Peran keluarga Sebagai Support Sistem Penyintas Kekerasan Seksual – Jika mendengar kekerasan seksual, apa yang terlintas di benak teman-teman semua? Saya sendiri membayangkan tentang sebuah pemaksaan tindakan seksual terhadap seseorang, terutama wanita.

Dan bagaimanakah perlakuan terhadap para korban kekerasan seksual ini di Indonesia? Kebetulan ICC bersama Mubadalah.id pada 11 Januari 2021, mengadakan webinar seru tentang Peran Keluarga sebagai Support Sistem Penyintas Kekerasan Seksual Via Zoom meeting.

Kekerasan Seksual
ICC Webinar Sharing

Webinar diisi oleh mbak Muyassarah Hafidzah, ibu 3 anak dan juga penulis novel dengan judul Hilda dan Cinta Dalam Mimpi. Novel ini terisnpirasi berdasarkan kisah nyata ini, mengangkat tentang korban kekerasan seksual bernama Hilda.

Sekilas Tentang Novel Hilda, Cinta Luka dan Perjuangan

Pada saat webinar, Mbak Muyass sedikit menceritakan tentang isi Novel Hilda ini. Oh ya, Novel Hilda sudah habis loh di tempat Mbak Muyass. Tapi panitia punya kejutan khusus bagi peserta ODOP ICC yang bisa menuliskan acara Webinar ini dengan baik.

Novel Hilda sendiri berkisah tentang seorang gadis remaja akhir SMA, yang sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir sekolah harus menerima kenyataan pahit ketika diperkosa oleh lelaki tidak bermoral. Dan akibat dari perkosaan itu, Hilda dinyatakan hamil dan harus menerima kenyataan pahit lagi jika dia harus dikeluarkan dari sekolah.

Adalah hal yang patut dicontoh oleh anggota keluarga lain adalah Ibu Hilda, Ibu Juju, tetap dengan lapang dada dan welas asih menerima Hilda. Hal pertama yang dilakukan Ibu Juju saat melihat Hilda dengan pakaian compang-camping dan bagian kemaluan pendarahan adalah menanyakan bagaimana keadaanya, bukan mencaci atau memarahi.

Hingga kemudian Hilda bisa tetap bangkit dan membesarkan anaknya menjadi sholeh dan juga menemukan cintanya kepada Gus Wafa

Di sisi lain justru hal lain miris ditemukan. Seperti di bab pertama yang saya baca di laman Fatayat Diy, pada sebuah seminar seru, terjadi perdebatan tentang masalah perzinahan dan pemerkosaan.

Di dalam seminar tersebut justru dari kaum hawa sendiri menyalahkan perempuan yang mengalami pemerkosaan, dengan alasan karena mereka tidak menutup aurat atau mengumbar kecantikan sehingga menaikan syahwat bagi laki-laki.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi kondisi korban pemerkosaan itu sendiri, jika kaum hawa sendiri menyalahkan sesamanya. Bagaimana bisa kaum lelaki dimaklumi dengan nafsu kebinatangannya?

Pentingnya Peran Keluarga bagi Korban / Penyintas Korban Pemerkosaan

Sering kali kita mendengar seorang korban pemerkosaan itu seperti menjadi aib keluarganya, yang paling buruknya diusir dari rumah. Atau bahkan seperti yang dikisahkan oleh Mbak Muyass, sesaat setelah beliau mengadakan bedah novel Hilda, seseorang (sebut saja si A) bercerita kepada beliau secara langsung bahwa pernah mengalami pelecehan seksual oleh orang terdekat.

Orang terdekat tersebut masih kerabat dan tinggal satu rumah dengan si A. Ketika si A ini mengadu kepada ibunya, justru ibunya tidak percaya dan mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin karena mereka masih saudara. Kedua, ketiga kali mengadu kepada ibunya, tetapi tetap tidak dipercaya.

