Hotel Marsha Makkah

Hotel Marsha Makkah

Pada Februari 2018, setahun yang lalu, Allah berkenan memanggil saya untuk berkunjung ke Baitullah. Sungguh suatu hadiah terindah yang tak pernah terpikirkan oleh saya. Bismillah, dengan kebahagiaan yang membubung saya tak pernah muluk-muluk untuk dapat bermalam di Zam-Zam Tower, salah satu hotel bintang 5 yang letaknya persis di halaman Masjidil Haram.

Saya dari Batam menuju Jakarta , menginap di salah satu hotel dekat dengan bandara. Kemudian dini hari berangkat ke Bandara untuk terbang ke Malasya pada pukul 5 pagi. Saya sungguh salut dengan travel yang menangani kami, pelayanannya sangat memuaskan, padahal kami mengambil paket regular, bukan paket plus-plus. Pukul 3 sore kami terbang dari Malasya menggunakan Saudi Arabian, pukul 11 malam waktu Arab Saudi pesawat akhirnya mendarat di Bandara Madinah.

Abu bakar Gate Madinnah

Di Depan Abubakar Gate Madinah

Saya masih belum percaya ketika kaki ini menjejak di tanah para nabi. Kemudian kami di bawa ke Hotel untuk persiapan sholat jamaah di Masjid Nabawi. Hotel di Madinah terletak di sudut gate 25. Sangat dekat sekali, begitu keluar pintu hotel, gate 25 sudah di depan mata. Di Madinah ini tidak terlalu banyak toko yang menjual makanan. Sehingga uang kami aman dari godaan mencicipi makanan khas Arab Saudi. 3 hari kami menyelesaikan ibadah di Madinah. Lalu siang harinya bertolak ke Makkah untuk melaksanakan ibadah Umroh. Lama perjalanan sekitar 5 jam. Pukul 11 malam kami tiba di hotel Marsha yang letaknya tidak begitu jauh dari Masjidil Haram, meski perlu jalan kurang lebih 5 menit.

Mengingat begitu padatnya jamaah umroh sekaligus jamaah lokal, maka saya  lebih sering menetap di masjid. Biasanya jam 2 Waktu Arab Saudi jalanan di depan hotel sudah penuh dengan jamaah yang berbondong-bondong untuk pergi ke Masjid. Sungguh pemandangan yang indah sekali bagi saya. Setelah sholat subuh, biasanya saya menunggu masuk sholat dhuha baru pulang ke hotel untuk sarapan.

Ka'bah Makkah

Ka’bah di Makkah

Di hotel tempat saya menginap di Makkah terdapat dua restoran di lantai 2 dan lantai 3. Lantai 2 restorannya kecil terbagi dengan 3 katering untuk travel lainnya, salah satunya dari travel kami. Di lantai 3, restorannya lebih luas dan mayoritas jamaah umroh menghabiskan makan dan sarapannya di sana. Saya dan keluarga selalu memilih untuk makan di restoran lantai 2. Di sana sebenarnya sudah ada jadwal tertentu untuk makan. Namun penunggu katering selalu sabar menunggu kami yang selalu molor dari jadwal yang seharusnya sudah tutup. Sering kami sarapan pukul 08.30 Waktu Arab Saudi dan makan malam jam 10 waktu Arab Saudi, padahal harusnya jam tersebut katering sudah tutup. Yang membuat saya terkejut dan entah harus bilang apa, makanan yang sisa itu dibuang begitu saja, padahal lebih sering makanan sisanya masih banyak. Ya Allah, kalau mengingat keadaan di tanah airtentu saja sayang sekali rasanya melihat masakan lezat dengan beberapa menu itu dibuang percuma. Sisa makanan itu dimasukkan ke kantong sampah besar, rasanya saya yang orang udik ini ingin menyimpannya.

Tetapi pemilik katering sendiri yang kebetulan orang Sumbawa, bertanya seolah pada diri sendiri ketika kami berkata bahwa sangat sayang sekali makanan segitu banyak dan lezat dibuang percuma,”Mau dikasih siapa di sini? Tidak ada fakir miskin yang bisa dikasih.” Kami pun hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti situasi dan kondisi. Namun, di hari terakhir sebelum kami kembali ke Tanah Air, sekitar 3 kilo dendeng batokok yang siap dibuang ditempat sampah saya minta dan menjadi oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Malu ya…enggak…sayang banget kalau mau dibuang.

Zam Zam tower & Hotel

Zam Zam Tower and Hotel

Selain makanan yang berlimpah dan tidak tahu mau menyalurkannya ke mana jika berlebih, di sana tradisi memberikan shadaqah makanan sepertinya sudah biasa. Di setiap pagi, toko-toko makanan di sepanjang jalan akan memberikan sarapannya kepada orang-orang yang sudah panjang mengantri di depan tokonya. Ini tidak hanya satu, hampir semua toko makananan yang sudah buka. Belum lagi kalau pergi ke pasar, berkardus-kardus botol-botol air zam zam akan ditaruh di sepanjang jalan dan gratis bagi siapa saja. Juga ditemui banyak penduduk yang menshodaqohkan sekotak susu sapi dan sebungkus roti di jalan-jalan. Sungguh negeri yang berkah tak kekurangan.

Pengalaman tentang makanan yang berlebih dan juga kegemaran bershodaqoh sangat membekas di kepala saya. Saya sering mengandaikan jika itu di Indonesia, apa tidak berkardus-kardus air zam-zam yang ditaruh di jalanan itu akan diambil lalu dijual ulang kepada kita? Ah itulah bedanya negeri penuh berkah. Semoga suatu hari nanti saya dan keluarga juga pembaca bisa berkunjung kembali ke tanah suci, syukur-syukur bisa menunaikan ibadah haji. Aamiin.


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

2 Comments

Wildan Fuady · 2 March 2019 at 09:52

Insya Allah segera nyusul. Doakan ya

    Wiwid Nurwidayati · 3 March 2019 at 10:06

    Aamiin,,,allohumma aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: