Waktu telah bergerak begitu cepat, betapa puluhan tahun berlalu dan kini saya telah menginjak usaia matang (Tak ingin dibilang tua). Dunia yang telah berubah dengan segala kemajuan tehnologi dan hidup yang tak lagi sama dengan puluhan tahun yang lalu, pun dengan kondisi anak-anak masa sekarang.

Kilasan kejadian silih berganti datang namun kenangan tentang masa kecil di sebuah kampong di kaki gunung merapi tak pernah lekang oleh waktu. Meskipun raga saya tak lagi di tanah kelahiran itu.

Kenangan Bersama Teman-Teman Sepermainan

Ah, zaman dulu belum ada gadget seperti sekarang. Zaman itu televispun masih berwarna hitam putih dan kita harus berbondong-bondong menonton di salah satu rumah tetangga yang memilikinya. Jadi malam minggu jatah kami semua penduduk kampong nonton bareng di rumah tetangga tersebut, biasanya hingga jam 1 dini hari, setelah film akhir pekan.

Di siang hari, setelah pulang sekolah, kami akan berkumpul di lapangan tengah kampong yang sejuk, karena kanan kirinya berdiri pohon-pohon tinggi juga bamboo-bambu yang menjulang. Kami akan bermain petak umpet, go back so door, jek-jekan, lompat tali, rumah-rumahan, benthic, egrang dan lain sebagainya. Semua kami lalui hingga SMP usai.

Di sore hari menjelang magrib, kami akan berbondong-bondong menuju mushala untuk belajar mengaji hingga waktu isya. Saat lebaran kami  selalu berharap uang-uang koin mampir ke tangan kami.

Semua usai setelah kami masuk SMA. Merasa sudah dewasa dan tidak perlu memainkan permainan tradisional tersebut. Pun sudah mulai banyak yang memiliki kekasih, atau beberapa orang yang usaianya di atas saya merantau ke Jakarta.

Ini cerita tahun berapa, Mak? Ini tahun 1985 an. Jadul banget ya?

sumber : www.freeepik.com

Kenangan Bersama Ayah

Saya tidak punya banyak kenangan bersama ayah, karena ayah telah pergi meninggalkan keluarga kami saat usia saya masih 8 tahun. Namun, kenangan yang sedikit itu tidak pernah lekang oleh waktu. Ayah dengan tubuh jangkung dan wajah tampannya, berhidung mancung mengayuh sepeda onthel setiap pagi menuju tempat mengajarnya. Namun, pagi-pagi sekali sebelum ayah pergi, dia akan pergi ke sawah mencangkul atau menanam sawi. Pada musim tanam jagung, di sore hari kami akan ke sawah, bermain petak umpet dan ayah akan memetik beberapa jagung muda untuk direbus.

Saya tak begitu paham sakit apa yang diderita ayah saat itu, karena ayah harus dirawat dirumah sakit untuk waktu yang agak lama. Dan dengan alasan saya masih kecil, tak pernah seorang pun mengajak saya menjenguknya. Hingga pada suatu malam, di antara lampu minyak tanah yang menerangi rumah kami, tangis sedu terdengar dari susut-sudut rumah. Saya yang tak mengerti ikut terbawa suasana dan airmata menetes perlahan. Tak lama orang datang berbondong-bondong ke rumah diikuti sirine yang meraung-raung dan akhirnya diganti suara isak tangis. Dan sejak saat itu hidup kami berubah. Bahkan pohon jambu biji merah , pohon papaya jingga, dan mangga manalagi ikut meranggas setelah kepergian ayah.

Yah itulah kenangan kecilku, ada suka dan ada duka. Yang pasti, saya masih menikmati bermain dan berkumpul bersama teman-teman menghabiskan waktu. Semoga teman-teman memiliki kenangan manis saja ya (end)

#Day25
#Bloggerperempuan
#BPN30DayBlogChallenge


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

1 Comment

CarloBig · 21 December 2018 at 22:33

Hi. I have checked your wiwidstory.com and i see you’ve got some duplicate content so probably it is the reason that you
don’t rank high in google. But you can fix this issue fast.
There is a tool that creates content like human, just search in google:
miftolo’s tools

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: