Parenting

Kisah Adik, Si Bungsu yang Ekspresif : Jodoh Adik

Kisah Adik, Si Bungsu yang Ekspresif : Jodoh Adik. Adik adalah sebutan atau panggilan untuk anak bungsu saya. Begitu juga dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Adik ketika sedang berbicara dengan kami. Dia anak yang sangat ekspresif. Usianya 9 tahun tepat tanggal 22 Juli 2019 ini. Dia sangat mudah mengungkapkan apa yang dirasakannya. Saya senang sebenarnya, meskipun disudut hati yang lain ada rasa takut menggema. Bagaimana tidak senang, ketika dia mengenali saya dengan baik, begitu juga dia mengenali abang dan kakaknya. Kata-kata yang sering meluncur dari bibirnya lebih sering membuat saya untuk intropeksi diri. Beberapa kalimat yang dia ucapkan sering menggelitik hati saya antara lain:

  • “Ummi, kenapa cemberut? Kok kelihatan nggak senang?” Saya merenung setelah mendengar dia mengatakan kalimat ini. Benarkah wajah saya tidak menunjukkan rasa bahagia seperti biasanya. Dan ini harus menjadi peringatan bahwa saya harus berhati-hati mengekspresikan apa yang saya rasakan.
  • “Ummi, jangan marah ya kalau adik salah.” Kalimat ini sungguh membuat sudut mata saya basah. Memang saya terkadang marah ketika dia melakukan kesalahan berulang-ulang. Tetapi yang membuat saya terharu, dia tahu jika saya benar-benar menyayanginya. Dia masih tetap mengekpresikan rasa sayangnya kepada saya dengan mencium, memeluk dan mengucapkan, “adik sayang ummi.”

 

Kisah Keluarga Parenting
Saya dan Si Bungsu
  • “Ummi, jangan “kacangin” adiklah!” Dia mengungkapkannya dengan wajah sedikit ditekuk dan tangan bersedekap di depan dada. Protes kepada saya yang focus dengan bacaan yang say abaca dan tidak mendengarkan apa yang dia ceritakan. Wah, ini benat-benar pelajaran bagi saya. Saya berfikir dan mengatakan pada diri saya sendiri di hati,”bagaimana mungkin dia juga mau mendengarkan saya jika saya saja tidak mau mendengarkan apa yang dia katakana.” (Ngelap airmata)
  • “Ummi dulu katanya nggak boleh nonton ini ( Youtube Keluarga Mak Betti), Sekarang kok mau nonton.” Beneran ini speechless. Dulu saya geli melihat tayangan Keluarga Mak Beti ini. Tetapi ternyata – di luar peran cowok yang memerankan cewek- ada hal yang bisa diambil dari tayangan Mak Beti ini. Bahkan menurut saya isinya lebih bermanfaat dibandingkan konten salah satu youtuber keluarga ternama di Indonesia yang lagi digandrungi. Oya, kenapa saya dulu melarang menonton Keluarga Mak Beti ini? Karena dulu saya “geli” melihat Mas Arif ini memerankan tokoh perempuan. Yang terdengung dalam fikiran saya saat itu, saya takut anak-anak mengikuti polah tingkah mereka seperti laki-laki tetapi memakai pakaian wanita. Tetapi, selain poin ini, Mas Arif dan krunya mengerjakan konten ini dengan begitu professional dan tentu saja ada sesuatu yang disampaikan atau pesan di setiap tayangan. Kepo? Cuss, cari di Youtube, Keluarga Mak Beti. Ada Satire tersirat dalam setiap ceritanya.

Baca Juga : 4 Hal Penting yang Harus ditanamkan pada Anak

Beberapa waktu lalu kami kumpul di depan TV setelah makan siang, sekedar menghilangkan keringat dan kebetulan acara yang terpampang di layar TV adalah FTV. FTV biasanya adalah kisah romansa ya..dan waktu itu adegannya tentang laki-laki yang tertipu dengan kekasihnya sendiri. Lalu secara spontan saya berkomentar, “makanya kalau cari jodoh itu wanita yang baik-baik.” Eh, lha kok si Adik nyeletuk. “Iya, Mi. Adik nanti kalau cari jodoh yang baik, yang cantik, yang pakai kerudung.” Diam beberapa detik.”Kayak Ummi.”  Entah mengapa hati saya langsung beristigfar karena saya merasa sangat jauh dari kata baik, meski bibir saya tersungging senyuman. Hati saya berkata, “Jangan, Dik. Jangan yang seperti Ummi. Ummimu ini jauh dari baik. Kamu harus mencari yang jauh lebih baik.” Dan lantunan doa untuk kebaikannya seiring hati saya yang menasehati diri sendiri.

Begitulah, dari semua ekspresi yang diungkapkan si Adik, saya adalah role model bagi dirinya. Dan mungkin seperti itu juga ibu-ibu di mata anaknya, karena mungkin lebih banyak waktu ibu yang dihabiskan  bersama anak-anaknya dibandingkan ayah – yang sebagian besar ayah di Indonesia adalah pekerja kantoran yang banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk mencari nafkah -.

Dari cerita ini saya hanya mengingatkan kepada diri saya sendiri, calon ibu dan juga ibu-ibu, bahwa benar sekali jika anak-anak itu suci, murni. Dan mereka seperti spons, yang menyerap apa yang didengar dan dilihatnya. Yuk, mari kita sama sma memperbaiki diri kita agar pantas dijadikan idola, teman/sahabat anak dan mungkin juga figur yang baik, contoh yang baik bagi anak-anak kita. Jika mungkin sudah banyak waktu yang terlewatkan, tak pernah ada kata terlambat selama hayat masih dikandung badan untuk memperbaiki diri, juga memperbaiki hubungan dengan anak. Semoga kita bisa. (end)

Seorang Ibu yang ingin berbagi cerita pada pembaca. Mencintai dunia baca dan tulis menulis. Berharap tulisannya bisa dinikmati dan bermanfat bagi pembacanya. Silahkan tinggalkan komentar di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: