#MarryYourDaughter

now browsing by tag

 
 

Lelaki Gagah Itu

Aku tahu jika hari ini akan tiba. Ketika seorang lelaki gagah akan berdiri dihadapanku, menyalamiku dengan hangat, mencoba menghilangkan gelisah yang dia tanggung. Seperti ada  berton-ton beban yang ingin segera dia enyahkan dari jiwanya. Ah…aku tahu sebenarnya itu bukan beban, lelaki hanya takut jika apa yang akan ditemuinya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam bayangannya.

Lelaki gagah itu masih menyalamiku hangat, menganggukan kepalanya, kemudian berkata llirih menyebutkan namanya, “Hamizan Pradipta.” Aku hanya mengangguk, kemudian mempersilahkan lelaki itu duduk. Dia masih menatapku resah, sesekali menunduk atau mengalihkan pandangannya ke sekiling ruang tamu, mungkin mencoba mencoba menghilangkan resah yang dia rasa. Kutelusuri wajahnya. Garis rahangnya yang kokoh, puncak hidungnya yang lumayan tinggi, kulitnya coklat bersih, rambutnya di potong pendek rapi di belah pinggir, bibirnya mungil namun wajah itu terlihat jadi tampan dan sempurna. Aku membayangkan ketika kelak dia menyebut namaku, oh Tuhan, benarkah dia?

Tak lama putriku membawa nampan dengan dua gelas teh hangat, juga sepiring brownies coklat panggang hasil karyanya di dapur.

“Zanna, duduk.” Putriku duduk di sampingku. Wajahnya terlihat merona dan terus menunduk. Lelaki gagah di depanku menatap putriku malu-malu. Ada binar yng begitu menyala di matanya saat menatapnya yang membuat hatiku mulai sedikit percaya.

“Ayah…eh…Om…maaf saya ke sini mengganggu dan menyita waktu Om.” Dia berbicara menatapku, sesekali pandangannya dialihkan ke meja yang di atasnya berdiri dua gelas teh hangat dan sepiring brownies coklat. Aku terdiam, sengaja ingin melihat seberapa tangguhnya lelaki gagah ini ingin mengambil sesuatu yang kumiliki. Dia terlihat semakin grogi.

“Ayah…ehm…ohm.” Kulihat peluh mulai mengalir dari dahinya. Tangan kananya menyodorkan sebuah kotak merah beludru berbentuk cinta. Aku masih berdiam diri, mencoba segarang mungkin di hadapan lelaki gagah itu. Aku tahu maksudnya apa, tapi aku ingin bertanya.

“Ini apa?” aku bertanya dengan gaya sok dingin.

Kemudian dia membuka kotak beludru berwarna merah itu, “Saya ingin melamar Zanna, putri Om.” Suaranya terdengar bergetar, peluh sedikit demi sedikit mulai membasahi wajahnya yang tampan.

“Saya nggak menjanjikan apa-apa selain memberikan yang terbaik untuk Zanna. Saya tahu hidup tak selamanya lurus. Namun, saya akan selalu menggenggam tangan Zanna erat agar kami tetap bersama jika badai datang.”

Kupandangi lelaki gagah itu sedikit lebih lama. Mencoba membaca aura yang memancar dari tubuhnya. Aku tahu hari ini akan datang. Ya hari ini akan datang, seorang lelaki terbaik yang berani meminta putriku utnuk diajak pergi mengarungi samudra yang pasti suatu saat akan datang badai,  atau ombak yang tinggi yang siap menelan  bahtera kapal.

Kutatap Zanna yang wajahnya masih merona, kepalanya masih menunduk. Aku tahu lelaki ini akan datang, Hamizan Pradipta, ketika dua hari yang lalu bibir mungilnya terbata-bata mengatakannya di hadapanku. “Hmmm…namanya Hamizan Pradipta, Yah. Dia kakak senior dua tingkat di tempat Zanna kuliah. Hmmm…Dia seorang konsultan IT di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di indonesa, juga di kantornya sendiri, sudah empat tahun dia merintis usaha ini.”

“Kau cinta dia Zanna?” kulihat Zanna mengangguk pasti. “Dia anak yang baik, Yah.”

“Kau sudah istikharah? Sudah mantap?” Zanna kembali mengangguk dan aku tersenyum. Tak ada yang kuragukan dengan  setiap keputusan dan keyakinan yang Zanna pilih. Zanna, usianya 23 tahun kini. Dia putriku satu-satunya, tidak sempurna, tapi aku tahu skillnya untuk menjadi istri dan ibu tidak diragukan lagi, hanya perlu mengasahnya dengan mempraktekkan apa yang dia tahu.

Kembali ke alam sadarku, kutatap lelaki gagah dihadapanku dan putriku secara bergantian. Wajah mereka terlihat tegang.

“Maaf aku tidak bisa menerima lamaranmu.” Ucapku santai. Lelaki gagah itu dan Zanna serentak menatapku, terkejut. Ada kilat kelu yang terpancar dari wajah mereka. Bulir-bulir mata Zanna sepertinya akan jatuh. Lelaki gagah itupun menatapku dengan penuh harap.

“Tentu aku tidak bisa menerima lamaranmu. Hanya Zanna yang bisa menerima lamaranmu. Aku hanya bisa mengamininya.”

Seketika wajah mereka berdua berbinar. Zanna mengangguk pasti. Lelaki gagah itu kemudian meraih tanganku dan berkata lirih,”Terimakasih, Ayah.” (tamat)

 

#terinspirasi oleh lagu Marry Your Daughter Brian Mcknight