Festival Perempuan Indonesia dalam Rangka HUT IIDN ke-11. Dari wanita, oleh wanita untuk wanita. Mungkin slogan itu lebih tepat disematkan untuk komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis Ini. Bagaimana tidak, Pendiri komunitas ini adalah perempuan, yang menggerakkan adalah perempuan, dan mendedikasikan kegiatannya untuk perempuan Indonesia,

Perempuan itu kodratnya di rumah. Kaki kalian mengakar kuat di rumah. Tetapi tangan kalian menelungkup dunia seluas-luasnya.

Indari Mastuti – Founder IIDN

Kata-kata mbak Indari Mastuti yang disampaikan dalam webinar puncak acara Festival Perempuan Indonesia melekat kuat dalam ingatan saya. Dan saya sangat berterimakasih kepada beliau dan jajaran pengurus IIDN lainnya, meski saya tidak bisa menyampaikannya secara langsung, karena telah mendirikan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, mengadakan berbagai event yang sangat bermanfaat untuk para perempuan Indonesia terutama di bidang kepenulisan.

Maka ketika komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis mengadakan serangkaian acara dengan tajuk Festival Perempuan Indonesia dalam rangka memperingati HUT IIDN ke-11, saya mendaftarkan diri agar bisa mengikuti program acara yang telah dijadwalkan oleh IIDN.

Rangkaian Acara Festival Perempuan Indonesia by IIDN

Rangkaian acara Festival Perempuan Indonesia diadakan via Zoom meeting. Untuk mendapatkan link zoom, calon peserta webinar perlu mendaftarkan diri ke panitia. Hanya saja saya hanya mengikuti 2 moment zoom yaitu FPI pertama dan FPI puncak acara.

1. Parade Festival Perempuan Indonesia I : Perempuan dan Menulis

Pembicara pada event kali ini adalah penulis perempuan yang telah menghasilkan novel dan beberapa di antaranya telah difilmkan. Dialah Mbak Kirana Kejora, writerpreneur yang sudah menggeluti dunia kepenulisan selama 16 tahun untuk mencapai titik.

Banyak hal yang bisa diambil dari beliau dalam webinar ini. Untuk menjadi seorang writerpreneur harus mengontrol mulai dari proses pra produksi, proses produksi dan pasca produksi. Penulis merupakan pekerjaan seksi.

Beberapa pesan yang disampaikan Mbak Key bagi perempuan dalam dunia kepenulisan adalah

  • Jangan pernah takut mengenalkan buku kita, orang mau mencaci maki itu urusan nanti, yang penting kenalkan dulu bukunya ke masyarakat luas
  • Semua buku akan menemui takdirnya masing-masing
  • Ketika niat baik buku itu maka ia akan mendapatkan tempat yang baik pula
  • Penulis itu modal utamanya niat dan berani. Berani untuk belajar. Jangan cepat merasa puas sehingga harus berhenti belajar
  • Penulis adalah seorang ibu, dia harus merawat apa yang telah dilahirkannya, memberinya gizi, hingga dia tumbuh besar dan tentunya tidak akan membiarkannya mati.
  • Writerpreneur adalah seorang pejuang yang bisa hidup dari tulisannya

Closing statement dari Mbak Kirana Kejora juga bagus banget ya, “Menulis itu nafas dan berpikirlah bahwa jika tidak menulis kamu akan mati.”

Saat Mengikuti Webinar Festival Perempuan Indonesia

2. Puncak Acara Festival Perempuan Indonesia : Peluang Literasi Digital

Pada puncak acara Festival perempuan Indonesia ini dihadiri oleh pendiri IIDN yaitu Mbak Indari Mastuti. Dalam sambutannya yang terbata – bata karena menahan rasa haru, beliau menceritakan sejenak kisah awal mula beliau mendirikan komunitas IIDN. Selain mbak Indari Mastuti, ada 3 blogger yang diundang untuk sharing acara yaitu mbak Damar Aisyah, Mbak Mugniar, mbak Wiwik Pratiwaningrum.

a. Indari Mastuti Story

Dalam kata-katanya yang terbata-bata Mbak Indari menceritakan pada saat awal mendirikan Komunitas IIDN, kondisi perusahaan juga sedang terpuruk. Waktu itu, suami mbak Indari juga mengatakan kepada beliau, bagaimana jika Mbak Indari tetap fokus ke usaha saja, karena komunitas butuh . Namun, beliau berkata pada suaminya bahwa dia butuh kekuatan.

Dan yang menyemangati Indiscript saat jatuh adalah dengan menggalang kekuatan lewat komunitas, untuk saling menguatkan . Sebab mungkin di dalamnya ada orang-orang atau perempuan yang memiliki nasib sama, entah tidak bisa makan, entah usahanya juga sedang bangkrut, entah tidak memiliki penghasilan. Tetapi ada satu harapan baha mereka akan membangunkan hobi menulisnya menjadi ladang atau sumber penghasilan bagi mereka.

Dan hasilnya hingga 11 tahun ini berdiri, IIDN telah memberikan kontribusi yang besar bagi perempuan Indonesia. terutama kondisi pandemi saat ini, mampu membantu perempuan-perempuan untuk tetap berdiri mandiri di atas kaki mereka sendiri.

Founder IIDN, Indari Mastuti

b. Damar Aisyah

Mbak Damar gabung di IIDN tahun 2012, masih sekedar gabung di media sosialnya. Beliau mulai belajar menulis 2016 dari Teh Indari. Lalu beliau semakin intens bergabung di IIDN, dan menjadi salah satu kontributor di emakpintar. Tahun 2017 beliau membeli domain dengan nama damaraisyah.com. Awalnya belia belajar menulis review produk, dan memulai mendapat job review.

Lalu beliau ingin naik grade dengan mulai mencoba mengikuti berbagai macam lomba. Awal-awalnya tentu saj belum menjadi pemenang, tetapi mulai pertengahan 2019 mulailah satu persatu pecah telor. Hingga di tahun 2021 ini beliau bisa menelurrkan buku solo bahkan sudah cetakan ke-2. Untuk saat ini beliau fokus ke blog, tapi tetap ada niatan untuk menerbitkan kembali buku solo ke depannya.

c. Mugniar Marakarma

Mbak Mugniar merupakan Korwil Makasar. Beliau mulai belajar menulis tahun 2011. Mulai tahun 2013, beliau menjabat sebagai Korwil IIDN. Sebenarnya mbak Mugniar sendiri ngeblog mulai tahun 2006. Mbak Mugniar memiliki harapan, ibu-ibu dan wanita terus belajar dan berdaya dari rumah. Bagi beliau komunitas adalah tempat belajar dan menyemangati, juga merupakan sebagai pintu rezeki .

d. Wiwin Pratiwanggini

Beliau adalah fulltime working mom dengan 2 orang anak, juga seorang blogger di pratiwanggini.net. Selain itu beliau juga sudah menerbitkan berbagai banyak buku dan antologi. Pada tahun 2020 ini beliau menulis hampir 20 naskah, dan sampai saat ini 18 di antaranya sudah terbit. Bagi beliau menulis bukanlah tujuan utama untuk mencari penghasilan, tetapi baginya sebagai healing diri sendiri.

Perempuan dengan Dunianya

Perempuan sendiri sebenarnya dalam posisi kompleks atau paradoks. Disisi lain mereka memiliki tanggung jawab tama untuk mengurus anak-anak dan suami, tetapi di sisi lain mereka juga harus mengaktualisasikan diri. Terlebih jika memang ketika kondisi keluarga memerlukan penghasilan untuk bertahan hidup. Maka perempuan harus maju atau turut andil menyingsingkan lengan baju untuk mencari penghasilan.

Apakah harus keluar rumah dalam mencari penghasilan? Seperti yang telah disampaikan Teh Indari, bahwa sesungguhnya kodrat perempuan itu berada di rumah, kakinya mengakar kuat di sana, tetapi tangan perempuan bisa menelungkup dunia seluas-luasnya. Artinya apa? Bahwa di dunia serba teknologi ini, bukan tidak mungkin jika perempuan bisa menghasilkan rupiah hanya dari dalam rumah saja.

Namun, kacamata sosial masyarakat kita ini masih memandang rendah perempuan yang hanya di rumah saja dibandingkan perempuan yang berkarir di luar sana.

Perempuan dan Dunianya

Pengalaman Menjadi Wanita Karir

Saya pernah merasakan dua profesi ini. Setelah menikah selama 6 tahun, saya ingin kembali berkarir seperti dulu saat saya masih lajang. Saya merasakan pergi pagi pulang petang selama hampir 8 tahun. Terlebih perusahaan pertama yang mewajibkan semua karyawannya baik staff maupun bagian produksi masuk pukul 07.00 wib. Tentu saja saya harus mempersiapkan diri sejak pagi.

Yang paling menyedihkan adalah setiap saya mengantarkan anak-anak ke tempat penitipan, mereka masih dalam keadaan mengantuk meskipun sudah saya mandikan. Sedih rasanya, tak tega melihat mereka. Tetapi apa mau dikata, itulah pilihan saya waktu itu.

Setelah setahun mengabdi di perusahaan pertama ini, saya pindah perusahaan. Bersyukur, jam masuk bagi staff adalah pukul 08.00 wib. Masih sedikit leluasa untuk mempersiapkan segala keperluan anak-anak. terlebih saya bisa berangkat kerja bareng suami. Namun lama kelamaan saya tetap merasa tidak nyaman, selain lebih sering pulang lambat, saya bercita-cita untuk bisa menghasilkan uang dari rumah. Akhirnya tahun 2018 saya memberanikan diri untuk resign dari perusahaan.

Pengalaman Menjadi Ibu Rumah Tangga

Menjadi fulltime mom dan membangun bisnis dari rumah ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya sempat mengalami stress, sebab biasanya saya bertemu banyak orang, memiliki penghasilan rutin, THR setiap lebaran, tetapi kini tak memiliki apa-apa sama sekali.

Saya juga merasa minder setiap ada pertemuan keluarga besar, Saya sendiri yang tidak memiliki pekerjaan yang membanggakan. Akhirnya saya kembalikan tekad untuk bisa menghasilkan dari rumah. Perlahan-lahan saya mulai ngeblog lagi. Dari sana saya takjub, ketika mendapatkan penawaran job. Ternyata Allah selalu membukakan jalan dari setiap jalan yang kita pilih.

Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Perempuan

11 tahun IIDN Berkarya untuk perempuan. 11 Tahun merupakan usia yang sudah mulai mandiri jika itu diibaratkan manusia, tetapi memang belum matang. Saya bertemu dengan IIDN dan mengikuti beberapa eventnya baru pada tahun 2020. Namun melihat begitu semaraknya kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis ini, saya patut acungi jempol. Karena IIDN merupakan satu-satunya komunitas yang benar-benar memiliki program terencana demi kemajuan para anggotanya, perempuan Indonesia.

Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, IIDN melakukan event atau sharing ilmu melalui webinar Tentu saja dengan aplikasi Zoom, perempuan tidak perlu bersusah payah keluar rumah, tapi sudah bisa mendapatkan ilmu yang sangat banyak dan bermanfaat.

Saya ucapkan “Selamat Ulang tahun IIDN yang ke-11. Semoga terus bermanfaat untuk perempuan-perempuan Indonesia dan semakin Jaya.”