Inspiration

Surat Untuk Kamu : Rindu

Surat ini untukmu, entah sudah berapa puluh purnama ketika kita tak pernah lagi bersua bahkan hanya dalam uraian kalimat-kalimat atau dalam ketikan chat-chat yang dulu selalu kaubalas dengan cepat.

Siapa sebenarnya yang menghilang, kau atau aku? Ah, kita sama-sama menarik diri dari peredaran, berpelukan dengan kesibukan yang membuat hidup kita berlalu bagai desing peluru. Sebenarnya aku rindu, namun selalu kualihkan jempolku dari keyboard gawai untuk sekedar memanggilmu dengan dua huruf,”hi”. Biasanya sapaan itu akan kaubalas dengan dua kata, dua kata yang selalu emnajdi ciri khasmu.

Wanita memang selalu melankolis, selalu hidup dengan mengenang masa lalu. Padahal hidup di depannya tak lagi sama. Aku mungkin juga begitu dan kau akan bertepuk tangan mengakuinya. Aku hanya rindu. Rindu itu seperti pengejawantahan masa lalu, ketika kau ada di sana. Kita pernah dengan gegap gempita merencanakan sesuatu sebelum badai sore itu menerbangkan mimpi-mimpi kita.sejak saat itu kita berjarak, namun kembali rekat oleh mimpi-mimpi yang sama.

Kau mungkin tak pernah berubah, karena sedari dulu hatimu tetap di sana, di dalam rongga dadamu, tak pernah goyah atau berubah. Sedang mungkin hatiku yang berubah, berubah bentuk, berubah warna, tak lagi sesegar merah seperti warna hatimu.

Sumber : www.pexels.com

Aku tak pernah menyesali pertemuan kita. Karena kau istimewa, meski pada kenyataanya kehadiranmu membuatku merasa tak mengerti sedikitpun tentang dunia. Namun ternyata ketiadaanmu mempengaruhi cara kerja otakku yang kini lumpuh dan tak mampu menghasilkan kata-kata, tidak seperti tahun-tahun yang telah berlalu, otakku yang seperti mesin pencetak kata. Kini layar lleptokku hanya sering berkedip-kedip, tak mampu merangkai sketsa tentangmu. Kau menghilang dan seperti hilang ditelan bumi

Surat ini kutulis untukmu, ketika tanpa sadar aku berkunjung ke rumah mayamu. Kegiatan yang dulu setiap hari selalu kulakukan, menikmati setiap kalimat-kalimat yang terukir dengan indah. Meski kini keindahan-keindahan untaian kalimat itu tak lagi membekas.

Aku hanya rindu. Tak perlu kau risau untuk turut beraksi menuntaskan rinduku. Karena rindu tak akan pernah tuntas. Tumbuh terus hingga memori otakku tak bisa lagi merekam segala tentangmu. Tak mengapa, aku hanya ingin berkata jika aku rindu padamu.

 

#Day7
#BloggerPerempuan
#BPN30DayChallenge

 

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

2 Comments

Leave a Reply to Lisa Cancel reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: