Kado Terindah untuk Raini

Lomba Cerpen Gandjel Rel

 

“Bapak, aku tidak mau diduakan!” Hatiku tercabik-cabik membayangkan diriku menjadi istri ke-2 dari lelaki itu. Airmataku turun deras membasahi pipi, tidak peduli lagi dengan riasan.

***

Awal Januari 2021, kuserahkan amplop coklat kepada bapak.

“Aku percayakan pada Bapak. Ada yang mau taaruf sama aku, Pak.” Siang itu bapak menerimanya dengan wajah keheranan. Mata bapak terlihat bertanya-tanya tetapi bibir hitamnya hanya bungkam. Aku hanya mengangguk dan percaya jika bapak selalu paham aku, anak pertamanya yang kini berusia 30 tahun. Aku lalu beranjak ke kamar. Kamar yang tidak terlalu luas kuhuni dengan 3 adik perempuanku.

“Ni,” Suara Bapak terdengar memanggilku dari luar tak lama kemudian.

“Kamu yakin nggak ingin membaca isi amplop ini, Nduk?” tanya bapak yang kemudian berjalan melangkah menuju sofa ruang tamu. Aku menyusul duduk di sebelahnya. Amplop itu sudah terlihat  terbuka dan isinya tergeletak di atas meja.

“Nduk, aku tahu kamu kecewa dengan apa yang terjadi satu tahun lalu, atau tahun-tahun sebelumnya. Tapi jangan seperti ini. Amplop yang ada di tangan Bapak ini adalah proposal masa depanmu. Apa kamu benar-benar tidak ingin mengetahuinya?”

Aku menggeleng perlahan. Kutatap lantai keramik putih yang kupijak. Kupilin-pilin ujung jilbab dengan ujung jemariku menghilangkan rasa asing yang sulit kupahami. Usiaku 30 tahun kini, bahkan awal Februari nanti genap 31 tahun.

Aku sudah sangat ingin menikah di usiaku yang sudah terbilang sangat matang. Pekerjaanku seorang editor di salah satu penerbit ternama. Gajinya lumayan. Namun aku juga tulang punggung keluarga. Nyaris semua gajiku digunakan untuk memenuhi keperluan keluarga dan sekolah adik-adik. Bapak hanya seorang reparator barang elektronik rumahan, sejak pabrik baja tempatnya bekerja gulung tikar 10 tahun yang lalu. Ibu juga hanya ibu rumah tangga biasa. Tetapi saat itu, bapak dan ibu berjuang menguliahkanku hingga menjadi sarjana dan aku bisa berada di titik ini.

“Kamu benar-benar tidak ingin tahu tentang calon yang sekarang ini?”

Aku menggeleng,”Tidak, Pak. Kupercayakan sepenuhnya pada Bapak. Aku yakin Bapak bisa menentukan mana yang terbaik untukku.” Kudengar suara helaan nafas bapak. Aku mengerti jika beliau sedikit resah dengan tanggapanku akan proposal kali ini. Aku bukannya tidak ingin mengetahui, aku hanya takut.

Hampir setahun yang lalu aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku jatuh cinta hanya dengan melihat foto plus profilnya yang terlampir di proposal tersebut. Dan itu sungguh menyiksa, apalagi kudengar dari perantara jika dia berniat melanjutkan taaruf itu.

Setelahnya aku lepas kendali, menstalking akun FBnya. Hatiku terluka ketika akhirnya lelaki itu tidak melanjutkan proses. Kata Bapak, biodatanya masuk ke dua wanita dalam waktu bersamaan. Dan lelaki itu memilih perempuan yang satunya, bukan aku.

Meski susah, akhirnya aku bisa menerima keputusannya. Lalu kucoba memperbaiki diri dan mendekat kepada-Nya. Namun, hatiku tetap tersayat ketika menatap foto pernikahan mereka beberapa bulan kemudian.  Aku tidak ingin hal itu terulang lagi, jatuh cinta kepada orang yang tidak tepat.

“Baik, Nduk. Bapak akan meminta petunjuk-Nya 3 hari ini. Jika jawabannya iya, dia minta disegerakan. Mungkin awal bulan Februari ini langsung akad dan resepsi sederhana. Oya, bagaimana kalau pas hari lahirmu saja? Pas banget itu, Nduk. Tapi, kamu beneran tidak ingin membaca proposal ini?”

Aku hanya menggeleng.

***

Lomba Cerpen Gandjel rel
Cerita pernikahan

Tiga hari kemudian bapak mengatakan menerima proposal lelaki misterius itu.  Ketika bapak menawari untuk bertemu muka, aku masih tidak menyanggupinya. Aku pasrahkan semuanya kepada bapak. Dan anehnya laki-laki itu tidak mempermasalahkannya. Mungkin karena banyaknya foto diriku yang kutitipkan untuknya. Bapak pun tidak berkomentar apa-apa, juga tidak membujukku lagi. Hanya kalimat beliau yang sempat membuatku penasaran.“Hmmm…baiklah, mungkin kamu sebaiknya memang tidak bertemu dia hingga di pelaminan.”

Tetapi semua terlupa hingga lima hari setelah percakapan dengan Bapak, lelaki itu datang bersama beberapa anggota keluarganya untuk lamaran. Meski ada sedikit rasa penasaran, tetapi aku tetap dengan keputusan semula, tidak ingin menemui lelaki itu sebelum ijab kabul diucapkan. Bapak berkata jika 5 Februari tepat di hari ulang tahunku, akad dan pesta kecil akan dilaksanakan.

***

Rumah terlihat lebih meriah dari biasanya. Saudara-saudara jauh berdatangan. Hari ini akad nikah akan dilaksanakan. Bapak berdiri di depanku, beberapa saat sebelum ijab kabul dilaksanakan, Menatapku penuh kasih, menyadari jika aku-anak pertamanya- akan segera diboyong lelaki asing.

“Mmmmmm…Pak,” gumamku ragu.

Bapak kemudian duduk di depanku.”Ada apa. Kamu tidak berubah pikiran, kan?” tanya bapak sedikit terdengar risau. Kugelengkan kepala.

“Mmmmm….Aku…aku ragu.” Bapak menatap dan membelai kepalaku yang sudah dihiasi mahkota.

“Nduk, katanya kamu serahkan semua keputusan kepada Bapak. Mengapa di saat-saat terakhir begini kamu berkata seperti itu? Pada awalnya Bapak ragu, karena suatu hal. Tetapi percayalah, pilihan Bapak tidak akan mengecewakanmu.”

Hatiku berdesir mendengar penuturan bapak. Kemudian beliau berlalu dari kamar.. Beberapa saat kudengar suara “sah” saling bersahut-sahutan. Hening memelukku, seolah membawaku ke dunia mimpi. Lalu, suara pintu terbuka  dan mengejutkanku. Di depan pintu menjulang sosok yang mengenakan baju melayu warna putih yang begitu kukenal, tersenyum padaku. Dia kemudian melangkah mendekatiku. Bapak berjalan mengiringinya. Aku terkejut, lelaki itu.

Lomba Cerpen Gandjel Rel
Cerita Fiksi Gandjel Rel

“Bapak, bagaimana mungkin? Bukankah dia sudah menikah?”tanyaku dengan suara bergetar. Aku justru tidak menghiraukan sosok lelaki yang kini berstatus suami.

“Cium dulu tangan suamimu! Nanti Bapak ceritakan.”

“Bapak, aku tidak mau diduakan,” Hatiku tercabik-cabik, sakit sekali rasanya. Airmata menetes berjatuhan membasahi pipi. Aku tak peduli dengan riasan. Dia yang dulu menolak dan kini menjadikanku istri ke-2.

“Tenang, Nduk. Tidak mungkin Bapak melakukan itu.”

“Tapi, Pak.” Aku menangis tersedu.

“Raini, istrinya telah meninggal sebulan setelah menikah karena sakit. Kamu tidak di duakan. Sekarang sambut suamimu, dan keluar untuk menyalami para tamu.”

Sebuah kesadaran seperti disentakkan. Nafasku masih tersengal-sengal menahan isak. Hatiku yang sebelumnya bergemuruh mulai sedikit mereda. Kutatap lelaki itu, tersungging senyum manis di bibirnya. Perlahan dia mengulurkan tangan. Tanganku bergetar meyambut, lalu kucium dengan takdzim. Meski masih dalam keadaan terkejut, aku berjalan di sisinya. Tangan kami yang dingin saling menggenggam. Allah, terimakasih kado terindah di usiaku ke-31 ini. (end)

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel”

Lomba Cerpen Gandjel Rel
Lomba Fiksi Gandjel Rel

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.