SI A lantas berpikir, kepada siap dia harus mengadu jika kepada ibunya saja tidak dipercaya? Hasil dari ketidakpercayaan itu membuat dirinya melakukan percobaan bunuh diri sampai 3 kali. Namun tetap saja oragtuanya masih tidak percaya dengan semua omoongannya

Saat ketiga kalinya dia mencoba untuk bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian, ternyata dia tidak meninggal, hanya patah tulang. Dari situ dia justru sadar, bahwa Allah masih menyayangi dia. Dia kemudian berubah, semangat merubah diri dan kini menjadi salahs atu pengajar di sebuah perguruan tinggi.

Mendengar cerita si A tersebut, rasanya miris banget kan, ya. Andai orang terdekat yang seharusnya melindungi kita, atau mempercayai kita, terutama ibu mau mendengar, peristiwa percobaan bunuh diri itu tak akan pernah terjadi.

Sebenarnya sudah seharusnya orang terdekat, dalam hal ini keluarga menjadi orang pertama yang mendukung para korban kekerasan seksual untuk tetap bisa bangkit. Sebab ada perlakuan tidak adil bagi para perempuan yang selama ini dianggap hal yang lumrah

5 Perlakuan Tidak Adil Bagi Perempuan

Sebenarnya di Indonesia banyak perempuan ayng menerima ketidak adilan, tetapi hal itu dianggap wajar saja. Padahal ketidak adilan itu sangat berpengaruh pada kesehatan mental atau jiwa para perempuan. 5 ketidak adailan yang sering didapatkan adalah

1. Marginalisasi

Perlakuan yang disebaban karena jenis kelamin. Kuurangnya pemahaman seksualitas terutama pada sistem reproduksi masih sering terjadi. Contoh seorang karyawan pabrik perempuan yang hamil atau melahirkan, jika tidak masuk kerja maka akan terkena sanksi potong gaji atau PHK.

Atau contoh lainnya, bahwa perempuan itu tidak pantas memiliki jabatan tinggi. Alasannya laki-laki akan merasa tersingkirkan dan direndahkan jika posisi mereka lebih rendah dari perempuan.

2. Subordinasi

Sebenarnya semua ornag berhak mendapatkan posisi yang sama dalam segala hal. tetapi lebihs eringnya penyerahan jabatan diberikan kepada laki-laki dibandingkan kepada perempuan meskipun emmiliki kemampuan yang sama.

3. Kekerasan

Tela banyak kasus perempuan yang menjadi sasaran pelampiasan laki-laki. Hal ini adnaya stereotip bahwa laki-laki lebih berkuasa atas wanita.

Sudhalah demikian, ketika perempuan melawan malah sering dikatakan mencari sensasi, berdusta atau mencemarkan nam baik. Lebih ironisnya lagi, anggapan bahwa tidak menaati perintah suami adalah melanggar agama dan dianggap durhaka.

4. Beban Ganda

Wanita seringkali mendapatkan peran atau beban ganda dalam hidupnya. Perempuan yang ikut mencari penghasilan atau berkarier masih harus tetap menyelesaikan urusab domestik di keluarganya tanpa bantuan siapapun. Sedangkan suami hanya bekerja dan sepulang kerja masih harus dilayani tanpa membantu urusan domestik istrinya.

Seharusnya ada pembagian tugas domestik antar pasangan atau antara penghuni rumah, sehingga beban tidak hanya dipikul seorang istri.

5. Stereotip Negatif atas Wanita

Wanita biasanya dicap sebagai penggoda. Permpuan dilarang cantik, karena akan mengundang syahwat laki-laki. Sehingga jika terjadi suatu tindak kekerasan seksual yang disalahkan adalah perempuan. Laki-lakinya bebas.

3 Contoh Ketidakadilan yang Diterima Penyintas Kekerasan Seksual

Dari stereotip negatif yang diterima perempuan, biasanya merekapun akan mendapat ketidakadilan jika mendapat mendapatkan kekerasan seksual.

