Novel Tentang Kita karya Wiwik Waluyo
Book Review

Novel Tentang Kita : Mengajarkan Generasi Bangsa untuk Ikut Melestarikan Lingkungan

Novel Tentang Kita karya Wiwik Waluyo Judul               : Tentang Kita
Penulis             : Wiwik Waluyo
Penerbit           : Laksana
Cetakan           : Cetakan Pertama, 2018
ISBN               : 978-602-407-334-3
Tebal buku      : 256 hlmn; 14×20 cm

Novel Tentang Kita : Mengajarkan Generasi Bangsa untuk Ikut Melestarikan Lingkungan. Kita mungkin pernah menemukan sebuah tulisan ambigu seperti tulisan pada bungkus rokok yang tertulis pesan peringatan, “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan ganguan kehamilan dan janin.” Namun pada kenyataanya penikmat batang 9 cm itu tidak pernah mengindahkan himbauan yang ditulis di bungkus rokok tersebut sebab rokok tetap laris manis di pasaran.

Tulisan ambigu itu terpantul-pantul di kepala saya saat menemukan kalimat ambigu yang sama di dalam Novel Tentang Kita. Kalimat yang ditulis besar-besar di sebentang spanduk besar dengan bunyi tulisan  DILARANG JUAL BELI TELUR PENYU. Namun ironisnya, di bawah spanduk tersebut justru berderet penjual telur penyu menjajakan dagangannya. Seolah larangan itu bukanlah sesuatu yang penting.

Berawal dari lima sekawan, Putri, Awan, Ical, Acun dan Jay yang sering menghabiskan waktu di Kedai Sambung Hidup milik Hafsah yang merupakan kakak kandung Putri, terbentuklah Geng Penyayang Penyu. Putri yang mengenal penyu dengan baik karena ayahnya bekerja pada Raja Azman dan ditugaskan mengurusi telur-telur penyu di Pulau Durai, dan Putri yang selalu gusar menatap sapnduk itu membuatnya ingin melakukan sesuatu untuk kelestarian penyu.

Novel ini tidak hanya berkisah tentang cinta, tetapi lebih menonjolkan perjuangan Geng Penyayang Penyu alias GePePe yang turut andil serta dalam pelestarian lingkungan dan satwa dengan merangkul dan mengajak penghuni sekolah melakukan gerakan menyayangi penyu. Mereka mengadakan konser mini dengan dinyanyikannya lagu Penyu Menangis dan juga membagikan sticker dan leaflet  untuk pendekatan pengetahuan tentang pentingnya pelestarian penyu.

Ketika menyelesaikan membaca novel Tentang Kita yang mengambil tema pelestarian penyu di Pulau Durai, ada desiran aneh di hati saya tentang generasi kita. Bukan desiran cinta tetapi seperti sayatan yang sedikit menyakitkan. Kembali lagi terpantul banyak pertanyaan di kepala? Masih banyakkah generasi bangsa, baik generasi tua maupun generasi muda yang mempunyai sedikit kepedulian  dalam pelestarian lingkungan, salah satunya peduli dengan sampah?

Di lingkungan sekitar kita masih terlihat sampah yang berserak di mana-mana, bahkan pernah saya lihat seorang yang mengendarai mobil membuang bungkus makanannya di tengah jalan dari sela-sela jendela mobil. Andai mereka berfikir untuk turut andil dalam melestarikan lingkungan, sikap tersebut tidak akan dipilinya. Mereka akan komit selalu membuang sampah pada tempatnya di mana saja dan kapan saja. Terlebih sampah-sampah yang berada di lautan, yang berdasarkan data sementara World Economic Forum menyatakan bahwa ada 150 juta ton plastik di lautan. Sampah-sampah itu terus membunuh habitat di lautan salah satunya adalah penyu. Seperti yang dilansir kompas.com pada 20 Desember 2017 bahwa ada 1000 penyu mati setiap tahunnya karena sampah plastik di lautan.

Itulah salah satu kerisauan Putri, tokoh utama dalam novel Tentang Kita, saat mengetahui jumlah populitas penyu yang tiap tahunnya semakin berkurang. Meskipun satu penyu mampu bertelur hingga 120 telur, namun terkadang alam yang keras tidak mampu membuatnya bertahan hidup. Bahkan penyu akan berenang jauh setelah dilepaskan ke lautan, hingga belum tentu penyu-penyu itu akan kembali lagi ke Pulau Durai dengan jumlah yang sama saat dulu dilepaskan. Apalagi mengingat perintah Raja Azman, ayah Awan, pemilik Pulau Durai dan segala kekayaan alamnya yang memerintahkan untuk menetaskan hanya 10% telur penyu saja, 90% telur lainnya untuk diperjualbelikan.

Usul Putri yang diutarakannya kepada Awan untuk menaikkan jumlah telur yang ditetaskan tentu saja mendapat tantangan keras dari Raja Azman, karena dengan begitu pundi-pundi pendapatan Raja Azman akan berkurang. Meski pada kenyataannya mereka sudah kaya raya Hingga kemudian perusahaan minyak menawarkan kerjasama dalam penangkaran penyu yang akhirnya membuat putri mengabdikan diri bersama ayahnya dan membawanya mendapatkan penghargaan dan piala dari presiden untuk peletarian penyu.

Novel ini digarap dengan apik, dengan karakter anak-anak SMA yang alami membuat saya bisa merasakan jiwa mereka yang polos, tulus dan penuh semangat. Dengan setting Pulau Tarempa yang berada di Kepuluan Riau, membuat saya merasa dekat dengan cerita ini. Dua pesan mendalam yang saya tangkap adalah pertama, setiap individu  memiliki pilihan untuk diri sendiri yaitu bermanfaat bagi bangsa dan sesama atau menjadi manusia individu yang tak peduli dengan lingkungan sekitar.  Kedua, setiap individu harus berjuang meraih impian karena hasil tak pernah mengkhianati usaha.

Finally, setelah membaca novel ini saya seperti mendapatkan oase dari quote termasyhur John F.Kennedy yang berbunyi,”Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! Janganlah pernah berunding karena takut, tetapi jangan takut untuk berunding.” Ini seperti yang dilakukan Putri dan GePePe, berunding dengan Raja Azman untuk satu tujuan mulia, pelestarian penyu. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk negara? (end).

Resensi ini dimuat di rubrik jeda, Koran Solopos pada 17 Maret 2019

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: