu di luar tubuh manusia, bakteri ini membelah diri dalam waktu 14 – 21 hari. Masa inkubasi penyakit ini mulai 2 tahun hingga 5 tahun, bahkan ada yang lebih dari 5 tahun.

Masa inkubasi adalah masa di mana bakteri masuk ke dalam tubuh manusia hingga orang tersebut memiliki gejala-gejala penyakit tertentu. Dalam hal ini penyakit kusta.

Selain menyerang kulit, mycobacterium leprae juga menyerang saraf, sehingga penderita bisa mengalami disabilitas permanen, jika penderita tidak segera tanggap dengan gejala yang ada dan menganggap penyakit ini hanya penyakit kulit biasa.

Hoax tentang Kusta
Lawan Hoax tentang Kusta

1. Gejala-Gejala Terkena Kusta

Setelah masa inkubasi antara 2 sampai 5 tahun tersebut, penderita kusta akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut antara lain kulit mengalami bercak putih, merah, rasa kesemutan bagian anggota tubuh hingga mati rasa atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

2. Jenis-Jenis Kusta

Kusta dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu kusta jenis PB yaitu pausi basiler atau kuman sedikit dan MB yaitu multi basiler atau kuman banyak. Keduanya memiliki ciri yang tidak jauh berbeda, dan berikut ciri-ciri dari kedua jenis kusta tersebut

Ciri Kusta PB yaitu:
1. Lesi atau bercak di kulit (warnanya lebih cerah dari warna kulit lainnya) tidak lebih dari 5
2. Penyebaran secara asimetris yaitu hanya terkena pada bagian atau kanan tubuh saja
3. Hanya mengganggu satu syaraf saja atau misalkan terkena di wajah, hanya wajah saja
4. Mati rasa pada lesi atau bercak di kulit

Ciri Kusta MB yaitu:
1. Lesi lebih dari 5 dan menyebar ke beberapa bagian tubuh, misalkan di wajah, punggung, tangan atau kaki
2. Bentuk penyebaran secara simetris artinya bisa terkena pada bagian kanan dan kiri
3. Mengganggu lebih dari sat syaraf
4. Mati Rasa

MDT pegobatan Kusta
Pengobatan Kusta

3. Pengobatan Kusta

Pengobatan bagi penderita kusta biasanya dengan melakukan MDT yaitu Multi Drug Theraphy, baik untuk penderit PB maupun MB hanya saja dosisnya berbeda. Jika PB cukup 1 blister untuk tiap bulannya dalam waktu 6 – 8 bulan, sedangkan untuk penderita kusta MB 1 blister tiap bulan untuk waktu hingga 12 bulan. Dan sangat dianjurkan pengobatan ini tidak berhenti di tengah jalan, jikalau pun berhenti harus dari anjuran dokter.

Bagaimana jika pengobatan sudah terlambat? Pengobatan bisa dilakukan dengan rehabilitasi yaitu dengan terapi gerakan rutin setiap harinya atau menggunakan alat-alat yang membantu kegiatan sehari-hari.

Lalu bagaimana jika penderita mengalami efek samping selama pengobatan? Penderita harus melakukan konsultasi pada dokter, mengikuti hal-hal yang dianjurkan oleh dokter dan jika melakukan penghentian pengobatan harus dengan persetujuan dokter. Sehingga pengobatan yang telah berjalan selama ini tidak sia-sia. Sebab kondisi masing-masing orang berbeda dalam menerima obat.

Hoax Tentang Kusta
Kusta Adalah

Menyangkal Hoax tentang Kusta dengan Mengetahui Datanya

Membandingkan jumlah penderita kusta pada tahun 2019, ternyata jumlah penderita kusta di Indonesia mengalami penurunan. Yaitu dari jumlah penderita sebanyak 17.479 jiwa dan pada tahun 2020 jumlahnya turun menjadi 16.700 jiwa.

Sebagai negara yang menduduki urutan ke-3 dari jumlah penderita kasus baru kusta, sebenarnya 26 provinsi di Indonesia sendiri telah mencapai tingkat eliminasi kusta. Sedangkan 8 provinsi lainnya masih belum mencapai angka eliminasi kusta. Eliminasi kusta berarti jumlah penderita kusta mengalami penurunan. 8 provinsi tersebut adalah Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Secara spesifik ada 113 kabupaten yang belum mencapai angka eliminasi kusta dari 514 kabupaten di 22 provinsi yang tersebar di Indonesia. Sedangkan secara persentase penderita anak sebanyak 11% pada tahun 2019 dan 10% pada tahun 2020.

Namun meskipun ada penurunan angka penderita kusta, kita belum bisa memastikan bahwa ini termasuk kabar buruk atau kabar baik. Kabar baiknya jika memang benar angka penurunan ini karena effort kita semua untuk menekan peningkatan penderita kusta sudah berhasil berarti tujuan eliminasi kusta sudah tercapai.

Sedang kabar buruknya, bisa jadi karena masa pandemi seperti sekarang, kita tidak bisa melakukan screening secara rutin, sebab adanya prokes yang menjadikan pembatasan kontak kepada orang lain untuk mencegah peningkatan Covid. Sehingga jumlah penderita yang sesungguhnya tidak bisa tercatat dengan akurat.

Meski begitu, sudah seharusnya kita tetap melakukan usaha memberantas stigma dan hoax yang beredar di masyarakat tentang penyakit kusta ini.

Hoax tentang Kusta
Hoax tentang Kusta

Stigma dan Hoax tentang Kusta

Selama ini kita mendengar banyak stigma yang beredar di tengah masyarakat tentang penyakit kusta. Kita sendiri harus paham apa dan bagaimana tentang penyakit kusta itu dengan mencari sumber berita yang akurat. Berikut ini Stigma dan hoax yang sering terjadi di tengah masyarakat kita:

  1. Kusta adalah kutukan, yaitu penyakit yang disebabkan karena dosa-dosa di masa lalu, atau dosa turunan.
  2. Kusta bisa menular karena sentuhan, pada kenyataannya kusta menular tidak semudah itu. Tidak seperti Covid-19 yang hanya berdekatan saja bisa tertular. Kusta menular pada orang yang berhubungan secara terus menerus dalam waktu yang lama, seperti orang yang tinggal serumah dengannya.
  3. Hyginitas atau kebersihan diri yang buruk, penyebab kusta adalah bakteri mycobacterium leprae.
  4. Kusta tidak bisa disembuhkan, hal ini sangat tidak benar. Kusta bisa disembuhkan bahkan bisa pulih seperti semula asalkan penanggulangannya sesuai dengan prosedur dan penanganannya belum terlambat.

Nah, karena hoax dan stigma di atas, oypmk (orang yang pernah mengalami kusta) mendapatkan perlakuan yang tidak adil seperti mengucilkan penderita kusta. Bahkan ini benar-benar terjadi di sebuah komunitas yang mana anggotanya merupakan oypmk, mereka tidak mau berteman atau duduk satu ruangan dengan oypmk tersebut. lalu bagaimana oypmk bisa benar-benar sembuh secara fisik dan psikis, jika tidak mendapat support positif dari lingkungan sekitarnya?

Ketahui Fakta Tentang Kusta
Fakta tentang Kusta

Kesimpulan Hoax tentang Kusta

Untuk memberantas stigma masyarakat terhadap penyakit kusta kita perlu mengedukasi masyarakat tanpa menggurui. Teknologi telah membantu degan munculnya berbagai media sosial dan ruang penyiaran seperti KBR.id atau youtube di channel berita KBR.

Kusta Bukanlah penyakit kutukan, bukan pula penyakit yang tidak disembuhkan

Penderita kusta juga harus paham dengan hal ini, bahwa kusta itu bisa disembuhkan. Agar mereka tidak merasa putus asa dan mau melakukan pengobatan karena harapan sembuh itu sangat tinggi.

Masyarakat luas yang bukan penderita kusta lebih baik memberikan support positif dan melepas stigma yang selama ini melekat di benak kita bahwa Kusta tidak menular hanya dengan sentuhan dan bukanlah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Yuk gaungkan kusta di udara agar penderita kusta bisa sembuh dari penyakitnya dan tidak ada penambahan jumlah penderita kusta.