1. Hamil dan Menikah dengan Pelaku

Jika korban mengalami hamil, biasanya hukuman yang diberikan masyarakat adalah menikahkan korban dengan pelaku. Padahal hal ini justru semakin membuat perempuan tersebut trauma. Belum lagi jika laki-lakinya benar-benar brengsek, seperti peminum, penjudi dan pengangguran. Apakah perempuannya tidak semakin tersiksa?

2. Dikucilkan dari Keluarga

Banyak keluarga yang memandang jijik dan malu terhadap anggota keluarganya yang mendapatkan kekerasan seksual. Mereka merasa ini suatu aib, lalu mengucilkan korban bahkan ada yang lebih sadis lagi, yaitumengusirnya.

3. Dikeluarkan dari Sekolah

Jika korban masih berstatus pelajar, sekolah juga meras ini aib dan menjadi kesalahan korban sehingga akan mencoreng nama baik sekolah. Maka konsekuensinya, sekolah akan mengeluarkan korban meskipun tinggal menjalani Ujian Akhir sekolah. Tanpa mau tahu masalah sesungguhnya yang menimpa korban tersebut. Ini seperti sudah jatuh tertimpa tangga.

Apakah Perlu Melaporkan ke Polisi?

Tidak sedikit korban yang melaporkan perilaku kekerasan ini ke polisi. Tetapi justru biasanya tanggapan pihak epolisian menyudutkan korban. Tuduhan bahwa kejadian itu dilakukan atas dasar rasa suka sama suka membuat korban seakan wanita asusila.

Bukankah ada Visum? Visum yang dianggap bahwa phal yang terjadi adalah pemerkosaan itu saat vagina koyak atau robek. Tetapi Jika hasil visum menyatakan vagina tidak koyak, hal itu dianggap sebagai kejadian yang dilakukan suka sama suka. Padahal bisa jadi saat memerkosanya, perempuan dibuat tidak sadar terlebih dahulu, kan?

Apa yang harus Dilakukan Keluarga bagi Korban Kekerasan Seksual

Hal yang harus atau sebaiknya dilakukan keluarga terhadap anggota keluarganya yang mendapatkan perlakuan kekerasan seksual adalah

1. Mendampingi atau Mensupport

Dukungan keluarga sangat dibutuhkan, untuk membuat mereka tetap semangat menjalani hidup, membantu menyembuhkan trauma dan meyakinkan mereka bahwa masa depan cerah masih menanti. Karena kalau bukan keluarga atau orang terdekat, kemana lagi mencari perlindungan ternyaman. Tempat orang-orang yang paling mengerti dan menyayangi kita.

2. Konsultasi dengan LSM

Keluarga bisa membawa masalah ini ke LSM yang bergerak dibidang perlindungan perempuan. Disana selain mendapatkan terapi menyembuhkan trauma, LSM juga bisa membantu korban mendapatkan keadilan. LSM akan mendampinginya hingga bisa benar-benar mendapatkan keadilan dan bebas dari trauma.

Mbak Muyass on the Screen

Nah, sebagi masyarakat cerdas, yuk kita ubah sudut pandang, bahwa korban kekerasan seksual tidak sama dengan perzinahan. Kekerasan seksual dilakukan karena paksaan sedang perzinahan dilakukan karena mau sama mau. Jadi stop menghakimi korban kekerasan seksual karena sebenarnya mereka tidak mau mengalami hal ini. Dan mari kita bantu dengan memberikan dukungan dan menyembuhkannya dari trauma.

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Komuniatas Indonesian Content Creator

#odopicc #30hbcicc #indonesiancontentcreator #30haribercerita #odopiccday12


@indonesiancontentcreator
@mubadalah.id
@bonnels.id


Wiwid Nurwidayati

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

13 Comments

Chairina · 14 January 2021 at 17:25

Lengkap dan jelas banget deh mba tulisannya. Aku juga ikutan ngezoomnya bareng temen-temen ODOP ICC alhamdulillah kita jadi bisa belaya mba betapa pentingnya sebuah support.

kyndaerim · 14 January 2021 at 19:07

Aku juga ngikutin sharing ini nih mbak. Rasanya memang serba salah jadi perempuan yang adalah korban kekerasan seksual ini. Gemes sih waktu mbak Muyas cerita tentang bahkan keluarga sendiri nggak percaya sama si anak, huhu..
Semoga aja mereka segera mendapat keadilan, aamiin..

Caca · 14 January 2021 at 20:13

Ini membuka mataku mba. Sangat mengedukasi. Hal ini yang kerap kali saya takutkan srjak anak perempuan saya masuk SD. Dan kejadian beban ganda atau hal lainnya pun masuk akal. Trima kasih sharingnya.

Pipit ZL · 15 January 2021 at 00:47

Ada kejadian nyata, anak Bu Tetangga di sini. Mereka langsung pindah setelah kejadian itu. Alhamdulillah sekarang anaknya sudah seperti anak lain, tidak seperti duli.

Iffiarahman · 15 January 2021 at 02:15

Diskusi kekerasan seksual pada wanita sudah ada sejak dahulu, kuncinya adalah bagaimana hasil dari diskusi tersebut dapat menghasilkan hasil yang dapat meminimkan kekerasan seksual pada wanita

    Rani Oktapiani · 15 January 2021 at 09:49

    Benar bangett mbak, masih banyak ketidakadilan yang diterima oleh penyintas kekerasan sosial di lingkungan kita. Terutama dipaksakan untuk menikah dengan pelaku dengan alasan sebagai bentuk pertanggungjawaban 😭 padahal hal tersebut bisa jadi bomerang untuk perempuannya dan membuat perempuan tersebut semakin banyak hal-hal tidak adil lainnya.

    Pernah menemukan sebuah kalimat yang relate dalam sebuah webtoon yang kebetulan topiknya sama dengan pembahasan mbak ini yaitu laki2nya brengsek gitu “kalau menikah dengan laki2 pemerkosa tersebut, bukankah artinya dia menyerahkan diri untuk diperkosa sepanjang hidupnya ?”

Jihan · 15 January 2021 at 05:15

Gegara topik ini aku juga jadi belajar banyak soal feminisme. Dan gerakam feminisme muslim di indonesia. Kajiannya menarik banget

Shafira Adlina · 15 January 2021 at 05:40

mbak wiwid lengkap banget resumenya, aku kemaren ga ikut join zoomnya karena harus menemani anak2 di rumah cuma bertiga soalnya hihi. jadi cuma bia explore dari materi aja. pentingnya peran keluarga in harus sering banget diedukasi, karena seringnya para korban malah tidak didukung dari keluarnganya sendiri ya

Hamim · 15 January 2021 at 07:11

Peremluan selalu tersudutkan kesannya ya mbak. Tulisan mbak informatif. Makasih ya..duh ketinggalan webinarnya

Kumaedi · 15 January 2021 at 07:58

Miris memang kalau keluarga sendiri saja tidak ada yang peduli dan tidak percaya, terlebih itu merupakan tindakan pelecehan yang dialaminya. Orang Tua hendaknya bener-bener mendidik dan mempercayai anak, apalagi ketika anak ada masalah. Hendaknya dicarikan solusi/jalan keluar.

Alya · 15 January 2021 at 10:44

Serem banget dan merinding juga lihat kasus-kasus kekerasan seksual di berita, jujur saja saya kalau liat berita kasus ini bawaannya merasa agak triger liatnya

Alya · 15 January 2021 at 10:56

Miris banget melihat kasus-kasus kekerasa seksual terhadap perempuan :((
Jujur saja saya kalau melihat kasus ini bawannya jadi sedih

Btw, tulisan mbak keren sekali dan opininya mantul banget mengenai tentang kekerasan seksual, tetap semangat mbak

Arai Amelya · 15 January 2021 at 13:01

Tinggal di negara yang budaya patriarkinya masih tinggi, memang bikin miris para penyintas seksual. Yang paling ironis itu waktu diperkosa dan dipaksa menikah dengan tersangka, kejam banget. Semoga Indonesia bisa jadi tempat yang nyaman untuk semua gender

Leave a Reply

Your email address will not be published.