Sebuah review Perempuan Suamiku, Kumcer tentang Cinta, Ketaatan dan Perempuan

Judul Buku          : Perempuan Suamiku

Penulis                 : Intan Savitri

Penerbit              : Noura Publishing

Cetakan               : Cetakan tahun 2017

Genre                   : Religi

ISBN                      : 978-602-385-341-0

 

Saat menemukan judul ini di rak buku Ijateng, saya merasa jika pernah membaca buku ini. Namun, saat membaca penulisnya saya ragu dengan apa yang saya rasakan itu. Kemudian saya meminjam buku ini dan ternyata saya memiliki versi cetaknya dengan nama pena penulisnya Izzatul Jannah. Hanya saja yang versi cetakan tahun 2017 ini, Perempuan Suamiku mendapatkan 9 tambahan cerpen, dan puluhan puisi di akhir cerita. Sekaligus tampilan sampul di edisi terbaru ini terkesan lebih modern tapi elegan.

Kumcer Perempuan Suamiku menceritakan berbagai macam gejolak yang terjadi dalam rumah tangga. Di sajikan sangat halus oleh mbak Intan Savitri, tanpa ada kesan menggurui namun saya sebagai pembaca menyetujui setiap pesan yang ingin disampaikannya dalam setiap cerpennya.

Mengapa mbak Intan mengambil Perempuan Suamiku sebagai judul sampul. Saya berpendapat bahwa menemukan perempuan lain yang dinikahi oleh suami kita akan membuat diri kita begitu kalut, terlebih dengan kebiasaan masyarakat kita yang masih awam dengan dunia poligami.

Kumcer ini diawali dengan cerpen berjudul Langit Tanpa Tepi, tentang kematian seorang istri    yang mengidap penyakit kanker rahim. Suaminya yang sibuk tidak mengetahui hal ini hingga akhirnya semua diketahui telah terlambat. Namun, istrinya telah mempersiapkan pengganti dirinya yaitu diokter yang merawat penyakitnya.

Lalu dalam cerpen, Mawar rekah Sebab Langit Menangis, cerpen ini akan mengajarkan kita bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna, sekalipun apa yang kita lihat itu hal yang nyaris sempurna.

Adalagi judul cerpen yang seolah menohok kebiasaan kita sebagai manusia dengan satu kata saktinya “Nanti”, kita yang sering menunda-nunda untuk berbuat amal kebaikan atau bahkan terlalu sombong menganggap dirikita mengetahui bahwa umur kita masih panjang. Jika saat ini masih menundanya, maka Tuhan pasti belum mengambil nyawa kita.

Atau cerpen Bulan Setengah yang mengajarkan seornag suami untuk selalu peka dengan keadaan istrinya, mengenal karakter dan emosinya hingga tidak menimbulkan kesalahpahaman karena istri sedang mengalami tamu bulanan.

21 cerpen yang ditulis dalam buku ini judulnya adalah, Langit Tanpa Tepi, Perempuan Suamiku, Balada Mertua, Ranting-Ranting Patah, Afrodisiak, Rumah Laba-Laba, Tiga Puluh Tahun Perkawinan, Rum, Bulan Setengah, Sang Zahid, Nanti, Mawar Rekah sebab Langit Menangis, Mika, Satu Malam, Syahid dan Azazil, Dosa Berbau, Laki-Laki Surga, Gadis di Ujung Sajadah, Kasih, Sang Angin, Ratu Adil.

Ke-21 cerpen yang dituliskan dalam buku ini diramu apik oleh Mbak Intan, Ke-21 cerpen tersebut ditulis berdasarkan ajaran-ajaran islam yang dapat kita jalani sehari-hari, disajikan dengan halus, tanpa ada rasa menggurui, namun akan kita dapatkan pesan-pesan yang ingin beliau sampaikan. Keromantisan dalam hubungan suami istri juga di sajikan dengan porsi yang tidak berlebihan, semuanya terkesan manis dan pas.

Berikut salah satu kutipan puisi yang disajikan dalam buku Perempuan Suamiku

Hujan

Hujan mengusir terik di beranda

Matahari memcucurkan airmata dan aku ngungun di balik jendela

Sepi menyelinap lagi. Selalu begitu sejak gelak tawa hadir di antara kita. Mungkin ini Cuma tidur panjang untuk hidup berikutnya

Ah, jika begitu. Mengapa begitu kejam pada Takdir yang belum hadir dan hidup yang menurutmu tak seharusnya?

Ini Cuma sebuah jeda yang abadi selamanya, biarkan senyumu tak lagi melukis airmata.

 

 “Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.