Inspiration

Pernikahan? Seperti Apakah Dalam Bayanganmu?

Sumber : www.pexels.com

Apa yang Anda bayangkan tentang sebuah pernikahan, dulu sebelum menikah? Mugkin sebagian besar membayangkan atau lebih tepatnya mengharapkan bahwa kelak akan menikah dengan pasangan yang tampan atau cantik, kaya-raya, kemudian memiliki anak-anak yang cerdas dan penurut a.k.a dan hidup hapilly ever after. Selain itu kalau saya pribadi sering memimpikan duduk berdua di beranda sambil menatap senja yang mau menghilang sambil merencanakan masa depan dan juga sambil melihat anak-anak yang bermain di halaman.

Namun semuanya tidak berjalan dengan sesempurna itu. Setelah menikah, beberapa bulan kemudian kita akan ditanya.”Sudah isi belum?” ini seperti dulu pertanyaan sebelum menikah, jika bertemu dengan orang, maka akan ditanya,”Kapan nikah?”. Pertanyaan-pertanyyan itu lebih sering membuat gusar, gelisah dan mengganggu ketentraman hati. Pada kenyataanya, ketika kemudian perut seorang wanita telah dihuni calon bayi, kepayahan-kepayahan juga dirasakan. Tubuh merasa cepat lelah, tidur tak nyaman, atau bahkan yang terkena sindrom bumil, akan terasa sangat kepayahan, mual-muntah-kepala pusing, belum lagi ditambah jika pasangan tidak memiliki banyak waktu untuk mendampingi.

Sumber : www.pexels.com

Setelah 9 bulan mengandung lahirlah bayi yang sudah ditunggu-tunggu kelahirannya oleh sanak dan handai taulan. Pada kenyataanya, energi yang kita butuhkan untuk merawat seorang bayi merah atau balita justru begitu menguras tenaga. Terkadang untuk sekedar membuang hajat di toilet saja harus mendengar tangisan tidak rela atau gedoran pintu kamar mandi dari si kecil. Atau malam yang harus begadang karena si kecil berubah jadwal tidurnya. Belum lagi masalah ilmu parenting yang dimiliki masih sangat minim.

Itulah pernikahan. Ada banyak hal tuntutan tanggung jawab atau kewajiban yang mengikuti. Itulah mengapa ketika kita menikah banyak yang memberikan ucapan selamat dengan kalimat,”Selamat menempuh hidup baru.” Menikah berarti harus mampu dan rela menyatukan dua pikiran yang berbeda agar nahkoda kapal berjalan seirama mencapai satu tujuan. Menikah berarti mau memebrikan cinta yang tak bersyarat kepada pasangan dan anak-anak. Menikah berarti mau menambah ilmu demi pendidikan anak-anak yang lebih baik.

Pada kenyataanya menikah memang tidak selamanya bahagia seperti dalam novel-novel yang sering berakhir dengan happy ending, dan memang manakah ada di dunia ini yang sempurna? Kita hanya perlu mengatur sendiri kebahagiaan itu, agar tetap kembali bahagia dan bahagia.

 

“Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community”
#Day11

 

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: